|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
28 Desember 2007
|
|
Bhutto Tewas, Pakistan Rusuh
|
Pimpinan oposisi Pakistan, Benazir Bhutto dilaporkan te-was akibat sebuah serangan bom bunuh diri. Mantan PM Pa-kistan itu menghembuskan nafas terakhirnya setelah sem-pat dikabarkan mengalami luka-luka serius. Dalam be-rita yang dirilis oleh AFP, Ka-mis (27/12), Departemen Dalam Negeri Pakistan mem-benarkan kabar terbunuhnya Bhutto.
“Kemungkinan disebabkan bom yang ditempel di jaket pengebom bunuh diri yang mengenainya,” kata jubir Depdagri Pakistan Javed Cheema.
Serangan tersebut terjadi ketika Bhutto dan pendu-kungnya sedang mengadakan iring-iringan.
Akibat pemboman itu, sedi-kitnya 15 orang yang men-dampingi Bhutto ikut tewas, termasuk dokter dan juru bicara partai pendukung Bhutto. Ini merupakan sera-ngan yang kesekian kali ter-hadap Bhutto. 18 Oktober la-lu, Bhutto juga sempat dise-rang bom bunuh diri, namun berhasil selamat. Kali ini di-laporkan bahwa kematian Bhutto diakibatkan oleh luka peluru yang ditembakan.
Kekacauan benar-benar me-landa Pakistan setelah tewas-nya Benazir Bhutto. Selain di Peshawar, kerusuhan juga terjadi di kota-kota lainnya. Dalam pemberitaan AFP, Ka-mis (27/12), keadaan di Kara-chi benar-benar kacau balau. Sekurangnya 20 rumah diba-kar di berbagai tempat. 4 Polisi juga dilaporkan mengalami luka tembak setelah berusaha mengatasi kerusuhan.
Situasi serupa juga tampak di kota kelahiran pejabat se-mentara PM Pakistan di Jaco-babad. Di sana, kantor penga-dilan dan bangunan lainnya juga dibakar oleh massa.
Polisi Pakistan memastikan mantan Perdana Menteri Be-nazir Bhutto tewas ditembak oleh penyerang sebelum bom bunuh diri meledak. Peluru menembus leher pemimpin oposisi Pakistan itu. “Penye-rang menembak dan kemu-dian meledakkan dirinya,” kata salah seorang pejabat po-lisi yang keberatan disebutkan namanya.
Pembunuhan terhadap Be-nazir Bhutto itu terjadi di sebuah taman di Rawalpindi, Pakistan. Saat itu, Bhutto me-nemui para pendukungnya. Sesaat akan menyampaikan orasi di depan massanya, Bhutto ditembak dan terjatuh. Peluru menembus lehernya. Tak berapa kemudian, bom menggelegar dari arah pintu masuk taman itu. Sekitar 15 orang tewas terkapar dan banyak pendukung Bhutto terluka. Bangunan dan mobil-mobil yang terparkir di jalan raya pun terbakar dan hancur lebur. Bhutto sempat dilarikan ke RS. Namun, dokter tak bisa menyelamatkan nyawa Bhut-to. Tewasnya Bhutto membuat massa pendukungnya marah yang memicu kerusuhan di Pakistan.
Menyusul pembunuhan ter-hadap Bhutto, juga menda-tangkan reaksi dunia inter-nasional, termasuk kalangan politisi Indonesia. Anggota Komisi I DPR RI yang juga anggota Badan Kerjasama Antar Parlemen, Jeffrey Joha-nes Massie (JJM) mengatakan, apa yang terjadi atas Bhutto sangat disesalkan, sekaligus menunjukkan bahwa kala-ngan extremisme tidak meng-inginkan demokrasi terwujud.
’’Extremisme tidak mengenal demokrasi dan akan selalu menghancurkan upaya-upaya demokratisasi, karena penga-nut paham ini tidak bisa ber-kuasa di alam kebebasan. Pe-maksaan kehendak, exortion dan teror adalah satu-satunya yang dianggap tepat untuk mewujudkan keinginan me-reka dalam merebut kekua-saan,’’ tandas JJM.(cnn/*)
|
|