HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

04 January 2007

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Sulut Tempat Pelemparan Hasil Dari Pulau Jawa?

 IKUTI BERITA LAIN

Tahun 2007 Sulawesi Utara Bebas Kemiskinan

SURAT PEMBACA

Tahun Baru Kota Manado Perlu Pembenahan

 COMMENTAREN

LI 2007 Siap Action 


Pendahuluan
Ilmu Ekonomi termasuk ilmu yang punya banyak teori. Ada teori dasar seperti Mekanisme Pasar, teori tentang Pengorbanan sekecil-kecilnya dengan hasil sebesar-besarnya, teori Every supply creates its own demand, dll.
Ada pula teori yang berkaembang seiring dengan perjalanan waktu seperti teori U Shaped theory dari Kuznets dan banyak lagi yang lain.
Pada kesempatan ini saya ingin mengulas beberapa teori yang mungkin kena mengena dengan kondisi ekonomi di Sulawesi Utara. Rasanya ini menarik untuk kita simak bersama, karena dari ulasan-ulasan tersebut, kita bisa lihat bahwa Propinsi kita ini “hanya” menjadi tempat pelemparan hasil dari pulau jawa pada umumnya. Pendapatan kita yang berasal dari sektor riil seperti sektor pertanian pada umumnya industri kecil, sektro pertambangan dan sektor pariwisata serta bantuan Pemerintah pusat berupa DAU adan DAK, semuanya rakyat Sulut belanjakan untuk sandang, sebagian sandang, sebagian papan (besi beton dll) hasil industri manufaktur dari Pulau Jawa, hal ini kita kenal dengan konsumsi dan sebagian ditabung kemudian dikucurkan lagi dalam bentuk kredit modal kerja.
Beberapa Teori Ekonomi Yang Mempengaruhi Ekonomi Sulut
Mari kita telaah beberapa teori yang mempengaruhi ekonomi Sulut. teori itu adalah subtitusi impor atau bila kita di daerah adalah subtitusi antar pulau masuk. Artinya kalau barang-barang yang selama ini kita masukkan dari luar propinsi Sulut, maka akan sangat baik bagi ekonomi Sulut apabila barang-barang tersebut dapat kita buat sendiri di daerah ini.
Selanjutnya ada kaitan dengan teori substitusi antar pulau masuk tersebut diatas, yakni teori comparative advantage dan teori competitive advantage. Kedua teori ini berbicara mana lebih baik atau menguntungkan barang A kita masukkan dari luar dan kita konsentrasi memproduksi barang B di Sulut.
Contoh konkrit adalah beras kita tetap masukkan dari Makasar/Surabaya dan lahan padi yang ada di Sulut kita tanami cengkeh dan atau kelapa, jagung.
Kemudian kita lihat teori Forward dan backward Linkage. Kedua teori ini mengajarkan tentang dampak dari penanaman modal, baik kedepan (Forward) maupun kebelakang (Backward).
Sulut sebagai Tempat Pelemparan Hasil
Bila kita perhatikan perkembangan Kota Manado sejak dulu terlebih akhir-akhir ini banyak bermunculan Mall dan toko-toko disepanjang kawasan reklamasi/Boulevard.
Banyak memang, tetapi coba kita teliti dengan seksama, hampir semua barang dagangan yang dijual di mall-mall atau toko-toko tersebut, termasuk supermarket dan toko-toko lainnya dalam Kota Manado berasal dari Pulau jawa. Ini berarti bahwa kita di Sulut hanya menjadi tempat pelemparan produksi barang dari pulau jawa.
Apa implikasinya atau apa yang terjadi dengan daerah kita dan bagaimana dampaknya di daerah penghasil produksi barang di Pulau Jawa?
uang kita di Sulut yang berasal dari sektor pertanian pada umumnya (Tanaman Pangan, Peternakan, Perikanan, Perkebunan ) PAD, DAU, DAK, hasil ekspor, hampir semua menjadi konsumsi dan uang-uang itu mengalir ke Pulau Jawa. Ada sebagian yang ditabung tetapi kemudian oleh puhak perbankan dikucurkan kembali berupa kredit modal kerja dan bukan kredit investasi, kalau toch ada tidak seberapa besar. Yang terjadi pembangunan ruko dan mall di kawasan reklamasi/Boulevard, kontribusinya terhadap PDRB baik harga konstanmsupun harga berlaku hanya sekitar 10%.
Teori Backward Linkage ini sangat menguntungkan daerah produsen karena akan terjadi peningkatan permintaan barang baku dan tercptanya lapangan kerja yang lebih banyak.
Sedangkan kita di Sulut hanya menikmati Forward Linkage, yakni kesempatan kerja berupa sales girls/pelayan toko, pembuat batu bata, penggarap pasir/batu dan tentunya ada peningkatan permintaan batu bata, pasir, dan batu kasar/kerikil.
Sebelumnya sudah saya kemukakan hampir semua (mendekati 100%) barang yang dijual di mall-mall, supermarket, dan toko-toko di Manado berasal dari pulau jawa karea sesungguhnya hanya sedikit barang yang diproduksi di Sulut terpampang atau dijual di tempat-tempat tersebut. yang jelas terlihat produksi lokal Sulut adalah Kasegaran, ikan mentah, daging, cakalang fufu, sayur kangkung, caisin, petsai, kacang panjang, daun ubi, ketimun jepang, wortel, booncis, kol/bunga kol, sedikit kailan, bruine boon sedangkan untuk buah-buahan adalah pisang, pepaya kemudian buah musimanberupa mangga, duren, rambutan, ada juga roti, biscuit, pepaya tono, rujak, pada parepei, umbi-umbian, ikan kaleng, dll.
Produksi lokal Sulut yang dijual di toko-toko tersebut, kontribusinya ke PDRB Sulut sangat kecil, hampir tidak ada artinya.
Bila demikian keadaannya, maka kita harus berupaya hendaknya barang-barang yang selama ini dimasukkan ke Sulut (antar pulau masuk) harus dapat kita hasilkan didaerah ini, walaupun untuk tahap awal jenisnya sedikit.
Mampukah Sulut Mengatasinya?
Untuk membahas hal ini kita perlu membatasi dari pada sandang, pangan, papan, dan industri manufaktur. Pembatasan ini dimaksudkan agar kita bisa melihat lebih dekat produksi apa yang dapat kita hasilkan untuk memenuhi kebutuhan di Sulut tanpa harus memasukkan dari luar daerah/negeri. Apa kita sanggup?
Mari kita mulai dengan sandang. Kata sandang ini sejak orde baru dulu diartikan sebagai pakaian. Bahan baku pakaian adalah tekstil atau kain, termasuk kaos. Nah apakah kita di Sulut sudah banyak pabrik tekstil? Jawabannya jelas “tidak”.
Jadi untuk sandang atau pakaian nampaknya kita di Sulut akan tetap jadi pasar empuk bagi pabrik-pabrik tekstil/pakaian jadi di Pulau jawa.
Sekarang kita beralih ke panganatau makanan. Makanan utama rakyat Sulutpada umumnya adalah beras, di samping terdapat beberapa daerah yang mengonsumsi umbi-umbian.
Sejak berpuluh-puluh tahun kita tetap memasukkan beras dari luar daerah atau luar negeri. Untuk setahun kita masukkan sekitar 50.000 ton beras. Ini bertarti bahwa produksi beras kita belum mencukupi kebutuhan. Demikian juga dengan kedelai, Sulut tetap memasukkan dari luar daerah.
Barangkali untuk daging, kita sudah dapat hasilkan sendiri, kecuali hari-hari tertentu seperti lebaran, Natal dan Tahun Baru, daging ayam dan telurnya masih harus kita datangkan dari luar daerah. Ikan dan tanaman hortikultura sudah dapat kita hasilkan sendiri di daerah ini. 
Apakah beras dan kedelai masih tetap kita masukkan dari luar itu kena mengena dengan teori comparative dan competitive advantage, artinya, lebih menguntungkan bila kita masukkan dari luar daerah kedua komoditi tersebut, dan lahan pertaniannya kita gunakan untuk umpamanya kita tanam cengkihatau pala atau jagung?
Saya kira dinas pertanian dan peternakan harus kaji persoalan ini dengan seksama karena selalu ramalan Dinas tentang produksi beraslokal tidak cocok dengan data dari bulog dan Desperndag.
Artinya, kenyataan menunjukkan bahwa bersa tetap dimasukkan oleh bulog sekitar 50.000 ton per tahun disamping pedagang antar pulau yang memasukkan beras dari Surabaya dan Makasar sepanjang tahun. (Toko-toko beras ada dipasar ikan tua).
Demikian juga kedelai, tetap didatangkan dari jawa, produksi di Sulut kurang dibandingkan dengan kebutuhan untuk tahu dan tempe.
Selanjutnya kita akan berbicara tentang papan. Yang dimaksudkan dengan papan adalah rumah atau bangunan. Untuk hal ini kita harus bagi dalam 3 kategori, yakni rumah atau bangunan darurat, semi permanen dan permanen. Untuk rumah/bangunan ynag darurat mungkin kita tidak pergunakan bahan berupa paku, kawat dan tripleks/seng yang notabene adalah barang dari luar daerah /jawa.
Akan tetapi untuk rumah/bangunan semi permanen, sudah banyak bahan bangunan yang digunakan yang berasal dari luar daerah, misalnya seng, paku, kawat, kaca, tripelks (kaltim), alat-alat listrik, instalasi air, elektronik.
Pabrik seng sesungguhnya sudah ada di Bitung, tetapi produksinya tidak cukup sehingga tetap harus didatangkan dari pulau jawa, disamping itu bahan baku seng (zink aluminium) tetap masuk dari pulau jawa.
Jadi untuk membangun rumah/bangunan yang semi permanen, Sulut sudah banyak bergantung pada bahan bangunan yang berasal dari luar daerah. Apa bahan –bahan bangunan tersebut sudah dapat kita produksi di Sulut? jawabannya: belum bisa.
Demikian halnya dengan rumah/bangunan yang permanen, bahan-bahan bangunan yang dipergunakan pada semi permanen yang dimasukkan dari Jwa/kaltim juga dipergunakan oleh rumah/bangunan permanen ditambah besi beton dalam segala ukuran, semuanya dari jawa. Apa ada besi beton yang bisa diproduksi di Sulut?
Kemudian kalau kita berbicara tentang hasil industri manufaktur, maka 100 hasil-hasil tersebut berasal atau datang dari pulau jawa/impor. Mulai dari alat-alat besar, container, mobil, motor, TV, radio, HP, komputer, lap top dll sampai pada jarum, peniti, kancing alias konop, skrup, bout, minyak wangi, bedak, deodorant, rokok dll semua dari pulau jawa. Jadi apa ada barang-barang tersebut sudah dapat diproduksi Sulut. sulit
Kesimpulan
1. propinsi Sulut untuk masa yang lama ke depan akan tetap menjadi pasar yang potensial dari barang-barang dari pulau jawaseperti tekstil/pakaian jadi, bahan bangunan untuk bangunan semi permnen dan permanen serta hasil-hasil industri manufaktur, karena tidak ada industri di Sulut yang dapat memproduksi barang-barang tersebut diatas.
2. dengan demikian uang dari Sulut akan terserap ke Pulau Jawa.
3. beras dan kedelai dimungkinkan untuk diperluas di Sulut guna menghentikan atar pulau masuk dari Jawa dan Makasar.
4. pertumbuhan ekonomi Sulut akan berkembang dibaawh PE nasional, kecuali angka PE Sulut “diatur” oleh pemerintah melalui BPS. Mestinya manakala PE meningkat, tingkat pengangguran dan kemiskinan harus berkurang (mempunyai korelasi negatif) tetapi yang terjadi di Sulut bertentangan dengan teori, PE meningkat, pengangguran dan kemiskinan turut meningkat selang 3 tahun terakhir, ini aneh.
Saran
1. anggaran APBD baik propini maupun kabupaten/kota harus pro prasarana (jalan, jembatan, listrik, air PAM, telepin, pelabuhan).
2. anggaran APBD propinsi maupun seluruh kabupaten/kota harus membatasi atau bahkan menghentikan pengeluaran-pengeluaran yang tidak urgen, seperti untuk biaya sepak bola dan promosi ke luar negeri.
3. volume barang atau produksi sektro riil harus dapat ditingkatkan.
4. dinas Pertanian dan Peternakan harus dapat menaikkan produksi beras dan kedelai guna mengisi kekurangan kedua komoditi tersebut di Sulut.

Penulis: Jack Parera.

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin