HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Berita Bolaang Mongondow

21 Mei 2007

Lembaga Adat Paparkan Makna Boki 

 
Sebagai bentuk tanggungjawab atas pemberian gelar kebesaran adat Totabuan berlabel ‘Boki Kolano Inta Nolintak Kon Totabuan’ terhadap Bupati Dra Hj Marlina Moha Siahaan, Sekretasris Lembaga Adat Bolmong Hi ZA Lantong memaparkan makna dari gelar adat tersebut, khususnya mengenai penggunaan kata ‘Boki’ dan ‘Kolano’.

Menurutnya, Lembaga Adat yang diwakil empat sub-etnis di Bolmong melakukan rapat bersama Dinas Pariwisata yang dipimpin Kadisnya Dondo F-Mokoginta setelah dimit adewan utnuk menterjemahkan gelar kehormatan ‘Bunda Pembaharu Pembangunan Totabuan’. Dan yang pertama diterjemahkan adalah kata ‘Bunda’, yang dalam bahasa daerah sama dengan Inde’ atau Ina’, juga sinonim dengan kata ‘Boki’. Lalu dicarilah pengertian Boki dalam sejarah Bolmong. 
Menurut Lantong yang juga adalan Ketua Amabom (Aliansi Masyarakt Adat Bolmong) yang menggantikan posisi JC Mokoginta, dalam sejarah, Boki selain berarti permaisuri raja, juga dapat diberikan kepada istri seorang pejabat tinggi setingkat Punu atau Datu. Di mana permaisuri bergelar Boki pertama diberikan kepada Salamatiti, istri Manggopa Kilat, Bogani yang mendiami Bukit Bumbungon di daratan Dumoga. Manggopa Kilat dan Boki Salamatiti adalah ayah dan ibu kandung dari Punu’ Gumolung Mokodoludut yang telah diangkat menjadi pemimpin tertinggi pemerintahan di Bolmong di abad 1400-an. Gelar Boki berikutnya juga diberikan kepada Silagondo, seorang perempuan perempuan Mongondow tempo doeloe yang berhasil mendirikan industri tenun paling besar yang disebut Gogabolan. 
“Dari fakta sejarah ini, terungkaplah bahwa pengertian Boki itu ada dua macam. Pertama Boki in Datu yaitu permaisuri atau istri raja. Kedua, Boki in Utuan yaitu bukan istri raja tapi seorang yang memiliki anak atau cucu yang menjadi raja, seperti Boki’ Hontinimbang yang meskipun bukan istri raja tetapi ayahnya adalah Raja Eugenus Manoppo lalu cucunya juga adalah Raja Abraham Sugeha. Boki dalam kategori Boki in Utuan ini juga diberikan kepada perempuan Bolmong karena karya besar dan kesaktiannya, meskipun ia tak ada hubungan darah dengan raja, seperti yang diberikan kepada Boki Silagondo,” papar Lantong yang sudah banyak menulit buku-buku tentang sejara Totabuan.
“Dengan mengkaji dan menganalisa sejarah penggunaan kata Boki tadi, maka kata tersebut kami nilai pantas dan sangat patut diberikan kepada Bupati perempuan pertama di Bolmong Dra Hj Marlina Moha Siahaan. Lalu kemudian ditambah dengan gelar bupati lainnya yakni Kolano, yang artinya tiada lain adalah ‘Bupati’,” terangnya.
Lanjut Lantong, rapat tadi kemudian menerjemahkan ‘Pembaharu Pembangunan’. Pembangunan dalam bahasa Mongondow sama dengan moposindog seperti dalam kalimat moposindong kon baloi (membangun rumah, red). Tapi dapat juga diterjemahkan dengan molintak atau monompia seprti dalam frase molintak kon Totabuan (Membangun Totabuan). Karena pembangunan telah dilaksanakan, maka bukan lagi molintak lagi, tetapi Nopolintak (Telah Membangun). “Akhinrya, Lembaga Adat yang diwakili empat sub-etnis serta Pemeritnah dalam hal ini Dinas Pariwisata, memutuskan untuk menterjemahkan gelar ‘Bunda Pembaharu Pembangunan Totabuan’ dalam bahasa Mongondoe dengan ‘Boki Kolano Inta Nolintak Kon Totabuan’,” kuncinya.(tus)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin