|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
06 Desember 2007
|
|
Refleksi Peringatan Hari AIDS Internasional 2007
Manajemen Kepemimpinan Penanggulangan HIV-AIDS(2)
|
Mulai dari penjangkauan sam-pai pelayanan klinik VCT atau konseling dan tes sukarela yang terdapat di RS Prof Kandou Ma-lalayang, RS Prof Ratumbuy-sang Sario, RS Angkatan Darat Teling, RS Bethesda Tomohon, RSUD Manembo-nembo Bitung, KDS Batamang Plus, dan Yayas-an PKBI Sulut. Padahal keadaan ini sangat berpengaruh pada ke-beradaan kelompok dampingan termasuk ODHA dan OHIDHA. Meski demikian, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait seperti menutup mata dan tidak ada langkah untuk mengantisi-pasi kelanjutan program.
Begitu juga dengan kalangan legislatif yang lebih memilih si-buk dengan studi banding ke-timbang mengurus (Bahkan me-lihat pun tidak) program yang terhenti tersebut. Beruntung lembaga ini menyambung kem-bali bantuannya, sehingga pro-gram dapat berjalan seperti se-mula. Bisa dibayangkan sean-dainya bantuan ini tidak lagi di-lanjutkan.
STRANAS SEBAGAI ACUAN
Secara nasional sebenarnya pemerintah telah melakukan upaya untuk menyatukan per-sepsi dan penanganan masalah ini lewat menciptakan sebuah rumusan yang dinamai Strategi Nasional (Stranas) Penanggu-langan HIV-AIDS di Indonesia yang sudah ada sejak tahun 2004. Namun karena terjadi per-ubahan sistim pemerintahan menjadi otonomi, Stranas diper-barui menjadi Stranas 2003-2007. Pelaksanaan Stranas ter-sebut diakui oleh pemerintah be-lum sepenuhnya berhasil. Seba-gai penerusnya telah disusun Stranas yang baru untuk tahun 2007-2010 yang disiapkan seba-gai pedoman bagi pemerintah pusat dan daerah, masyarakat sipil serta mitra internasional da-lam upaya menanggulangi HIV-AIDS secara bersama-sama di Indonesia.
Di dalam Stranas diperkira-kan 4 tahun ke depan program akan mengalami tantangan yang beragam seperti: Norma-norma dan perilaku, koordinasi multi-pihak terhadap respons, ke-bijakan pengembangan pro-gram, kebutuhan remaja dan dewasa muda, risiko khusus yang dihadapi anak perempu-an, kebutuhan perluasan pera-watan, pengobatan dan dukung-an pada ODHA, masih adanya stigma dan diskriminasi ter-hadap ODHA, dan desentralisasi pemerintahan.
Untuk mengantisipasinya di-terapkan strategi sebagai beri-kut: 1. Meningkatkan dan mem-perluas upaya pencegahan yang nyata efektif dan menguji coba cara-cara baru. 2. Meningkatkan dan memperkuat sistem pelayan-an kesehatan dasar dan rujukan untuk mengantisipasi pening-katan jumlah ODHA yang me-merlukan akses perawatan dan pengobatan. 3. Meningkatkan ke-mampuan dan memberdayakan mereka yang terlibat dalam upa-ya pencegahan dan penanggu-langan HIV dan AIDS di pusat dan di daerah melalui pendidik-an dan pelatihan yang berkesi-nambungan. 4. Meningkatkan survei dan penelitian untuk memperoleh data bagi pengem-bangan program penanggulang-an HIV dan AIDS. 5. Memberda-yakan individu, keluarga dan ko-munitas dalam pencegahan HIV di lingkungannya.(Bersambung)
|
|