|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Otonomi dan Suksesi |
12 Desember 2007
|
|
Harga Cengkih Naik Bukan Karena Perjuangan Kandidat Kepala Daerah
|
Sejumlah pengurus Forum Solidaritas Petani Cengkih (FSPC) menegaskan, kenaikan harga komoditi cengkih hingga menyentuh level Rp 40 ribu per kilogram, bukan karena faktor intervensi, melainkan akibat mekanisme pasar. Hal ini ditegaskan mereka menanggapi informasi yang mengatakan bahwa kenaikan harga cengkih di Sulut merupakan hasil perjuangan salah satu kandidat kepala daerah.
“Tidak benar jika kenaikan harga cengkih dikatakan ka-rena perjuangan kandidat ke-pala daerah di Minahasa. Itu informasi menyesatkan nama-nya. Harga cengkih naik mur-ni karena mekanisme pasar. Sekarang kan stok cengkih berkurang, jadi wajar saja ka-lau harga naik. Dan ini sudah menjadi tren setiap tahun,” tandas salah seorang pengu-rus FSPC, Paulus Sembel.
Karena itu, Sembel meng-ingatkan agar warga Kabupa-ten Minahasa yang saat ini se-dang menghadapi tahapan pil-kada tidak mudah terjebak de-ngan informasi yang menye-satkan. “Hebat sekali kalau ada kandidat bupati yang mampu mengintervensi harga cengkih. Pemprop Sulut saja yang sudah berjuang mati-matian tidak mampu men-dongkrak harga cengkih. Ini namanya mengada-ada. Saya harap warga jangan sampai terjebak dengan informasi yang menyesatkan seperti ini,” tukasnya.
Senada dikatakan Sekjen FSPC, James Sumendap SH. Menurutnya, kenaikan harga cengkih di daerah Sulut dika-renakan menurunnya perse-diaan stok.
“Kami sudah melakukan pantauan. Kenaikan harga cengkih tahun ini sama se-perti tahun-tahun sebelum-nya, yakni karena stok ber-kurang. Intinya, kenaikan harga cengkih tahun ini ka-rena mekanisme pasar, pa-parnya.(rol)
|
|