CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Minut
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

28 Nopember 2007

Teologi Revitalisasi Pertanian 
Oleh Pdt Prof Dr WA Roeroe

 IKUTI BERITA LAIN

Paket RUU Politik dan Pemilu 2009(2)
Oleh: Poltak Partogi Nainggolan

SURAT PEMBACA

Pemerintah Jangan Lupakan Fasilitas bagi Penyandang Cacat

 COMMENTAREN

Penutupan Tempat Ibadah Pelanggaran HAM

 
ADA tiga hal yang menarik perhatian saya membaca pemberitaan Harian Komentar No 1994 Tahun VI tertanggal Sabtu 3 November 2007. Ketiga hal yang diberitakan itu ialah: Pertama, dalam halaman 5 Tentang Revitalisasi Pertanian, “Going Nowhere ?” (2), sebagai lanjutan pemberitaan tentang pokok yang sama dalam terbitan Harian Komentar sehari sebelumnya Jumat 2 November 2007 juga dalam halaman 5, yang ditulis oleh sdr A. Lucky Longdong. 

Beliau bekerja di BKP dan adalah Ketua DPP HKTI Sulawesi Utara. Inti daripada tulisannya itu berkisar pada satu pihak tentang keprihatinannya akan daftar pergumulan, kalaupun bukan daftar penderitaan para petani dan keluarganya di daerah ini. Ada indikasi yang kuat lanjutnya bahwa pertumbuhan ekonomi sektor pertanian berpotensi menurun tahun ini. Sehingga beliau mempertanyakan selanjutnya bahwa ada permasaalahan-permasaalahan yang harus ditanggulangi bersama oleh semua pihak di daerah ini demi meningkatkan Nilai Tukar Petani ( NTP ) dalam rangka besar dan lebih luas program penanggulangan kemiskinan didaerah kita ini. Dengan memajukan data empiris yang sangat aktual beliau menunjukkan bahwa betapa dibutuhkan kerja keras para stakeholders yang terkait dengan pembangunan sektor pertanian. 
Singkatnya beliau menghimbau, baik pemerintah maupun sekali lagi semua pihak, dalam hal kita akan memasuki tahun kedua Program Revitalisasi Pertanian yang dicanangkan Gubernur Sulut kita pada permulaan bulan Januari 2007 di Moinit Minahasa Selatan. Para petani dan nelayan harus benar-benar didorong dan bahkan difasilitasi sedemikian rupa sehingga mereka mampu melakukan produksi berdasarkan good agricultural practices dan pada gilirannya boleh mendapat keuntungan yang layak atas korbanan yang telah dikeluarkan. Singkatnya sekali lagi katanya memasuki tahun ke dua operasionalisasi Program Revitalisasi Pertanian memerlukan kekuatan, bila perlu reorientasi semua pihak sedemikian rupa sehingga keberpihakan kepada kelompok petani miskin boleh maksimal. Mereka sedang merintih untuk bisa segera keluar dari perangkap kemiskinan. Dalam terbitan yang sama dalam halaman 25 sekali lagi Sdr Dr Ir Lucky Longdong MEd., sesudah melantik Anatje Mawu-Pondaag SIP sebagai Ketua HKTI MITRA mengungkapkan lagi bahwa HKTI hadir di Mitra untuk menghimpun masyarakat yang berprofesi sebagai petani maupun peminat pertanian untuk dapat menjadi mitra kerja bagi pemerintah terutama untuk kemajuan pertanian di daerah. Demikianlah inti sari bagian pertama dalam Harian Komentar tertanggal Sabtu, 3 November 2007. 
Sebagai seorang yang dibesarkan dan dibina suatu keluarga petani, dan juga sebagai amanat hidup saya sebagai motivator bagi hikmat-hikmat kehidupan, maka saya sungguh merasa tergugah oleh penyampaian dan himbauan DR. Ir. Lucky Longdong M. Ed. ini. Kedua, sesudah membaca pemberitaan yang berikut dalam Harian Komentar yang sama seperti tertera dalam halaman 8. Dan inilah kesan kedua saya menyambung kesan pertama diatas tadi. Dalam bagian ini diberitakan tentang Festival Kompetensi dan Kreativitas Siswa SD se- Sulut diuji yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Nasional Sulut pada tanggal 1 – 3 November 2007 bertempat di BPKB Diknas Sulut di Bahu- Malalayang. Perwakilan Siswa SD dari Kabupaten / Kota telah mengikuti Festival tersebut. Menurut berita itu selanjutnya bahwa puluhan Siswa Perwakilan Kabupaten / Kota se-Sulut menunjukkan kebolehannya dalam bidang-bidang Kompetensi Bahasa Indonesia , Kompetensi membuat Alat Teknologi Sederhana, Kerajinan Tangan, Kreativitas Seni Lukis dan Kompetensi Menggunakan Teknologi Informasi ( Komputer ). Tujuan kegiatan ini menurut Satker Peningkatan Mutu SD Diknas Sulut Sdr Jenry Sualang S.Pd., ialah untuk memberikan wadah bagi siswa SD untuk berkreasi dan berinovasi dengan mengedepankan sportivitas dalam mengembangkan diri secara optimal, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan dan sekaligus untuk menseleksi siapa yang terbaik untuk dipersiapkan pada Festival Kompetensi dan Kreativitas Siswa SD Tingkat Nasional. Membaca berita ini maka saya mengusahakan diri untuk menyaksikannya pada besok harinya tanggal 3 November, tetapi apa daya kegiatan itu sudah ditutup pada sore hari tanggal 2 .Jadi tidak sempat saya saksikan apa yang dimaksudkan dengan bidang kompetensi membuat Alat Teknologi Sederhana. Minat saya ialah untuk mecari tahu apakah sudah ada hasil kreativitas dan inovativitas Siswa SD dalam Bidang dan Kegiatan Pertanian juga. Seandainya belum, maka saya mencatatkan hal ini melengkapi kesan saya yang pertama di atas tadi. 
Ketiga, ialah masih dalam pemberitaan Harian Komentar tadi dalam halaman 11, ialah tentang penyelenggaraan Pameran Kegiatan Teknologi Tepat Guna ( TTG ) pada tanggal 6 – 10 November di Manado Convention Center ( MCC ) yang akan dihadiri sekitar 3000an orang dan mempertunjukkan Kegiatan TTG itu dari 33 Provinsi di seluruh tanah air. Dalam acara inipun saya hanya mendapat kesempatan menyaksikan dua hal yang sangat menarik perhatian saya, ialah tentang upaya memproses kelapa hingga 12 jenis hasil dan yang menyolok sekali tentang pembuatan mesin atau alat untuk menghasilkan cocosolar ( minyak solar dari kelapa ) dari Jawa Tengah. 
Dan yang berikut ialah hasil pengolahan mutiara dari Mataram yang juga sangat menggembirakan. Yang lain-lain sekali lagi tidak sempat saya saksikan. Tetapi yang saya tahu pula bahwa Bupati Minahasa Selatan Drs. R. M. Luntungan sempat membeli 20 mesin penuai padi sehingga menjadi beras, mesin berupa traktor kecil yang digerakkan dengan remote control, yang dihasilkan oleh Sulawesi Selatan. Tiap kecamatan di Kabupaten MinSel, mendapatkan satu mesin yang berharga 25 juta rupiah. Dan pada hari Jumat tanggal 9 November ybl sudah Beliau demonstrasikan penggunaannya di desa-desa Lelema – Popontolen khususnya pagi para petaninya. 
Di atas tadi sudah saya katakan bahwa ketiga hal ini berkesan sekali bagi saya apalagi tergugah oleh penyampaian dan himbauan Dr Ir Lucky Longdong M. Ed.. Dari Kegiatan Festival Kreativitas dan Inovativitas Siswa SD se –Sulut, kalau saya tidak khilaf, belum terbit menat ke pertanian dan agroindustri serta agrobisnis dalam kegiatan-kegiatan itu. Dan dari pengamatan saya yang sangat terbatas dalam Pameran TTG tadi itu saya mendapat kesan bahwa daerah-daerah lain rupanya ( jauh ) lebih maju dari pada kita disini dalam bidang kegiatan kehidupan yang maha penting ini, ialah pertanian dan agroindustri serta agrobisnis khususnya di Tanah Minahasa ini. Pada hal Tanah dan Iklim serta Kelautan sekeliling kita bukan main kekayaan sumber daya alamnya.
Lalu sekali lagi sebagai motivator hikmat-hikmat kehidupan, maka saya tergugah dan hendak mengemukakan hal-hal yang berikut yang kiranya memenuhi sebagian kecil yang diharapkan Sdr Dr Ir Longdong tadi.Bagi kita masakini disini dalam rangkaian pokok percakapan kita tentang Revitalisasi Pertanian, maka biarlah kita perhatikan hal-hal yang berikut ini. Pemahaman kita sekarang tentang Pertanian dan oleh sebab itu Revitalisasi Pertanian, maka terkandung didalamnya , dan inilah juga program prioritas Pemda kita di daerah ini ialah : Peternakan, Perikanan air tawar dan Perikanan Laut, Kehutanan dan Pembangunan Pedesaan, serta segala Industri dan Perdagangan atau Agroindustri dan Agrobisnis, lalu Produksi Alat-alat Teknologi Pertanian mulai dengan yang Sederhana. Berbarengan dengan itu perenungan dan reorientasi Pendidikan di segala arasy untuk menggairahkan menghidupkan dan menggiatkan Pertanian dalam pengertian komprehensif ini. Sumbangan pikiran saya sekadarnya berkisar pada yang saya sebut Teologi Revitalisasi Pertanian. Maksud saya dengan Teologi ialah bicara-bicara tentang Tuhan yang dalam hal ini disaksikan oleh Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dan bicara-bicara tentang Tuhan disini dapat dilanjutkan dengan mengatakan berupaya memahami Firman dan KehendakNya bagi kita kini dan disini berkenaan dengan yang kita sebut juga Pertanian, dan oleh sebab itu juga Revitalisasi Pertanian, dalam pengertian yang sudah disinggung diatas tadi, yakni menghidupkan, menggairahkan dan menggiatkan lagi semua pihak, baik Pemerintah maupun Swasta, dan segala sesuatu yang berkenaan dengan Pertanian. 
Dalam hal ini saya menunjukkan saja demi kesederhanaan pada tiga bagian dalam Alkitab itu. Pertama : ialah dalam kesaksian Kitab Kejadian, kitab pertama dalam Perjanjian Lama, fasal ke – 2 ayat 8 dan seterusnya. Disitu kita mendengarkan kesaksian tentang karya Tuhan membuat Taman di Eden bagi pemukiman manusia yang dibentukNya. DitumbuhkanNya berbagai-bagai pohon dari bumi Taman di Eden itu, . . . . . untuk dimakan buahnya. Lalu dalam ayat 15 dstnya kita menyaksikan bahwa Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara Taman itu. . . . . Istilah masakini untuk yang disebut mengusahakan dan memelihara Taman atau tempat pemukiman manusia itu ialah a. l. Pertanian. Inilah kehendak Tuhan Allah Pencipta bagi manusia sejak mula jadinya. Sekali lagi supaya manusia itu berupaya demikian rupa mengusahakan, yakni mengolah tanah Taman Kehidupan itu dengan kerja keras, rajin, tabah dan tekun tetapi juga untuk memelihara, merawat dan melestarikannya. Dan semua ini demi kehidupannya sendiri dan rekan-rekan ciptaanNya. Biarpun harus dengan bersusah-payah . . . . .dan dengan perpeluh untuk memperoleh rezekimu dari tanah itu. Hal terakhir inipun karena ada yang manusia itu sendiri langkahi yang tidak dikehendaki Tuhan Allah, yakni mau menjadi sama seperti Dia ( ayat 5 ) lalu melupakan bahwa dia adalah ciptaan bukan Pencipta seperti Maha Tuhan. Namun ada amanat juga dari Dia untuk menciptakan juga dalam batas-batas dan kemampuiannya sebagai manusia ciptaan. 
Jadi dapat kita katakan sekarang juga bahwa mengolah, mengusahakan dan memelihara Tanah tempat Pemukiman atau Bertani itu adalah amanat Firman dan kehendak Tuhan Allah Pencipta bagi kita sekarang ini juga demi kehidupan dan keselamatan kita. Itu malahan berkat, bukan kutuk, karena ia menghidupkan. Jadi apabila mengabaikan amanat Maha Tuhan ini, yaitu Revitalisasi Pertanian, bagi kita sekarang ini, artinya kita lebih memilih terkutuk dan bersedia untuk musnah dan lenyap, dari pada hidup selamat beroleh berkatNya. Dan hal ini bukan hanya bagi para petani, melainkan bagi kita sekalian dengan segala keprihatinan dan keperhatian serta keterhubungan kita langsung atau tidak langsung dengan usaha dan upaya mengolah pertanian, agroproduksi, agroindustri dan agrobisnis . Dan lagi apabila kita mengatakan bahwa kita umat beragama yang percaya pada Kehendak dan Firman Tuhan ini, maka kita bukan hanya seperti yang diharapkan DR Ir Longdong tadi agar supaya kita semua, yang pada hakekatnya adalah stakeholders yang menikmati hasil pertanian didaerah ini, supaya kita mengadakan reorientasi mind-set atau cara berpikir kita sambil langsung atau tidak langsung paling kurang memperhatikan pertanian ini demi kehidupan kita dan anak cucu kita dimasa depan. Melainkan hal ini terutama adalah Firman dan Kehendak Maha Tuhan bagi kehidupan kita. Bahwa Bapak Gubernur kita mengamanatkan Revitalisasi Pertanian didaerah kita ini, marilah kita menyambutnya bukan hanya sebagai cita-cita Pemerintah, melainkan sekali lagi terutama sebagai penghayatan dan pengamalan Firman dan Kehendak Tuhan Pencipta bagi kita. Jadi dimana mungkin dan berkesempatan agar supaya dalam cara kita sendiri-sendiri menjadi “petani-petani” yang ulung juga diatas tanah Taman Eden anugerah Tuhan Allah kepada kita didaerah Tanah Minahasa dan Sulawesi Utara ini dalam Rangka Revitalisasi Pertanian. Atau paling kurang kita masing-masing membangkitkan keprihatinan dan keterhubungan hidup kita dengan segala aspek Revitalisasi Pertanian seperti yang dimaksudkan diatas tadi. 
Kita lanjut sebentar lagi dengan memperhatikan berita kitab Ruth dalam Perjanjian Lama itu. Dalam ayat terakhir Kitab itu, yakni fasal 4 ayat 21 dan 22 dikatakan bahwa : Salmon memperanakkan Boas, Boas memperanakkan Obed, Obed memperanakkan Isai dan Isai memperanakkan Daud. Dan Daud inilah yang kemudian menjadi Raja Kerajaan Kesatuan Israel Raya ( sekitar tahun 1000 – 960 sebelum Kristus ) yang sangat disanjung-sanjung sepanjang masa, biarpun dia tidak luput dari segala kelemahan-kelemahan dan segala dosa-dosanya sebagai manusia. Bahkan dalam Injil Matius fasal 1 ayat 1 segera disebutkan bahwa : Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Dan dalam ayat 16 dan yang mendahuluinya dijelaskan bahwa Yusuf suami Maria adalah dari keturunan Raja Daud ini. Nah begitulah silsilah Yesus Kristus, Juru Selamat Dunia. 
Tetapi sebelum lanjut dengan salah satu pengajaran Yesus Kristus nanti, kita kembali lagi dulu kepada Boas dalam Kitab Ruth diatas tadi. Siapakah sebenarnya Boas ini. Dalam fasal 2 sampai 4 Kitab Rut ini dikisahkan bahwa dia adalah seorang petani pengusaha yang saleh dan yang sangat berhasil serta patuh pada adat-istiadat keluarga dan marganya. Tetapi dia adalah juga seorang lelaki bujangan. Kisah pertemuan petani ulung ini dengan calon istrinya dikisahkan sangat romantis dan mengharukan sekali dalam Kitab Rut ini. Dengan begitu Boas memperistrikan janda muda cantik orang asing dari seberang, tetapi yang mengorbankan segala-galanya untuk mengikuti mertuanya Naomi, dengan pengakuannya yang menonjol hebat : “ . . .bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku. . . . .”. ( fasal 1 ayat 16 ). Namanyapun dikekalkan dalam nama kitab ini, yakni Rut. Bahkan sebagai istri Boas namanyapun tetap terdaftar dan diingat hingga menjadi nenek moyang Yusuf dan istrinya yakni Maria Ibu Yesus Kristus.
Nanti tidak lama lagi kita akan memasuki Minggu-minggu Advent di bulan Desember 2007 ini, artinya minggu-minggu menantikan atau menjelang Perayaan Natal Yesus Kristus. Sebaiknya jugalah apabila Buku Ruth ini menjadi bahan renungan kita. Atau biasanya para pemuda senang juga mengadakan acara-acara pertunjukan atau “sandiwara” menjelang Natal. Pada tempatnya jugalah roman Boas dan Ruth ini dijadikan bahan pertunjukan itu. Asal harus ditonjolkan juga pemeran utama itu yakni Naomi, Ruth dan Boas Pemuda Petani ulung dan berhasil serta baik budinya itu dan tentu sekali bagian akhir penyajian serta maksud penulisan Kitab Rut ini. Dengan begitu kiranya akan menjadi bahan motivasi juga bagi generasi muda kita menjelang perayaan Natal tentang peran Pemuda Petani ulung dan baik budinya ini. Dan inipun sebagian dari Teologi Revitalisasi Pertanian untuk menggairahkan generasi muda tentang hubungan erat antara Petani dan Natal Yesus Kristus, antara Revitalisasi Pertanian masakini dan Keselamatan Dunia mulai dengan dunia kita di daerah kita ini. 
Ketiga ialah pengajaran Yesus Kristus, Dia yang disebut-sebut diatas tadi, pengajaranNya yang disaksikan dalam Injil Matius Fasal 25, 14 – 30 dan membandingkannya dengan Injil Lukas 19, 12 – 27 , yang dikatakan Perumpamaan tentang Talenta. 
Apa inti berita atau pengajaran Yesus dalam perumpamaan ini ?. Didalamnya disajikan tentang tiga orang “hamba”. Sebenarnya membaca akan jalannya dan isi pengajaran ini, maka dalam bahasa sekarang ini disitu dikemukakan tentang sikap tiga orang “pengusaha” atau “manager” yang masing-masing beroleh lima, tiga dan satu “modal”. Dia yang mendapat modal lima pergi dan “menjalankan uang atau modal” itu sehingga memperoleh lima keuntungan atau “profit” atapun “bonus” ( bahasa sekarang ini ) lagi. Yang mendapat dua modal juga berbuat demikian lalu beroleh juga 2 bonus lagi. Tetapi yang ketiga yang memang cuma dan hanya mendapat satu modal, mengira bahwa pemberi modal itu penjahat sehingga dibenamkannya satu-satunya modal itu kedalam tanah. Jadi tidak dijalankannya atau, bahasa sekarang ini, tidak berusaha atau tidak diputarnya modal itu, atau tidak diperkembangkannya. Sekali lagi karena beranggapan bahwa pemberi modal itu penjahat, atau sebenarnya dia bodoh, tidak berinisiatif, tidak kreatif dan oleh sebab itu tidak produktif, hanya menyimpannya kedalam tanah, dan tentu “karatanlah” atau “bakaratlah” modal itu. Maka Pemberi modal itu berkata baik kepada yang pertama maupun kepada yang kedua bahwa mereka adalah pengusaha-pengusaha atau manager-maneger yang baik, dan oleh sebab itu kepada mereka akan dipercayakan “proyek-proyek” yang lebih besar dan lebih banyak, karena terampil me-manage modal pemberian pemberi. Tetapi kepada yang ketiga yang tolol atau malas barangkali dan yang tidak berusaha, maka bukan hanya modal yang cuma satu yang akan diambil daripadanya, melainkan semua yang ada padanyapun akan diambil dan akan diberikan kepada yang pinter, terampil, rajin, tabah dan teguh berusaha dan menjadi manager yang baik bagi segala modal, anugerah dan karunia kepadanya. 
Nah biarlah kita ingat-ingat bahwa ini adalah pelajaran Yesus Kristus, Juru Selamat dunia bagi keselamatan kita juga. 
Semua segi pelajaran ini adalah demi keselamatan dan kebahagiaan kita dan anak-cucu kita juga di kemudian hari. 
Jadi demi kabahagiaan hidup di kemudian hari itu, maka hendaklah kita mengamalkan atau melaksanakan Firman dan Kehendak Tuhan dalam bidang Revitalisasi Pertanian ini. 
Dengan kata lain sebagai buah-buah iman kita atau sebagai hasil dan kegiatan keberagamaan kita kini dan disini, maka tidak boleh tidak dan hendaknya tidak boleh diabaikan lagi melibatkan diri dalam Revitalisasi Pertanian ini disini. Dan sekali lagi harus kita hadapi hal ini dengan tabah, tekun, rajin dan teguh sebagai antara lain buah-buah iman atau hasil keberagamaan kita disini. Supaya dengan demikian kita hidup dalam berkat karena melibatkan diri dengan caranya masing-masing dalam segala kegiatan Revitalisasi Pertanian dalam dan dengan segala aspeknya. 
Apalagi kalau kita menginventarisasikan segala ”modal atau karunia berupa sumber daya alam anugerah Tuhan Pencipta” di daerah kita ini berupa sekali lagi : Segala ikan di laut, iklim yang menolong, tanah yang subur yang ditumbuhi berjenis-jelinis tanaman kelapa, pala, cingke, vanili, berjenis-jenis rempah-rempah lainnya, bunga-bungaan, padi , jagung, ubi-ubian, hutan biarpun sedang mengalami pembalakan liar, sebutkan apa saja. Dan bila kita tidak tahu mengolah dan memelihara segala anugerah dan karunia Maha Tuhan kepada kita disini, artinya mengabaikan Revitalisasi Pertanian, maka seperti Perumpamaan Tuhan Yesus tadi, segala sesuatu itu akan diambil dari kita dan diberikan kepada mereka yang tahu dan giat “pake otak”, rajin, terampil, tabah dan tekun mengolah dan memeliharanya demi kebaikan mereka. Jangan-jangan hal dan proses serta kegiatan ini sudah sementara berlangsung di daerah kita ini sekarang. Maka celakalah dan akan musnahlah kita dalam kutuk karena kebodohan kita sendiri. 
Biarlah kita ingat-ingat juga akan dua hal yang berikut : 
Kita di daerah kita ini hanya bisa berada hingga sekarang ini karena ada ketrampilan para pendahulu kita tentang mengolah dan memelihara Tanah yang kita sebut sekarang Pertanian atau Bertani. Mereka sungguh ulet dalam hal ini sehingga kita berada sekarang ini. Akan tetapi mengamat-amati gelaja lahan dan tanah serta keadaan sekitar kita sekarang ini disini, seperti sudah dikemukakan juga oleh Dr Ir Longdong tadi, harus jujur kita sekarang untuk mengatakan bahwa sudah sangat menipis ketrampilan di bidang Pertanian itu, jangan-jangan makin saja kita abaikan. 
Pada hal biarlah kita ingat-ingat juga bahwa di Negara-negara yang dikatakan sudah maju, maka dia maju juga karena perhatian yang serius pada segala aspek pertanian ini. Begitulah juga yang sedang digiatkan Negara-negara tetangga kita. 
Dan kalau jadinya kita perhatikan lagi amanat Firman dan Kehendak Maha Tuhan lalu menghayati serta mengamalkannya sebagai buah-buah iman atau sebagai salah satu hasil keberagamaan kita, maka inilah permulaan kita untuk merubah mind-set atau cara berpikir dan bertindak kita seperti juga yang dimintakan Dr Ir Longdong tadi. (**)

Kakaskasen, November 2007. 

Penulis, mantan ketua Sinode GMIM. Kini Direktur Pasca Sarjana UKIT.

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin