|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
03 April 2008
|
|
Hasil Uji BPOM: Susu Formula Bebas Bakteri
|
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak menemukan satu pun bakteri sakazakii (Entero-bacter sakazakii), setelah menguji 96 sampel produk susu formula dari 58 merk dengan berbagai kemas-an dan rasa dari seluruh Indonesia. Informasi ini disampaikan BPOM, Rabu (02/04), terkait dengan respons lembaga tersebut atas hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menemukan bakteri tersebut dalam beberapa produk susu formula.
Pengujian itu dilakukan di laboratorium mikrobiologi pusat di Jakarta oleh 10 dokter ahli. Tiap sampel dalam kondisi yang baik, tidak cacat dan telah ter-egistrasi, diuji dalam laborato-rium steril. Pengujian itu dilaku-kan sejak 26 Februari 2008 dan ditargetkan selesai dalam waktu tiga minggu. Tetapi proses pe-ngujian yang sangat rumit membuat hasilnya baru bisa di-publikasikan ke publik saat ini.
Meski menolak menyebutkan nama merk susu formula yang telah diuji, seorang pejabat BPOM yang meminta namanya tidak disebut, mengimbau masyarakat tetap mengonsumsi susu formula dan tidak resah atas pemberitaan sebelumnya. “Setelah hasil ini, susu-susu yang telah teregistrasi tersebut dapat terus dikonsumsi. Kami juga akan terus melakukan pengujian acak setiap tahun, meski tidak mendapat laporan lagi dari masyarakat,” katanya.
Hasil penelitian BPOM soal susu formula ini diumumkan secara resmi Rabu siang kema-rin oleh Kepala BPOM, Husniah Rubiana Thamrin Akib di De-partemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Me-nanggapi hal itu, salah satu pe-neliti IPB Dr drh Sri Estuningsih hanya menyatakan bersyukur atas hasil penelitian BPOM yang menunjukkan produsen susu formula balita di Indonesia sudah meningkatkan kualitas produknya.
“Kalau memang hasilnya ne-gatif, saya tidak bisa berkomen-tar banyak, Karena saya tidak tahu metode dan sampel yang digunakan BPOM. Kami mene-liti sampel susu formula tahun 2003 sampai 2006,” katanya. Yang jelas, lanjut Sri, kalau pe-nelitian dilakukan dengan me-tode dan standar yang sama, se-suai ketentuan WHO, hasilnya mungkin bisa diperdebatkan. Tetapi kalau metode dan sam-pelnya berlainan, hasilnya juga akan berbeda. Namun, dia menegaskan, hasil penelitian IPB bisa dipertanggungjawab-kan.
“Hikmahnya, para produsen atau pembuat susu formula balita menjadi ekstra hati-hati dan memang hal ini yang diharapkan peneliti IPB, sehingga aman dikonsumsi balita di Indonesia. Kalau produk di Indonesia memang masih buruk kualitasnya, jangan sampai Indonesia mengimpor susu formula sehingga harga di pasarannya pun akan mahal,” ujar-nya.(spc/*)
|
|