|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Pendidikan dan Budaya |
07 Desember 2007
|
|
Pendidikan Perbatasan
Harus Diseriusi
|
Ketertinggalan wilayah perbatasan di sektor pendidikan dibandingkan daerah lainnya di Sulut, menurut Pemerhati Pendidikan Sulut Ir Maurits Mantiri sudah seharusnya diseriusi oleh pemerintah, baik dari pusat, propinsi dan kabupaten/kota. Apalagi di Sulut ada dua wilayah yang langsung berbatasan dengan negara tetangga Filipina.
“Pendi-dikan di wilayah perbatas-an, seper-ti Pulau Marore dan Pulau Miangas harus di-seriusi. Dua wilayah ini setidaknya berdekatan dengan negara Filipina, perlu perhatian khusus agar beranda depan Indonesia ini ‘berharga’ dan disegani negara tetanga,” tukas Mantiri.
Menurut Mantiri, lemahnya pendidikan perbatasan akan berdampak pada citra bangsa di mata negara lain. “Apa jadinya jika pendidikan di wilayah perbatasan justru tak diperhatikan. Saya melihat, jika dibiarkan terus akan ber-dampak serius citra bangsa. Contohnya di Sipadan dan Ligitan apalagi Timor Timur. Ini satu realita yang tak ter-bantahkan saat sektor pendi-dikan itu diabaikan,” tegasnya.
Lebih lanjut kata Mantiri, ke-sejahteraan guru-guru perba-tasan harus ditingkatkan. “Bagaimana pun juga, mereka lah saat ini yang bertempur melawan ‘penjajah’ dan meme-rangi kebodohan. Mereka ini-lah yang menanamkan rasa cinta dan bela negara kepada anak-anak perbatasan. Jika tak ada yang mengajarkan hal itu, maka ancaman disinte-grasi bangsa pasti menjamur di semua wilayah perbatasan. Jadi tidak ada alasan untuk tak memperhatikan kesejah-teraan mereka,” tukasnya.
Apalagi saat ini lanjut Mantiri, kekurangan guru sangat terasa di wilayah tersebut. “Bahkan banyak yang mendekati masa pen-siun. Untuk menggantikan mereka, tentunya butuh guru yang mau berjuang ke per-batasan. Tapi bagaimana mau ke perbatasan jika kesejah-teraannya, megap-megap. Jadi sudah saatnya guru perbatas-an di Sulut ditingkatkan lagi kesejahteraannya,” pung-kasnya.(irv)
|
|