HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

14 February 2007

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946(1)

 IKUTI BERITA LAIN

Kotamobagu, Antara Hidup dan Mati(2)

SURAT PEMBACA

Pacuan Kuda Tempat Pejabat Tontonkan Kemewahan

 COMMENTAREN

Menanti Sekprop Sulut yang Baru


PERISTIWA Merah Putih 14 Februari 1946 merupakan salah satu mata rantai peristiwa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945, yang telah terjadi di beberapa tempat dalam lingkungan wilayah Indonesia, antara lain: (1). Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, (2). Palagan Ambarawa di Jawa Tengah, Desember 1945, (3). Pertempuran Medan Area di Sumatera, Desember 1945, dan (4). Bandung Lautan Api di Jawa Barat, Maret 1946, satu bulan sesudah Peristiwa Merah Putih di Manado 14 Februari 1946.


Namun Peristiwa Merah Pu-tih 14 Februari 1946 di Mana-do memiliki sifat unik karena merupakan satu-satunya kejadian di mana Pucuk Pim-pinan Komando Militer dan Pemerintahan Sipil Belanda pada tingkat regional dapat ditawan selama beberapa waktu oleh para Pejuang Indo-nesia sesudah terjadi perebu-tan kekuasaan atau kudeta yang menumbangkan kekua-saan pemerintahan penjaja-han Belanda. Peristiwa itu merupakan suatu “pemberon-takan di dalam kandang singa Belanda” yang berhasil, se-perti diungkapkan LN Palar, mantan Wakil Tetap Indonesia di PBB, pada upacara peringa-tan Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1988 di Jakarta.
Keberhasilan kudeta terse-but telah mengakibatkan ter-jadinya perubahan yang men-dasar dalam waktu relatif sing-kat atau perubahan yang ber-sifat revolusioner dalam sistim pemerintahan/ketatanega-raan setempat. Karena se-minggu kemudian sesudah kudeta itu, maka “Pemerintah Merah Putih” yang dibentuk oleh para pelakunya, telah men-cetuskan pernyataan bahwa Daerah Sulawesi Utara (eks Keresidenan Manado yang me-liputi Sulawesi Utara dan Tengah) yang berpusat di Kota Manado. secara de facto telah menjadi bagian dari Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta.
Pernyataan tersebut telah memperkuat tuntutan kemer-dekaan penuh bagi seluruh bangsa Indonesia dalam rang-ka perundingan awal yang se-mentara berlangsung antara Delegasi Pemerintah RI dan Delegasi Pemerintah Belanda pada bulan Februari-Maret 1946 di Jakarta, di mana turut hadir seorang Utusan/Wakil Inggris sebagai penengah, sehingga masaalah kemerde-kaan Indonesia mendapat perhatian lebih besar dunia internasional yang di kemu-dian hari akan meningkat berupa dukungan dan peng-akuan terhadap Negara Indo-nesia yang merdeka dan ber-daulat.
Situasi politik sebelum terja-dinya Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946. Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 hanya berlangsung selama 25 hari yang terjadi 6 bulan sesu-dah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan 4 bulan sesu-dah kedatangan Tentara Sekutu/Belanda di Manado/Minahasa pada awal Oktober 1945. Selama masa peralihan itu belum terjadi perlawanan rakyat secara fisik/bersenjata karena tiga hal:
(1). Sejak medio 1944, tenta-ra Jepang mulai mengalami kekalahan di wilayah Pasifik Selatan. 
Tentara Sekutu dbp Jenderal Mc Arthur yang melakukan serangan balik dari Australia terus menggempur dalam Operation Leap Frog menuju Tokyo, merebut Rabaul dan Holandia (sekarang Ja-yapura) serta Morotai sehing-ga Jepang terdesak mundur dan kini terkonsentrasi di Mi-nahasa. 
Dengan demikian Minahasa menjadi bagian dari front terdepan pertahanan Jepang sehingga mengalami pembo-man siang malam oleh pesa-wat terbang Sekutu yang ber-pangkalan di Morotai. 
Pemboman gencar dengan pesawat B-29 yang sangat ampuh itu baru berhenti pada medio Agustus 1945 dengan terjadinya kapiluasi Jepang. Tetapi di Minahasa pada waktu itu sudah berada satu divisi tentara Jepang berke-kuatan 8000 orang yang ter-konsentrasi di Girian, siap tempur dengan persenjataan lengkap untuk menghadapi kemungkinan invasi Pasukan Sekutu.(bersambung) 

(Disadur oleh C Kowaas dari buku dengan judul yang sama, Penerbit Korps Pembangunan Merah Putih 14 Februari 1946 Dewan Harian Khusus DKI Jakarta, Disusun oleh Dewan Redaksi Dan Tim Penulis KPMP).

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin