CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Minut
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

28 Desember 2007

Natal 2007, Melalui Jalan Lain(1)
Oleh: Josef Pernama Widyatmadja

 IKUTI BERITA LAIN

Kembalikan Natalku

SURAT PEMBACA

Manado, Kota Pariwisata Dunia yang Berbudaya Lokal

 COMMENTAREN

Natal dan Tahun Baru Momentum Perubahan

 
Mendengar suara tangisan Bayi di palungan dan taat pada pesan malaikat itulah makna Natal yang sebenarnya.

Peristiwa Natal yang ditulis dalam Injil Matius dan Lukas merupakan sebuah kisah ironis. Pertama, yang mencari bayi Mesias yang lahir bukan penduduk Yerusalem atau pe-mimpin agama Yahudi, tapi orang Majus dari Timur. Orang beragama yang tiap hari mem-baca Kitab Suci gagal menge-tahui kelahiran Mesias Raja Damai, sebaliknya orang Ma-jus mengetahui kelahiran Sang Mesias, tapi melalui tan-da-tanda bintang di langit. Ke-dua, dalam Injil Lukas, berita malaikat Tuhan “jangan takut“ bukan disampaikan kepada pemimpin agama di rumah sembahyang atau pembesar istana di Yerusalem, tapi ke-pada para gembala di Efrata. Para gembala mendapat per-hatian khusus dari Allah un-tuk menerima kabar “jangan takut” bukan para pembesar negara dan agama di Ye-rusalem. Para gembalalah yang berharap datangnya per-ubahan berupa kedatangan Kerajaan/Pemerintahan Allah.
Sindiran dan Teguran
Orang Majus bukanlah umat Allah keturunan Yakub, se-dangkan para gembala bu-kanlah kelompok manusia yang tiap pekan melakukan ibadah di rumah sembahyang. Kepada merekalah Allah me-nyapa dalam peristiwa Natal. Peristiwa Natal merupakan sindiran dan teguran Allah kepada mereka yang merasa mengetahui isi Kitab Suci, tapi gagal mengetahui kelahiran Mesias. 
Orang Majus salah alamat ketika bertandang ke istana Raja Herodes untuk mencari bayi Yesus. Bayi Yesus tidak di sana, tapi di tempat kumuh pinggiran kota Betlehem. Ru-mah sembahyang dan istana raja bukan tempat aman un-tuk menaungi bayi yang lahir kedinginan dan kelaparan. Is-tana dan rumah sembahyang telah berubah menjadi tempat kemunafikan dan persengko-kolan untuk membunuh bayi di palungan. 
Ketika manusia yang ber-kumpul di rumah sembah-yang dan istana tidak lagi peka terhadap krisis lingkungan dan kemiskinan maka Allah akan memakai jalan lain un-tuk menyapa manusia. Berita Natal yang disampaikan oleh orang Majus dan malaikat Tu-han merupakan berita buruk bagi para pembesar negara. Berita Natal yang di sampai-kan orang Majus dan para ma-laikat merupakan gugatan dan perlawanan terhadap he-gemoni dan supremasi keraja-an Romawi atas bangsa-bang-sa di dunia. Bukan Kaisar Pax Romana itu yang menjadi Tu-han, tapi Bayi di palungan. 
Kelahiran Sang Mesias me-niup seruling perdamaian dan keadilan untuk menggantikan genderang perang dan kela-liman yang ditabuh oleh pe-nguasa Romawi. Kemapanan dan keserakahan orang istana dan rumah sembahyang di Ye-rusalem menyebabkan mere-ka menjadi orang yang anti-perubahan dan tidak rindu ke-datangan Tuhan berupa pene-gakan keadilan. Keserakahan dan kemapanan telah menye-babkan mata pembesar tak mampu lagi melihat kemiskin-an, telinga mereka tak mampu mendengar tangisan dan hati nurani mereka tak peduli lagi atas penderitaan petani dan buruh migran, seperti Maria dan Yusuf.
Mendengar dan Taat 
Suasana istana Herodes ber-beda dengan suasana padang Efrata. Istana raja dipenuhi dengan kemewahan harta ha-sil pemerasan sedangkan pa-dang Efrata ditandai alam yang ramah dengan lingkung-an.(bersambung) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin