|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
11 Desember 2007
|
![]() |
Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim tengah digelar di Nusa Dua, Bali. Bisa jadi ini merupakan perayaan atas kemenangan Al Gore dan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dalam merebut Nobel Perdamaian 2007. Tapi, di AS sendiri perdebatan akan sahihnya teori ini masih belum usai. Pro-kontra bermunculan, baik secara ilmiah maupun politis, dengan berhadapannya teori pemanasan global versus terorisme global.
Secara umum, pertarungan dua wacana ini ditempatkan dalam dikotomi politik AS, yakni kaum konservatif, Partai Republik, yang secara umum lebih condong pada isu teror-isme. Sedang kaum liberal, Partai Demokrat, yang cende-rung percaya pada teori global warming.
Kaum konservatif berpanda-ngan bahwa aksi-aksi teror global adalah bentuk perla-wanan kelompok radikal ter-tentu terhadap Amerika Seri-kat. Scheuer (2004) mengata-kan, bahwa kebencian kelom-pok itu terhadap AS disebab-kan atas jati diri dan kebijak-annya, seperti gaya hidup, ke-bebasan, sampai pada keber-pihakan politik pada Israel. Maka, selama kelompok itu tidak bisa menoleransi peri-laku mereka, maka serangan teror dari kelompok ini masih menjadi ancaman. Bom yang meledak telah membunuh lebih banyak orang ketimbang pemanasan global.
Sementara kaum liberal ber-anggapan bahwa represivitas gerakan antiteroris pemerin-tahan Bush malah meningkat-kan kebencian terhadap AS. Le-bih dari itu, predikat AS sebagai negara kampiun demokrasi telah berubah menjadi negara yang haus perang. Sudah saat-nya pemerintah AS mengede-pankan isu yang lebih funda-mental dan universal, seperti pemanasan global, bukan hanya untuk keselamatan dan keamanan nasional AS.
Tidak hanya dalam tataran politik, secara ilmiah serangan terhadap teori global warming juga tak kalah tajam. CEI Environmental Studies Pro-gram mengatakan bahwa pemanasan global pada 1881-1993 adalah 0,54 derajat Cel-cius. Itu 70 persen dari ke-seluruhan pemanasan global yang terjadi hingga saat ini. Padahal dalam periode terse-but industri, green house dan semua aktivitas manusia, yang dituduhkan Al Gore, se-bagai penyebab pemanasan global belumlah terjadi. Hal ini diperkuat fisikawan S Fred Singer, yang mengatakan bah-wa global warming yang terjadi lebih disebabkan dari aspek alam dan perubahan posisi matahari dalam struktur tata surya. Lebih tajam lagi, bebe-rapa astronom telah melihat bahwa planet Pluto juga mengalami global warming sejak 14 tahun terakhir (Britt, 2002). Inti dari semuanya itu adalah tidak ada yang bisa dilakukan manusia dalam mengatasi global warming.
Dua Kemungkinan
Namun, sebuah pandangan rekonsiliasi yang berkembang cukup marak adalah tentang pembacaan dua kemungkinan buruk. Kemungkinan buruk pertama adalah bila teori global warming Al Gore salah dan kita terlanjur menggelontorkan dana untuk mengantisipasinya, maka risiko yang akan terjadi adalah krisis ekonomi massif. Kemungkinan buruk kedua, bila ternyata teori Al Gore benar dan kita terlanjur mengabai-kannya, maka akibatnya adalah kehancuran segalanya, tidak hanya ekonomi, tapi juga po-litik, sosial dan budaya.
Dari dua kemungkinan itu sudah pasti kemungkinan bu-ruk pertama jauh lebih aman ketimbang kita bertaruh un-tuk mengambil kemungkinan buruk yang kedua.
Lantas, bagaimana pengaruh pemilihan presiden AS pada 2008 terhadap dikotomi isu global warming versus global terrorism?
Selama dan setelah Perang Irak, kita bisa sama-sama me-nyaksikan bagaimana popu-laritas Presiden Bush menu-run tidak hanya di luar negeri, tapi juga di AS sendiri. Di jalan-jalan dan rumah-rumah masyarakat menyerukan agar pasukan AS ditarik dari Irak. Kondisi ini membuat banyak kalangan yang memprediksi bahwa Partai Demokrat akan menang mudah sebab citra buruk Presiden Bush, Partai Republik dan perang.
Kenyataan di lapangan sa-ngat kompleks. Misalnya, pe-rebutan kursi kandidat an-tara Barrack Obama dan Hi-llary Clinton. Obama memiliki pengikut fanatik sementara Hillary memiliki pembenci fanatik. Sehingga, bila Obama kalah dalam konvensi Partai Demokrat bukan tidak mung-kin pemilihnya akan menye-berang atau menjadi golput. Dua-duanya menguntungkan calon dari partai Republik. Dilema berikutnya adalah, bila Hillary yang terpilih maka citra demokrasi AS akan tercoreng, sebab perpindahan dari Bush-Clinton-Bush-Clinton menun-jukkan adanya politik aristo-krasi di AS. Partai Republik masih ada kemungkinan me-nang, artinya kebijakan anti-teroris masih berlanjut.
Katakanlah calon dari Partai Demokrat akan memenangi pilpres 2008, maka tidak ser-ta-merta calon yang memang akan menerima begitu saja ide global warming dari Al Gore. Sebab pemenang tentu telah memiliki agenda politik sen-diri. Mungkin akan terjadi ko-munikasi politik dengan di-mediasi partai. Tapi, itu akan memakan waktu cukup lama. Setidaknya penyamaan per-sepsi antara kedua orang be-sar, yakni Presiden AS ter-pilih dan Al Gore (Pemenang Nobel). Ini tidak mudah kare-na keduanya merasa memiliki legitimasi dan pride.
Belum lagi soal penataan or-ganisasi birokrasi atas per-ubahan besar dari kebijakan strategis antiteror ke kebija-kan strategis antipemanasan global, dua sektor yang sama sekali berbeda. Kita bisa ba-yangkan berapa banyak staf yang harus dipecat, struktur organisasi yang diubah, soft-ware yang diperbarui, dan se-bagainya. Intinya, kendati Partai Demokrat menang, isu global warming masih jauh untuk menjadi prioritas ke-bijakan luar negeri AS.
Apa yang harus dilakukan Indonesia? Pernah ada mata anggaran dalam APBD untuk penanggulangan teroris. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan antiteroris yang dikumandangkan Bush dari Washington DC telah jauh merasuk sampai ke APBD. Ini menunjukkan independensi kebijakan negara kita masih lemah, utamanya ketika ber-hadapan dengan kekuatan besar seperti AS. Seolah Indo-nesia tidak memiliki masalah-nya sendiri, seperti, kemiskin-an, rendahnya pendidikan, la-pangan kerja yang sempit, dan sebagainya.
Memang, ketika AS mema-sukkan kepentingan isunya (Baik itu antiterorisme mau pun pemanasan global) selalu juga disertai dengan bantuan dana. Tentu terlalu berlebihan bila kita melakukan tindakan go to hell with your aid, seperti yang dilakukan Rusia, Zim-babwe atau Venezuela akhir-akhir ini.
Sebab, jujur saja kita mem-butuhkan dana-dana tersebut untuk menggerakkan pemba-ngunan dalam negeri. Hanya, setidaknya kita bisa berdiplo-masi untuk mengatasi masa-lah-masalah dasar Indonesia.
Penulis Adalah Mahasiswa LBJ School of Public Affairs University of Texas at Austin.Pariwisata dan Kebersihan Lingkungan
|
|