|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
29 Desember 2007
|
|
Benazir, Gadis Pintar yang Suka Pesta
|
MENGENYAM pendidikan di Oxford, Benazir Bhutto dike-nal pintar, tidak terbantah-kan, dan berani. Namun mantan PM Pakistan 2 kali itu juga dikenal sebagai cewek pesta! Besar di keluarga politikus, hidup Bhutto jauh dari kata damai. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, tewas di tiang gantungan pada tahun 1979. Dua kakak lelakinya tewas dibunuh. Namun di negeri orang tempat Bhutto mengenyam pendidikan, hidupnya terbilang ‘senang’.
Meski seorang Muslim, Bhutto remaja mengenyam pendidikan di sekolah Katolik ala Inggris di Pakistan. Setelah berusia 16 tahun, dia dikirim ke Radcliffe College di Cambridge, Massachussetts. Di sana, pertama kalinya Bhutto mengaku tidak meng-gunakan sopir ke mana-mana. Bukan karena tidak mampu, namun kala itu mu-sim dingin, sehingga dia harus berjalan kaki.
Kendati begitu, Nona Bhutto tetap fashionable. Pakaiannya berasal dari Saks Fifth Avenue, yang dikenal sebagai tempat belanja ‘wah’ di negeri Paman Sam. Hidupnya seperti remaja kaya-raya yang manja.
Setelah lulus dari Radcliffe College, darah politik di tubuh Bhutto bergolak. Dia melan-jutkan ke Oxford, Inggris, mempelajari ilmu hukum dan politik. Tentu saja dia ingin memasuki maraknya politik Pakistan, yang sudah menda-rah daging di keluarganya.
Di Oxford, gaya hidup Bhutto menggila. Belajar jalan terus, namun alkohol juga setia menemaninya. Kendati hal itu dibantahnya kemudian, Bhut-to dikenal suka dugem. Pulang dugem, biasanya dia kembali ke rumahnya dengan teman prianya. “Gaya hidupnya keti-ka di Oxford menjadi parodi gadis remaja Islam yang kaya yang baru melihat dunia. Ke-tika dia berpidato untuk menjadi presiden senat Ox-ford, dia menggunakan rumor tentang gaya hidupnya yang tidak Islami untuk menarik pemilih pria,” kata seorang teman Bhutto di Oxford, seperti diberitakan dailymail, Jumat (28/01) yang dilansir detik.com.
Sayang, jabatan ketua senat yang diincarnya melayang. Dia hanya menduduki peringkat ketiga di pemilihan yang per-tama kali diikutinya. Baru setelah dia mengambil S2 bi-dang Politik, Filosofi, dan Eko-nomi, Bhutto yang semakin matang berhasil mendapatkan jabatan penting di kampus ter-kenal itu.
Setelah 8 tahun meninggal-kan Pakistan, Bhutto kembali ke tanah airnya di tahun 1977 bertepatan masa studinya yang telah berakhir. Pada saat itu pula pemerintahan ayah-nya dalam kondisi krisis. Ke-senangan hidup yang serba wah pelan-pelan mulai hilang. Ayahnya tewas di tiang gantu-ngan pada tahun 1979, di Rawalpindi. Bhutto dan ke-luarganya harus merasakan ta-hanan rumah beberapa bulan kemudian, selama 6 tahun.
Dalam pengasingan di ru-mahnya, Bhutto jatuh sakit. Sakitnya yang terbilang payah membuatnya diizinkan menja-lani perawatan di Inggris. Bhut-to baru kembali ke Pakistan tahun 1986 dan mendapat sambutan meriah pendukung-nya di Lahore. Dia kemudian menjadi Perdana Menteri Pakistan.
Dan setelah tidak menjabat, Bhutto menghilang dan kemu-dian mencoba beradu kembali dalam politik tahun 2007 ini, terutama menyambut Pemilu Pakistan Januari 2008. Tapi nasibnya naas. Benazir tewas ditembak bersamaan aksi bom bunuh diri. Dia kemudian di-juluki media sebagai Putri Rakyat Pakistan.
Julukan Putri Rakyat Pakis-tan itu mengingatkan pada Putri Diana yang juga mene-mui ajal dalam tragedi kece-lakaan. Diana mendapat julu-kan ‘Putri di Hati Rakyat’. Ber-bagai pujian dan penyesalan menghiasi wajah media massa atas kematian Bhutto. Salah satu media memuji Bhutto mempunyai karisma dan semangat luar biasa dan di atas rata-rata.
Media Inggris berpendapat bahwa kematian Bhutto ha-rusnya tak menjadi ancaman pemilu di Pakistan pada Ja-nuari 2008, sebagai penghor-matan atas perjuangan Bhut-to. Tabloid The Sun dalam editorialnya mengatakan bahwa kekejaman itu tidak bisa diremehkan, dan Pemilu Pakistan dalam bahaya.
Presiden Pervez Musharaff, ujar The Sun, harusnya tidak mengacaukan pemilu secara keseluruhan dengan menggu-nakan kembali hukum anti kekacauan. Kevakuman politik dan kekerasan yang tak dapat dihindari akan memperkuat terorisme. “Harapan Pakistan yang rapuh akan demokrasi telah mati kemarin. Tapi idea-lisme Bhutto harus diterus-kan, demi penghormatan un-tuk negaranya dan dunia,” ujar The Sun.
Sementara The Times me-nyebutkan pembunuhan Bhutto sebagai skenario mimpi buruk, dan menghalangi yang lain masuk ke dunia politik di Pakistan. “Pembunuhan Bhut-to didesain untuk menghan-curkan hak Pakistan untuk memilih. Untuk menghorma-tinya, Pakistan harus mem-buktikan bahwa demokrasi harus selalu menang dari pem-bunuh ekstremis,” tulis The Times.
Sedangkan The Daily Mail mengatakan, pembunuhan Bhutto harus membuat Presi-den Pervez Musharaff memper-cepat penegakan demokrasi di negaranya. “Musharaff harus-nya menerima bahwa harapan terbaik stabilitas jangka pan-jang adalah reformasi. Gera-kan cepat menuju masyarakat sipil harus ditegakkan untuk mengenang Bhutto,” kata dia.
Bisa dimengerti bila media di negeri Ratu Elizabeth itu sa-ngat kehilangan, karena Bhut-to adalah hasil didikan pergu-ruan tinggi prestisius di Inggris, Oxford University, dan menjadi Presiden Himpunan Mahasiswa Debat di kampus itu. Bhutto juga pernah tinggal selama 10 tahun di Ing-gris.(dtc/sum*)
|
|