HOME : FOOTBALL

Berita Panggung Politik

16 February 2007

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Kesaksian seorang Vonnie Anneke Panambunan 

 

 IKUTI KOLOM TABEA

   

Survive Berkat Kekuatan Doa dan Puasa
GARIS tangan seseorang memang sulit ditebak. Hidup itu ibarat roda yang terus berputar, kadang di bawah dan suatu saat bisa berada di atas. Namun satu hal yang pasti, setiap orang pasti memiliki pergumulannya sendiri-sendiri. Yang membedakan kita, adalah sejauh mana ketabahan kita menghadapi ujian dalam pergumulan hidup tanpa melupakan Tuhan. 

Inilah salah satu filosofi ke-yakinan yang dipegang erat sosok Vonnie Anneke Panam-bunan. Wanita populis yang kini dikenal sebagai Bupati Mina-hasa Utara ini, memiliki pe-ngalaman hidup yang menarik untuk diceritakan. Sewaktu mu-da, Vonnie mengakui hidupnya tidak berjalan sesuai impian anak muda yang penuh kece-riaan. Banyak kegetiran hidup yang harus dilakoninya. Namun diakuinya, itu semua merupa-kan ujian Tuhan yang mampu membuatnya tegar hingga saat ini. 
Di usianya yang masih belia, 18 tahun, Vonnie dipinang se-orang pria. Namun mahligai ru-mah tangganya tidak berjalan mulus. “Mendapat suami tam-pan dan berasal dari orang ber-ada, ternyata tidak menjamin sebuah kebahagiaan,’’ katanya. suaminya seakan melupakan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Padahal dari cinta kasih mereka, telah lahir putra putri yang lucu-lucu, Cynthia dan Daniel. 
Ketika orang lain menjalani kehidupan dalam sebuah ke-luarga yang penuh kasih dan kehangatan seorang suami, Vonnie malah harus berjuang membesarkan kedua anaknya sendiri. Dan yang memiriskan, itu harus dimulainya ketika melahirkan buah hatinya. “Se-waktu melahirkan anak, saya tidak punya apa-apa. Anak su-dah mau lahir, tapi popok tidak ada. Bahkan seusai melahirkan, baru bisa keluar rumah sakit setelah mama saya membayar dengan sekarung langsat,’’ ungkap wanita kelahiran 6 Oktober ‘45 tahun silam ini. 
Namun itu bukanlah akhir dari kegetiran hidupnya, melain-kan sebuah awal dari per-juangannya untuk survive sebagai seorang ‘single parent’ dalam membesarkan anaknya di tengah kerasnya panggung ke-hidupan. Diakui Vonnie, kedua orang tuanya bukan berasal dari keluarga berada. Sehingga dirinya tidak bisa bersandar pada keluarganya. Tak heran, Vonnie pun menuju Jakarta untuk bertarung melawan hidup. “Di Jakarta saya bekerja sambil membesarkan anak-anak saya dan tinggal dari satu tempat kos ke tempat kos lainnya.’’
Hidup di kamar kos yang kecil bertiga memang berat, namun semuanya itu dijalaninya de-ngan tabah. Makan pun kadang sehari sekali. “tu pun sering hanya makan nasi dan kecap,’’ kata wanita yang tetap terlihat cantik dan enerjik ini. Tapi semua itu mampu dilewatinya dengan tabah. Baginya ada dua ‘senjata’ yang membuatnya tetap eksis dalam menggumuli hidup yang getir dan keras. “Itu adalah kekuatan puasa dan doa kepada Tuhan,’’ kata ibu yang tetap menjanda hingga saat ini.
Berkat doa dan puasa itu jugalah diamini Vonnie mampu merubah jalan hidupnya. Secara perlahan, dia berhasil merintis bisnisnya yang awalnya adalah seorang broker. “Itu semua ber-kat pertolongan Tuhan.’’ Vonnie bercerita, kemanapun dia be-pergian tidak membuatnya takut berkat kekuatan doa. Malah tanpa dilengkapi kemampuan bahasa Korea atau Inggris seka-lipun, dia mampu menginjak-kan kaki di Negeri Ginseng dan Paman Sam (Amerika Serikat) seorang diri. 
Kesuksesannya dalam bisnis, tidak membuatnya lupa sega-lanya. Malah kehidupan susah yang pernah dialaminya, mem-buatnya lebih peduli terhadap sesama. “Tuhan telah memberi-kan saya berkat yang melimpah, dan ini harus saya salurkan untuk orang lain yang membu-tuhkan,’’ katanya seraya mengatakan, jangan pernah ‘bermain-main’ dengan sebuah nazar kepada Tuhan. 
Oleh sebab itu, meski telah sukses dalam bisnis, dirinya tidak lupa untuk memberi diri pada Tuhan dan orang lain. Sekolah Alkitab pun dijalaninya. Meski tidak harus menjadi pendeta, namun kini Vonnie mengaku bersyukur karena mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat bagi sesama dalam jabatannya sebagai bupati. 
‘’Saya juga mencalonkan diri jadi bupati karena petunjuk Tuhan,’’ akunya. Oleh sebab itu, sepanjang apa yang dilakukannya benar bagi Tuhan dan orang banyak, dia tidak takut disoroti. Malah mendengar ada yang menjelekkan namanya, Vonnie bukannya memasang jarak, melainkan mendoakan orang tersebut. ‘’Kalau ada yang menjelekkan, saya sudah biasa. Du-lunya saya sudah per-nah me-ngalami hidup yang lebih sulit,’’ ungkap bupati yang tidak melupakan puasa ini. Bagi Vonnie, dalam ke-hidupan ini hanya dua yang ditujunya, yakni ke-sehatan dan kesela-matan. Harta bagi-nya tidak kekal, karena saat ajal men-jemput, semua itu pasti akan ditinggal-kan. “Harta tidak dibawa mati,’’ aku wanita yang berfilo-sofi bahwa Tuhan adalah nomor satu dalam hidup, dan orang tua, terutama ibu adalah ‘Tuhan kedua’ di muka bumi ini. (friko poli/*) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin