|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Pendidikan dan Budaya |
03 April 2008
|
|
Diknas bersikeras tidak ada kesalahan soal Pra-UN
Tawaluyan: Hal Ini Tidak Bisa Didiamkan
|
Dugaan kesalahan soal dalam pelaksanaan Pra Ujian Na-sional (Pra-UN) terus berlanjut. Pasalnya menurut Pjs Ketua Umum Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Sulut, Pastor Fred Tawaluyan Pr hal serupa juga dike-luhkan oleh sejumlah kepsek dan guru. Jika hal ini ternya-ta memang benar, maka Tawaluyan mengharapkan agar hal ini segera dituntaskan, jangan sampai hanya di-diamkan atau disembunyikan.
“Kekeliruan dan kesalahan baik dalam redaksi penulisan atau penyusunan soal (bahkan ada) pertanyaan yang salah, jawaban salah, dan ada perta-nyaan yang tak ada jawaban-nya. Kalau memang benar apa yang dikatakan oleh para kep-sek dan guru (negeri dan swas-ta), maka realita ini tak dapat disembunyikan atau didiam-kan begitu saja oleh pengambil kebijakan tingkat propinsi. Ini bisa menjadi preseden buruk dunia pendidikan kita, tapi juga menjadi sinyal bahwa ada sua-tu ‘kondisi pendidikan’ di dae-rah ini yang perlu diluruskan,” tukas Tawaluyan kepada Komen-tar, Rabu (02/04) Kemarin.
Kekeliruan tersebut lanjut Ta-waluyan yang juga adalah Ketua Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Keuskupan Manado, ter-nyata terjadi di hampir semua bidang studi. “Setelah dilacak, ternyata apa yang dikeluhkan kepsek dan guru tentang soal Pra-UN tingkat SMA/SMK ter-dapat banyak kekeliruan, justru di hampir semua bidang studi yang diujicobakan. Mereka (kep-sek dan guru, red) tak tahu un-tuk menyatakan kepada siapa? Bisa saja, karena ‘takut’ dima-rahi oleh atasan dan lainnya,” katanya lagi.
Tanpa bermaksud memper-salahkan siapa-siapa lanjut-nya, realita ini sungguh suatu tamparan bagi dunia pendi-dikan di Sulut. “Kita masih manusia yang berhak berbuat salah, tapi yang juga mempu-nyai kewajiban untuk mem-perbaiki kesalahannya. Kita harus mengadakan koreksi yang sangat serius, jujur dan kontinyu. Saya percaya bah-wa jajaran Diknas sudah mencoba untuk mengoreksi-nya. Dan saya lebih yakin bahwa Diknas akan membuat perubahan strategis dalam kebijakan merekrut petugas-petugas yang lebih berkompe-ten,” tandasnya.
Secara terpisah pengamat pendidikan, Dr Max Ruindu-ngan MPd menyatakan Diknas Sulut harus memberikan pen-jelasan, jika memang terjadi kesalahan. “Sebab nantinya akan berpengaruh pada hasil pemeriksaan. Untuk itu hal ini harus dibicarakan bersama, jika memang di lapangan ter-jadi seperti itu,” tandasnya seraya menambahkan aspek ketelitian dalam penyusunan soal harus lebih ditingkatkan.
Mengenai hal ini, Presidium Majelis Pendidikan Sulut, HA Assa SPd dan Febri Dien ST se-cara tegas meminta pertang-gungjawaban Diknas. “kalau memang benar, Diknas harus bertanggung jawab. Sebab pembuatan soal ini didanai oleh uang rakyat dalam APBD,” tukas keduanya.
Sementara Kadis Diknas Sulut, Drs Djouhari Kansil MPd, kepada Komentar mem-bantah adanya kesalahan pe-nyusunan soal. “Kita sudah te-lusuri dan ternyata tidak ada kesalahan. Kita sudah laku-kan verifikasi dan sudah un-dang pihak terkait dan tidak ada yang salah,” tegasnya saat menghubungi Komentar.
Apalagi menurut mantan Kepala Badan Diklat Sulut ini, penyusunan soal melewati se-jumlah tahapan dan melibat-kan perguruan tinggi dan pengawas. “Jadi penyusunan soal tidak sembarangan, ada kisi-kisinya hingga penela-ahan. Lagi pula yang menge-luhkan hal tersebut, ternyata baru dua tahun menjadi gu-ru,” pungkasnya. Diberitakan sebelumnya, diduga telah terjadi kesalahan soal Pra-UN untuk Bahasa Inggris tingkat SMK. Hal ini dikemukakan oleh salah seorang guru dan turut dibenarkan oleh sejum-lah kepsek.(vic)
|
|