|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
07 Desember 2007
|
|
Menagih Janji Politik(1)
Oleh: Denni Pinontoan
|
KATA banyak orang, janji adalah utang. Itu kata banyak orang. Tapi, untuk sedikit orang, ya, mereka yang berkepentingan dengan kursi kekuasaan, janji adalah ucapan manis untuk menarik simpati dan dukungan. Barangkali, janji di podium kampanye hampir sama dengan janji seorang pria atau perempuan pendusta kepada kekasihnya.
Janji bulan madu di Bali, eh, ternyata bulan madunya di rumah menantu. Janji untuk setia sehidup semati, eh, cuma karena uang setumpuk lang-sung berpaling. Begitu juga janji seorang Roy Marten atau Fariz RM untuk tidak lagi menggunakan shabu. Janji mereka memang harus di-ragukan. Belajar dari penga-laman, bagi mereka janji ka-dang tinggal janji.
Tapi, janji seorang miskin untuk segera melunasi utang-nya kepada rentenir yang datang menagih, saya pikir tidak sama dengan janji po-litikus atau seorang kekasih atau juga seorang pecandu. Janji seorang miskin kepada rentenir, bukan utang, tapi memang sedang berusaha me-lunasi utang. Utang karena keterdesakan ekonomi.
Janji memang lebih mudah diucap dari pada dibuktikan. Padahal, janji politikus misal-nya, selalu yang indah-indah dan memang ideal. Akan me-lakukan inilah, itulah dan lain sebagainya. Yang tampak da-lam kampanye-kampanye, bah-wa pengumbar janji memang cuma sampai berjanji.
Tapi, untuk mendapat sim-pati dan dukungan, paling mudah dan jitu untuk dilaku-kan adalah mengumbar janji.
Yang menerima janji pun memang kebanyakan mudah terbuai dengan seribu janji manis. Sehingga janji dalam sebuah proses suksesi misal-nya, seolah-olah telah menjadi kodrat. Pun ketika kita bilang tak mau berjanji dan silakan lihat bukti nanti, itupun su-dah berjanji. Berjanji kepada penerima janji untuk melihat buktinya saja nanti.
Tapi apakah memang benar bahwa dalam sebuah suksesi harus ada janji? Kata teman saya, memang sudah begitu. Wow, bukankah kebanyakan yang terjadi, bahwa janji da-lam sebuah suksesi adalah utang yang tidak ada waktu batas akhir pelunasan. Bah-kan kadang memang menjadi utang sepanjang masa.
Janji sebenarnya adalah ko-mitmen yang tertunda, kalau orang yang menyatakan janji itu punya niat baik terhadap mereka yang menerima janji. Sehingga jangan dulu kita berpikiran negatif 100 persen dengan janji para calon pemimpin kita yang sedang berebutan kursi kekuasaan. Komitmen yang tertunda, itu definisi saya tentang janji, yang berarti bahwa sebenar-nya janji adalah juga sebuah maksud baik pribadi atau ke-lompok terhadap sebuah pe-rubahan dan pembaruan. Dan itu harus disampaikan ter-lebih dahulu kepada publik, mereka yang bakal terkait dengan janji itu agar mereka tahu bahwa ada komitmen yang akan dibuktikan nanti, kalau publik tertarik dengan janji itu.
Nah, di sini kita bicara juga publik atau mereka yang men-dengar dan menunggu pem-buktian janji itu?
Di mana posisi mereka ber-hadapan dengan para peng-umbar janji itu? Di belakang? Di depan? Atau berada di de-pan dan belakang tapi jauh jaraknya dengan pengumbar janji?(bersambung)
|
|