|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
07 April 2008
|
|
Resesi Dunia,
PHK Mengancam
|
Resesi dunia makin meng-khawatirkan. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hariyadi Sukamdani menga-takan, Kadin mengakui ada kekhawatiran yang sangat besar terhadap krisis ekonomi dunia. Resesi di Amerika Se-rikat sulit diprediksi hingga sampai berapa dalam.
Krisis di AS tersebut dikata-kan sudah menelan hingga US$ 200 miliar-US$ 300 mi-liar, belum diketahui apakah kerugian itu akan terus ber-lanjut. Akibatnya, negara-negara maju akan lebih fokus untuk mengamankan situasi dalam negerinya.
Parahnya, kata Hariyadi, hal itu akan berimbas negatif ter-hadap ekspor Indonesia dan masuknya investasi asing. “Jangan mengharapkan arus investasi asing yang sangat besar saat ini. Semua negara membelanjakan uangnya untuk mengamankan ekono-mi dalam negerinya,” kata Hariyadi, Sabtu (05/04).
Di lain pihak, fundamental ekonomi Indonesia sangat rapuh dalam menghadapi si-tuasi krisis. Hal itu, lanjut-nya, bisa dilihat dari pertum-buhan ekonomi cuma yang hanya ditopang antara lain sektor pertambangan yang tumbuh akibat terdongkraknya harga komoditas dunia.
Namun, ekspansi industri pertambangan sangat minim. Selain itu juga, pertumbuhan dipicu oleh sektor konsumsi yang ditunjukkan oleh tinggi-nya pemakaian kartu kredit dan pembiayaan sepeda mo-tor dan mobil. “Ini sangat mengkhawatirkan, kalau pe-merintah tidak cepat meng-ambil langkah serius. Perlam-batan ekonomi termasuk di Indonesia sudah diakui lem-baga-lembaga keuangan in-ternasional,” kata Hariyadi.
Menurut Hariyadi, Kadin sudah sepakat ekonomi In-donesia harus ditopang oleh kemampuan dalam negeri. Pasar dalam negeri harus mampu dimanfaatkan untuk kepentingan industri nasional di tengah pasar global yang sedang suram. Caranya, kata dia, dengan memperkuat in-dustri lokal dan mengurangi impor yang tidak wajar. “Ka-din sudah sepakat akan mengaktifkan instrumen non tariff barrier dengan safeguard atau dumping,” katanya.
Dia menekankan industri dalam negeri harus disela-matkan sebab berkepentingan dalam penciptaan lapangan kerja. “Pasar Indonesia yang sangat besar dengan 220 juta penduduk jangan dibiarkan diganggu oleh impor ilegal. Harus ada keseriusan peme-rintah dan dunia usaha untuk mengatasi krisis ini, per-bankan juga harus menun-jukkan keberpihakan pada sektor riil,” katanya.
Ketua Umum Asosiasi Per-tekstilan Indonesia (API), Benny Sutrisno mengatakan, dampak dari kenaikan mi-nyak dunia dan perubahan ekonomi di Amerika Serikat sangat mempengaruhi kinerja sektor industri di seluruh du-nia termasuk Indonesia. Me-nurut Benny, secara spesifik semua pengusaha juga ter-ancam ke arah gulung tikar kalau tidak segera melakukan restrukturisasi serta mem-benahi keuangannya.
Dari Jawa Tengah dilapor-kan, para buruh mulai meng-alami nasib buruk dalam tiga bulan terakhir ini. Ketika se-mua harga kebutuhan hidup naik tajam, sebanyak 2.944 buruh di Jateng justru ter-kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Menurut Kepala Seksi Kajian dan Pendidikan Yayasan Wahyu Sosial (Ya-was) Semarang, A Khotib, dari jumlah itu, 90 persen menjadi korban PHK sepihak dari perusahaan dengan alasan efisiensi kerja.(shc/spc)
|
|