|
|
|
![]() |
![]() |
|
Freddy Roeroe
‘Bergetar’ Hadapi Anak Satal di Filipina
|
KALAU melihat Freddy Roeroe berburu berita, itu pasti sudah biasa. Fighting spirit-nya luar biasa. Indepth news yang dikedepankan, so pasti mendalam dan sarat gagasan dan pencerahan. Tapi, menjadi seorang guru dan benar-benar mengajar di depan kelas di antara murid-murid SMU, jelas bukan pemandangan biasa. Dan, pria yang lebih sepertiga usianya diisi dengan pengabdian di dunia pers itu, tak memungkiri, betapa pengalaman itu cukup ‘menggetarkan’.
Pengalaman menjadi guru (benar-benar melakoni tugas seorang guru), mungkin memang bukan baru sekali. Tapi, menghadapi sekumpulan anak remaja berseragam SMU, diakuinya memang selalu ‘menyimpan tantangan’ tersendiri. Itu pula yang dirasakan Freddy Roeroe ketika diminta menjadi ‘guru tamu’ (insidentil) bagi murid-murid SMU Sekolah Indonesia di Davao City, Filipina, pekan lalu. “Pengalaman itu selalu jadi sangat menantang. Ternyata memang, menjadi guru itu tak mudah. Karena itu, sudah sepantasnya setiap orang memberi penghargaan lebih pada para guru,” katanya usai memberi materi singkat seputar Dasar-dasar Jurnistik. Freddy sendiri mengaku, satu-satunya pengalaman yang cukup banyak dimiliki dalam hal mengajar adalah ketika menjadi Guru Sekolah Minggu, semasa remaja/pemuda.
Pengalaman Freddy Roeroe ini menjadi ‘sedikit lebih sulit’ karena murid yang dihadapi tak seratus persen menguasai Bahasa Indonesia. Maklum saja, murid-murid di Sekolah Indonesia yang dikelola Konsul Jenderal RI (Konjen) di Davao City hampir seluruhnya adalah anak-anak Indonesia (berdarah Sangihe dan Talaud) namun lahir dan tumbuh di Mindanao Selatan yang bahasa sehari-harinya menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Tagalog dan Bisaya. Sekolah itu sendiri, menurut pejabat teras Konjen, Minister Counsellor-Consul, Erwin Sjamsawir Sjamsu Alam dan Consul/Second Secretary, Bambang Gunawan, dibuka sejak 14 Juli 1987 dan direnovasi kembali serta diresmikan 25 Juli 2006. Sekolah dengan 16 orang guru itu melayani 58 siswa SD, 39 siswa SMP dan 38 siswa SMU.
Yang mudah, tentu saja karena Freddy diminta mengajar oleh salah seorang guru di SMA itu --Ilma Emilia— seputar seluk-beluk jurnalistik dan kewartawanan. Alasan si ibu guru, karena dalam kurikulum sekolah itu memang ada materi tentang itu, sehingga menjadi sangat berarti ketika disampaikan langsung oleh pengajar yang berlatarbelakang jurnalistik praktis. Namun, dalam penyajian, tetap saja Freddy mesti sangat selektif dan sistematis memilih kata agar gampang dicerna para siswa. Karena itu, sesekali Freddy mesti mengkombinasikan bahasa yang digunakan (bahasa Indonesia plus Inggris) guna menegaskan apa yang disampaikan.
Dalam konteks itu pula, Freddy yang dikenal sebagai wartawan senior surat kabar nasional terbesar, Kompas, serta senantiasa ‘mengambil hikmah’ dari apa yang dilakoninya, dengan mantap menilai betapa penguasaan bahasa internasional (Inggris) sangat penting artinya bagi generasi muda di Sulut. “Juga bagi para birokrat. Karena Sulut sekarang dan masa yang akan datang harus siap dalam mengarungi pergaulan internasional. Itu bila kita ingin maju,” katanya.
Gagasan pun segera meluncur dari benaknya. “Pemprop Sulut saya kira bisa mulai merancang semacam program magang bagi para birokratnya untuk belajar bahasa internasional, khususnya di Filipina selatan. Selain relatif dekat (dapat ditempuh hanya dengan waktu satu jam 10 menit dari Manado dengan Sriwijaya Air tiap Senin dan Kamis), juga kualitas dan kesempatan untuk mempercepat penguasaan bahasa dapat dipertanggungjawabkan,” kata dia.
Argumentasi Freddy cukup beralasan. Sebagai perbandingan, salah seorang guru di Sekolah Indonesia itu, Jackson Arore –pria asal Bitung beranak dua—mengaku hanya butuh waktu sekitar enam sampai sembilan bulan untuk menguasai bahasa Inggris dan bahasa setempat. “Hal itu mungkin karena memang kita secara otomatis dipaksa harus menguasai bahasa sehari-hari di Filipina karena tuntutan lingkungan sekitar,” kata Arore dalam percakapan terpisah.
Selain itu, Freddy juga sependapat, dunia pendidikan di Sulut bisa juga meancang program khusus bagi siswa-siswanya dalam hal penguasaan bahasa asing. “Pengalaman beberapa mahasiswa dan guru di Sekolah Indonesia memberi pelajarab berharga betapa siswa-siswa kita di Sulut juga sebetulnya bisa lebih cepat menguasai bahasa asing bila mendapat kesempatan beradaptasi dan belajar di Filipina selatan ini, khususnya di Davao City,” tukasnya.
Freddy sendiri, meski sudah cukup berusia (tahun ini akan genap berusia 60 tahun), mengaku masih tertantang untuk kembali ke Davao guna memperlancar penguasaan bahasa asing. Apalagi, dia juga menyimpan obsesi untuk menyiapkan sebuah wahana khusus semacam pusat studi, untuk dipersembahkan bagi rakyat Sulut di kemudian hari. “Sebab wartawan bukan sekadar bisa menulis berita, tapi juga harus membawa serta visi kebenaran dan pencerahan bagi masa depan lebih baik umat manusia. Ya, karena pers juga sebetulnya mengemban tugas seorang guru, meski media dan pola kerjanya berbeda,” tandasnya. Semoga! (landywowor)
|
|