|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
02 April 2008
|
|
Bersua dengan Ronald Korompis(3)
Anugerah Terbesar Tuhan, Dilahirkan Sebagai Orang Manado
|
BAGI warga Sulut umumnya dan orang Tomohon khususnya, nama Ronald Korompis sudah tidak asing lagi di telinga. Dia adalah tokoh lahirnya sekolah bertaraf internasio-nal, SMA Lokon St Nikolaus, di Kota Bunga tersebut. Selain itu, sebuah kebun raya dengan objek wisata religius ‘Jalan Salib Suci Mahawu’ dibangun Keluarga Korompis-Wewengkang di atas lahan seluas 50 hektar. Ini akan menjadi kebun raya private pertama di Indonesia. Investasi sekolah dan kebun raya ini tentunya jauh dari orientasi profit. Lalu apa yang melatarbelakangi sehingga businessman sukses sekelas Ronald Korompis mau membangunnya di Tomohon? Simak tulisan bersambung berikut ini.
Eksistensi SMA Lokon, tidak lepas dari apa yang disebut Ronald Korompis sebagai bagian dari perintah Tuhan kepada manusia, khususnya dirinya, yakni berbakti dan beramal untuk sesama. ‘’Ma-nusia tidak bisa hidup untuk dirinya sendiri saja.’’ Ada analogi menarik yang dilon-tarkan Korompis, yakni ten-tang kegunaan lalat dan nya-muk. Mungkin bagi keba-nyakan orang, kata dia, nya-muk dan lalat hanyalah hewan pengganggu yang tidak me-miliki kegunaan sama sekali bagi manusia. Gigitan nyamuk selain mengganggu, juga bisa menularkan penyakit kepada manusia, di antaranya malaria dan demam berdarah.
Begitu juga lalat. Hewan pembawa kuman ini bisa me-ngotori makanan yang akan masuk ke dalam perut, yang bisa berakibat sakit perut dan penyakit lainnya terhadap ma-nusia. Namun menurut Ko-rompis, lalat dan nyamuk se-benarnya diciptakan Allah untuk kebaikan manusia. Ar-tinya, seseorang dalam hidup itu, tidak boleh egois, hanya untuk diri sendiri.
Seorang yang kaya dan me-miliki lingkungan rumah yang bersih, belum tentu bebas dari nyamuk dan lalat, jika tetang-ganya yang miskin hidup ko-tor. Nyamuk dan lalat yang hidup pada habitat di rumah si miskin yang tidak bersih, pasti juga akan singgah dan ikut menggigit si kaya dan bukan hanya si miskin. Oleh sebab itu, jika tidak ingin ikut menjadi sasaran lalat dan nya-muk, maka si kaya harus membantu si miskin di ling-kungannya.
“Jadi, nyamuk dan lalat sebenarnya adalah alat Tuhan untuk memberitahukan ke-pada kita, satu kebersihan yang baik tidak cukup dengan engkau membersihkan ru-mahmu sendiri dan badanmu. Kalau you punya tetangga bo-doh, miskin, kotor, nyamuk dan lalat yangg dihasilkan dia, bukan cuma menggigit dia, tapi juga kita sebagai tetangga. Bukan hanya si miskin, tapi juga si kaya. Maka dari itu, si kaya wajib membantu si mis-kin.
Nah, selain berbakti dan ber-amal buat sesama, bagi Ko-rompis, Tuhan juga menga-jarkan kepada manusia untuk mengucap syukur atas anuge-rah yang diberikanNya. Lalu apa anugerah terbesar itu? ‘’Menurut saya anugerah yang paling besar kepada kita, ada-lah memperoleh kehidupan menurut kelahiran. Meski kong saya ribuan tahun lalu dari Cina, namun anugerah terbesar saya adalah dila-hirkan sebagai orang Mana-do,’’ ungkap Korompis dengan mimik serius.
Jika ada yang dilahirkan di Manado dan kemudian tidak mau mengakui dan berbuat untuk orang Manado, itu sama dengan dia menghina Tuhan yang memberikannya anuge-rah sebagai orang Manado. Bagi Korompis, kelebihan orang Manado yang pasung-pasung dan cantik-cantik, me-rupakan berkat tersendiri. Selain itu, orang Manado juga memiliki kemampuan SDM. Cuma sayang dewasa ini banyak yang tidak diolah de-ngan baik lewat proses pendi-dikan di sekolah berkualitas. Selain itu, ada jargon negatif yang masih saja dijadikan pe-gangan sebagian orang Ma-nado, yakni ‘Biar kalah nasi, tapi jangan kalah aksi.’ “Ini kan gila. Itu namanya orang sombong. Dan perlu diketahui, dalam firman Tuhan, bahwa orang sombong dibenci Allah, orang congkak dimurka Tu-han,’’ kata Korompis.
Dan fakta sekarang ini, lan-jutnya, pasca-Permesta, Sulut hanya memiliki Theo Sam-buaga yang menjadi menteri. Padahal pada zaman perge-rakan kemerdekaan, putra Sulut sangat memainkan peranan penting di pentas elit nasional, bahkan mempunyai andil besar sebagai pendiri negara Indonesia. ‘’Biar kalah nasi asal jangan kalah aksi itu harus kita tanggalkan. Jangan jadi orang sombong, karena itu tidak disukai Tuhan.’’
Sombong juga kerap diiden-tikan dengan pamer kemewa-haan. Padahal, hakikat hidup yang dibawa Juru Selamat adalah berbakti dan keseder-hanaan. Korompis kemudian memberikan pandangannya lewat kisah ‘Hari Ulang Tahun (HUT).’ Pernah, kata dia, se-orang siswa di SMA Lokon, yakni anak orang kaya, hen-dak merayakan HUT-nya dengan mewah di restoran di luar lingkungan sekolah, lengkap dengan door prize segala. Tapi saat meminta izin, tidak diberikan oleh kepala sekolah. Dia kemudian diam-diam menyediakan sejumlah bus dan menghasut teman-temannya untuk melanggar aturan sekolah, guna meraya-kan HUT mewahnya.
Akhirnya ketahuan oleh pi-hak sekolah dan diberikan sanksi. Pihak sekolah sendiri, kata Korompis, tidak alergi dengan perayaan HUT siswa. Tapi diminta agar siswa mera-yakan saja di sekolah dan ka-lau bisa dalam sebulan, dise-lenggarakan sekali saja secara kolektif bagi siswa yang ber-ultah di bulan tersebut. ‘’Sebab siswa kita ada 318, jika semua merayakan HUT sendiri, maka dalam setahun 365 hari, bisa urus HUT hampir tiap hari.’’
MODAL AKHIRAT
Bagi Korompis, mendirikan sekolah merupakan sebuah kerugian besar jika dipandang dari aspek bisnis. 10 kali bodoh membangun sekolah jika ingin mengharapkan profit. Namun 20 kali untung baginya telah menghadirkan SMA Lokon di Tomohon, serta mampu menjalankan amanat Tuhan.
Untuk penanaman modal akhirat (PMA), kata dia, 20 bahkan 50 kali lipat un-tungnya membangun sekolah yang mampu memberikan pendidikan tentang kehidupan bagi banyak orang.(friko/habis)
|
|