|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Bolmong,
Kotamobagu, Bolmut |
07 April 2008
|
|
Program Revitalisasi Cacao
Dishutbun-BRI Dipertanyakan
|
Program Revitalisasi Tanaman Cacao yang dirancang Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bolmong bekerja sama dengan BRI Kotamobagu untuk memberikan bantuan kredit lunak kepada petani coklat, hingga kini tak kunjung terealisasi. Parahnya, banyak petani coklat di daerah ini yang sudah terlanjur bermimpi mendapat puluhan juta rupiah, sehingga rela mengeluarkan kocek jutaan rupiah untuk pengurusan sertifikat kebun mereka.
Program tersebut mulai diso-sialisasikan akhir 2007 silam, di mana Dishutbun bekerja sa-ma dengan BRI siap memberi-kan bantuan pepada petani cokelat Bolmong dengan pla-fon Rp 24 juta per hektar. Ada-pun pengembaliannya baru dilakukan lima atau enam tahun kemudian, atau ketika cokelat yang ditanam sudah berproduksi. Dengan salah satu syarat, bahwa kebun co-kelat dimaksud harus sudah bersertifikat. Syarat utama itu sudah pernah disampaikan langsung Kadishutbun Ir Hi Djakia Mokodongan kepada harian ini.
Saat itu juga, banyak petani yang mengurus sertifikat atas kebun mereka. Jutaan rupiah uang sudah terlanjur dikeluar-kan, sementara sertifikat tak kunjung selesai. Nah, kesen-jangan ini kemudian menjadi perhatian serius dari Direktur LBH Mopoyotutuy, Frets Wongkar SH, setelah menda-patkan banyak aduan dari ma-syarakat petani. “LBH kami kami banyak menerima keluh-an petani cokelat. Mereka su-dah terlanjur mengurus serti-fikat atas kebun dengan me-ngeluarkan jutaan rupiah dari harta mereka yang serba ber-kecukupan. Bahkan ada yang sampai meminjam uang ke pihak ketiga. Ini bisa jadi per-soalan hukum ketika petani keberatan dengan pengorban-an yang telah terjadi, se-mentara harapan mereka ti-dak terealiasi. LBH kami siap memperdatakan masalah ter-sebut,” tegas Frets Wongkar.
Wongkar mengaku mendapat informasi bahwa sebenarnya kebun yang dimaksudkan tadi tidak mesti harus bersertifikat, yang penting ada surat pembe-naran dari pemerintah desa dan kecamatan tentang kepemilikan kebun dimaksud. “Karena itu, kami mendesak Dishutbun mau pun BRI, agar dapat memberi-kan kemudahan kepada petani terkait program Revitalisasi Cacao ini,” kuncinya lagi.
Kadishutbun sendiri belum bisa dikonfirmasi terkait so-rotan Wongkar ini. Namun se-belumnya, Mokodongan per-nah mengatakan bahwa salah satu syarat pencairan kredit lunak ini adalah kebun yang ditanami cokelat harus berser-tifikat.(tus)
|
|