|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Hukum dan Kriminal |
29 Desember 2007
|
|
Bila Aparat dan Rohaniwan Lakoni Aksi Kriminal
|
TAK bisa dipungkiri oknum aparat polisi dan TNI (om pol) merupakan pilar terdepan dalam penegakan dan pengayoman hukum. Begitupun dengan oknum rohaniwan (om ron), dipandang sebagai benteng moral spiritual bagi masyarakatnya yang dililit pergumulan dan cobaan.
Tapi apa jadinya jika oknum aparat dan rohaniwan justru tidak lagi menjadi penegak ser-ta pemberi perlindungan hu-kum dan moral bagi masyara-kat? Yang lebih memiriskan lagi, oknum aparat dan rohani-wan menjadi pelaku tindak kriminal?
Tapi itulah yang terjadi di se-panjang tahun 2007. Tercatat, ada sejumlah oknum polisi dan TNI yang jelas-jelas terlibat da-lam aksi kriminal yang dilaku-kan terhadap orang lain. Di antaranya kasus pencabulan, kasus pelecehan seksual, peng-edar narkoba, kekerasan da-lam rumah tangga, pembunuh-an terhadap sang istri, perju-dian, penganiayaan, pengge-lapan dan sebagainya dengan beragam penyebab. (Secara lengkap lihat tabel)
Aksi ‘lompat pagar’ aparat yang menonjol dan menghe-bohkan dilakukan Bripda BT alias Ben (30), yang menembak istrinya Morarisma Kause (25) hingga tewas dalam kamarnya di Aspol Paniki, dua hari men-jelang Natal.
Tak kalah sadis juga kisah oknum TNI AD anggota Yon 405 SK Cilacap, Merdi Arundaa yang membunuh mahasiswi Politeknik Kesehatan Manado Jurusan Keperawatan, Dina Ngala (19) yang adalah mantan pacarnya. Insiden itu berakhir tragis lewat aksi bunuh diri ter-jun bebas dari atas tower TVRI Manado di Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala.
Memiriskan. Padahal, tugas utama aparat kepolisian dan TNI adalah melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat. Tapi dengan rentetan kasus yang diperankan sejumlah personel polisi dan TNI, meng-gambarkan cukup banyak apa-rat yang telah lari dari tugas utamanya.
Di sisi lain, sejumlah oknum rohaniwan seakan tak risih rame-rame turut melakoni aksi amoral. Tercatat, dua oknum rohaniwan dilaporkan ke apa-rat kepolisian karena diduga terlibat perselingkuhan, cabul dan perkosaan. Tora (70) dan Rocky (40) adalah dua rohani-wan yang seharusnya menjadi sumber kekuatan spiritual dan moral bagi masyarakat. Sa-yang, dorongan seksual yang sangat kuat membuat kedua-nya akhirnya menjauh dari tu-gas utamanya sebagai pelayan masyarakat.
Tora, lelaki yang sudah ber-umur namun tega merusak masa depan sejumlah bocah ABG (Anak Baru Gede), se-dangkan Rocky tak kalah se-ru, diduga menyelingkuhi istri petugas kostor yang sehari-harinya membantu pela-yanannya.
Tinggal pertanyaan refleksi, jika ke depan masih muncul om pol dan om ron baru yang tak mau kalah dengan pelaku kriminal lainnya, ke mana lagi masyarakat akan berlindung dan mencari panutan moral?(***)
Oleh: Simon Making
|
|