|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Mimbar dan Keagamaan |
11 April 2008
|
![]() |
Tokoh Agama Kristen, Pdt John Tilaar, Kamis (10/04) menegaskan, mengubah jenis kelamin (transeksual) bertentangan dengan iman Kristen. Sebab, dalam proses penciptaan setelah semua telah ada, dan diciptakan Allah berkata, semua baik adanya.
“Mengubah bentuk tubuh berarti, tidak menghargai karya Allah yang agung dan tidak mensyukuri apa yang telah Allah beri-kan,” tandasnya.
Senada, Tokoh Aga-ma Katolik, Pastor Fred Tawaluyan. “Se-cara pribadi pada dasarnya tak ada seorang pun yang ingin menjadi waria atau wadam atau ganti kelamin atau gay dan sejenisnya. Manusia dilahirkan secara kodrati menurut jenis kelamin, sebagaimana yang ditentukan oleh Tuhan. Kalau terjadi kelainan hal ini pasti ka-rena kondisi gen yang terbentuk sedemikian rupa secara biologis, alamiah dan natural, sehingga menimbulkan kelainan psi-kologis,” ujarnya.
Menurutnya, kelainan psiko-logis inilah yang menimbulkan kecenderungan-kecenderungan dan menciptakan daya imagi-natif atau stimulans tertentu, sehingga seseorang (pria) me-rasa diri sebagai wanita atau seorang wanita merasa diri sebagai seorang pria.
Kelainan ini pun kata Tawa-luyan, bisa tampak sejak kecil, tapi tak jarang hal itu muncul setelah dewasa. Namun demi-kian, sekalipun diadakan pe-ngobatan medis/operasi, na-mun dasar-dasar kodratinya tetap menonjol, baik suaranya, postur fisiknya. Kecuali mung-kin gaya dan tingkah laku bisa sangat berubah. Situasi ini pada dasarnya menimbulkan suatu keprihatinan moral, psikologis dan sosial. Secara imani Gereja Katolik masih mengakui bahwa, seseorang yang terlahir sebagai pria, maka ia akan tetap pria, dan takkan terganti secara ko-drati. “Kepada mereka perlu di-adakan suatu pendekatan khu-sus, terutama kepada orangtua harus sejak dini mengawasi perkembangan fisik, psikologis dan sikap dari anak-anak me-reka. Kalau mulai tampak ge-jala/kelainan tersebut sege-ralah berkonsultasi dengan psi-kolog atau yang lebih berkom-peten,” katanya.(aan)
|
|