HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

06 Desember 2007

Dari KTT PBB tentang perubahan iklim
Lokasi Konferensi Bebas Asap Kendaraan Bermotor 
Laporan Helda Margaretha Nusa Dua, Bali


Convention of Parties (COP) United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang diga-gas PBB melalui pembahasan tentang perubahan iklim di Nusa Dua, Bali sejak tanggal 3-14 Desember, memberi pela-ja-ran berarti bagi 187 negara di dunia atau sedikitnya 10 ribu peserta yang sepakat untuk mengedepankan kese-lamatan lingkungan.
Tak tanggung-tanggung se-bagai komitmen untuk meng-kampanyekan sikap ramah lingkungan, dalam iven ini, khususnya di lokasi di mana kegiatan dilaksanakan, sama sekali bebas dari asap atau emisi kendaraan bermotor. Sehingga tidak mengheran-kan jika suasana di Nusa Dua kembali pada suasana tempo doeloe. 
Betapa tidak, dalam penja-gaan yang superketat terse-but, kira-kira pada jarak dua kilometer dari Hotel Westin dan Sheraton, para delegasi tidak diperkenankan untuk menggunakan kendaraan bermotor. Sehingga tidak ada pilihan selain jalan kaki. Na-mun untuk mempermudah akses menuju lokasi panitia menyediakan sekitar 200 unit sepeda pancal. Jadi bagi pe-serta yang ingin sampai ke tempat tujuan, harus menga-yuh sepeda tersebut. 
“Selama pelaksanaan konfe-rensi, lokasi telah steril dari lalu lalang kendaraan bermo-tor. Dan sebagai gantinya adalah sepeda. Hal ini tidak lain sebagai upaya kampanye pada masyarakat untuk mem-budayakan diri bersikap ra-mah lingkungan dan sekali-gus juga sebagai penghema-tan,” tukas salah satu warga yang menilai bahwa hal ini sangat positif.
Menariknya, untuk menjaga segala sesuatu yang tidak di-inginkan, di sekitar lokasi pe-laksanaan telah dipagari de-ngan gulungan kawat. Bah-kan di ruas-ruas jalan strate-gis, penjagaan juga diperketat dengan aparat keamanan yang dilengkapi dengan senja-ta laras panjang. Sementara itu, delegasi dari Pemprop Su-lut yang mendapat undangan adalah Gubernur Sulut Drs SH Sarundajang dan Ketua Kapet Manado-Bitung, Dr Noldy Tuerah yang juga ter-kait erat dengan Sekretariat World Ocean Conference (WOC) tahun 2009. 
Dengan demikian, mereka dilengkapi dengan identity card. Sedangkan rombongan lainnya tidak diperkenankan untuk masuk dalam konferensi ini. Ka-rena tujuan rombongan guber-nur untuk hadir dalam konfe-rensi perubahan iklim ini, ada-lah untuk mendampingi guber-nur dalam Coral Triangle Initia-tive Meeting, di mana dalam ke-sempatan ini gubernur akan menyampaikan presentasi me-nyangkut masalah-masalah kelautan di hadapan sejumlah negara, antara lain Kanada, Amerika Serikat, Filipina, Ma-laysia, Australia, Papua Nugini, Timor Leste dan Indonesia yang rencananya akan dilaksanakan di Hotel Melia Nusa Dua, Bali, pada Kamis (06/12) hari ini pukul 09.00 WITA.
BAYAR
Negara dunia ketiga atau ne-gara-negara berkembang ti-dak boleh hanya menjadi tem-pat sampah bagi negara-nega-ra maju yang hanya mengha-silkan emisi karbon. Tetapi ju-ga harus mendapatkan keun-tungan dari usahanya meles-tarikan hutan guna mengura-ngi emisi karbon di udara yang dihasilkan oleh negara-negara maju. Demikian dite-gaskan oleh Ketua Delegasi Indonesia Emil Salim usai jumpa pers pertemuan UNCCC, di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Rabu (05/11).
“Jadi negara dunia ketiga bisa mendapat keuntungan, pertama keuntungan menu-runkan karbon, kedua men-dapat keuntungan teknologi tanpa bias dan ketiga capacity building,” ujarnya. 
Emil menegaskan, dari dulu memang negara-negara ber-kembang sudah menyerap karbon yang banyak diha-silkan oleh industri-industri di negara maju tanpa dibayar. “Oleh karena itu sekarang negara maju harus tetap me-nurunkan produksi emisi karbonnya, dan negara ber-kembang yang menyerap harus mendapatkan keun-tungan, karena itu kita menginginkan sekarang mere-ka (negara maju) untuk mem-bayar kepada negara berkem-bang,” tandasnya.
Ditambahkan Emil, filosofi yang diambil sebagai tuntutan Indonesia sebagai negara ber-kembang adalah dengan mem-buat karbon menjadi bernilai, sehingga upaya yang dilakukan oleh negara berkembang untuk mengurangi emisi karbon dapat berjalan.(**/sum)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin