|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Pendidikan dan Budaya |
22 Desember 2007
|
|
Ketika
Ki Hajar ‘Mengejar’ Dewantara
|
KI Hajar Dewantara, merupakan sosok yang dikenal seluruh warga Indonesia. Tokoh Pendidikan Nasional yang dikenal dengan pendidikan Taman Siswa-nya ini merupakan Bapak Pendidikan Indonesia. Namanya pun dikenang sepanjang masa dan hari lahirnya dijadikan Hari Pendidikan Nasional Indonesia.
Ki Hajar Dewantara, nama ini bukan sekadar nama karena, namanya ini menjadi acuan pro-gram pendidikan nasional bahkan Sulut dimaknai untuk memotivasi warga belajar Indonesia untuk terus belajar.
Untuk konteks Sulut, kembalinya ‘Si Laptop’ (Julukan untuk Kadis Diknas Sulut, Drs Djouhari Kansil MPd, red), disinergikan dengan semangat Ki Hajar. Tak heran Langkah Pertama Top (Lap-top, red) Dinas Diknas Sulut sejak diserahterimakan jabatan kadis-nya dari Drs Alvius Lomban MSi ke Drs Drs Djouhari Kansil MPd adalah menggemakan semboyan Ki Hajar yang artinya KITA HARUS BELAJAR. Hampir di setiap mo-men, yel-yel Ki Hajar atau Kita Ha-rus Belajar dikumandangkan Kansil, untuk memotivasi anak-anak Sulut agar terus belajar. “Kita Harus Bela-jar diartikan dari nama Bapak Pen-didikan Indonesia atau kepanjangan dari Ki Hajar,” kata Kansil.
Hanya saja, ada yang terputus dari slogan Ki Hajar yang memang sangat baik dan positif untuk me-motivasi anak-anak di Indonesia khususnya Sulut agar terus belajar. Dan bukan bermaksud berpolemik soal pemaknaan nama Ki Hajar Dewantara, tetapi sebaiknya Ki Hajar jangan dipisahkan dengan Dewantara. Pe-nulis pun mengartikan satu kesinambungan nama Ki Hajar Dewanta-ra dengan satu arti yang klop dengan maksud dan tujuan program Depdik-nas/Diknas Sulut.
Anak bangsa bukan hanya terpaku pada pro-gram ‘KITA HARUS BE-LAJAR (KI HAJAR)’, tetapi harus dijelaskan apa maksud dari sema-ngat Ki Hajar itu. Maka-nya muncul satu slogan lagi, menyusul dari pemaknaan Ki Hajar=Kita Harus belajar, dengan pemaknaan Dewantara=DEMI WAWASAN TIADA TARA. Jadi mengapa anak bangsa dimotivasi KITA HARUS BELAJAR (KI HAJAR)? Tentu DEMI WAWSAN TIADA TARA (DEWAN-TARA).
Demi Wawasan Tiada Tara (Dewantara) ini setidaknya memiliki makna filosofis yang tinggi di mana wa-wasan, ilmu penge-tahuan, kepintaran su-dah termasuk pendidik-an mental spiritual, mo-ral, etika dan aspek-aspek pendidikan yang setidaknya menjadikan anak bangsa berilmu dan beriman tinggi se-bagaimana
visi-misi pendidikan nasional.
Sosialisasi program Ki hajar terus digemakan (semoga untuk target Dewantara). Tak pandang umur, intinya warga belajar harus menge-capi pendidikan untuk semua. Hasilnya cukup membanggakan, sebab review 2007 ini, capaian Pe-nuntasan Buta Aksara (PBA) Sulut sangat menggembirakan, di mana hampir tuntas paripurna yakni 99,01 persen. Di mana Sulut sen-diri, untuk penanganan Buta Aksa-ra 15 tahun ke atas sejak tahun 2005 telah mencapai angka pe-nuntasan 98,88 persen. Pada ta-hun 2006 mencapai 99,01 persen dan 2007 sudah 99,98 persen.
“Hal ini tercapai melalui aplikasi filosofi Sam Ratulangi Si Tou Timou Tumou Tou di mana Manusia hidup untuk menghidupkan manusia, juga peran keagamaan melalui ritual ibadah yang mengikutsertakan jemaat membaca Kitab Suci, peran masyarakat serta semua stake-holder,” jelasnya.
Bagi penulis program Ki Hajar akan tercapai jika diiringi dengan tujuan Dewantara. Tentu seiring program pendidikan untuk semua, ada target mewujudkan masyarakat Indonesia yang mengecapi akses pendidikan, pemerataan pendidikan untuk mewujudkan wawasan yang tiada tara itu.
Jangan sampai Ki Hajar tak memiliki tujuan Dewantara. Sebab yang akan muncul ada-lah Ki Hajar akhirnya mengejar Dewantara. Apalagi nama Bapak Pendidikan Nasional kita adalah Ki Hajar Dewantara yang artinya tentu adalah Kita Harus Belajar Demi Wawasan Tiada Tara. So… bagaimana program Ki Hajar yang digaungkan Depdik-nas/Diknas Sulut?? Apakah akan disinergikan dengan Dewantara?? Tentu itu dikem-balikan ke pengambil kebijakan, atau sebagaimana kata Tukul, kembali ke Laptop!(*)
|
|