|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
15 April 2008
|
|
BIMP-EAGA: Realitas Kawasan Ekonomi yang Terabaikan Konflik
Perbatasan di Wilayah Perairan NKRI
Archipelagic State: Tantangan dan Perubahan Maritim(1)
|
Praktik penyatuan hubungan kawasan ekonomi (regionalisme) di Asia Tenggara adalah menjadi dasar bagi terbentuknya Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) pada tahun 1994. Sebelumnya juga, telah ada kerjasama subregional Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-Growth Area dan Greater Mekong Subregion (GMS). Tulisan ini difokuskan pada hubungan kerjasama ekonomi BIMP-EAGA ditinjau dari realitas kawasan ekonomi di Sulawesi Utara dengan rentangan permasalahannya sejak pembentukan dan eksistensinya hingga saat ini.
Oleh: Steven Y Pailah
Eksistensi BIMP-EAGA
Sejak pembentukannya di ta-hun 1994, kerjasama ekonomi BIMP-EAGA menjadikan suatu pendorong bagi setiap negara di kawasan untuk meningkatkan kesejahteraan terutama di bidang perekonomian dan transportasi. Akan tetapi, baru dua tahun kerjasama ini ber-jalan terjadi krisis moneter yang melanda sebagian kawasan Asia termasuk negara-negara BIPM-EAGA.
Akhirnya, keberhasilan yang signifikan dalam hal transpor-tasi saat itu harus diakhiri se-mentara karena konsentrasi pe-merintah ditujukan pada pe-mulihan ekonomi akibat krisis moneter.
Pada perkembangannya, dia-dakan rapat pimpinan negara BIMP-EAGA di Bali tahun 2003 dan memutuskan untuk mem-fokuskan kerjasama regional di bidang pariwisata, transportasi dan agriindustri. Eksistensi BIMP-EAGA tak terlepas dari dorongan Asian Development Bank yang sejak pembentukan-nya mencoba untuk memfasili-tasi strategi pembangunan ka-wasan dengan menyusun mas-ter plan-nya.
Hal ini ditambah juga dengan bantuan teknis untuk memper-baharui arah kerjasama dengan konsep ASEAN yang terkait yak-ni Initiative for ASEAN Integration.
Perlu diketahui bahwa konsep pengembangan kerjasama ka-wasan BIMP-EAGA saat ini te-lah diadakan studi dan kajian yang dilakukan oleh Tim Kon-sultan yang dibentuk oleh ALMEC Coorporation bekerja-sama dengan PT Saka Adhi Prada dan Sekretariat Jenderal Departemen Perhubungan se-bagai Institusi Pelaksana. Hasil studi adalah berupa cetak biru dan rencana tindak untuk pe-ngembangan sektor transporta-si subregional guna memperce-pat kerjasama, mengurangi ke-miskinan, serta mendorong per-damaian dan keamanan.
Adapun bagian wilayah di In-donesia yang termasuk pro-gram untuk kerjasama ekono-mi regional BIMP-EAGA ter-masuk 12 propinsi yakni Kali-mantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku dan Papua. Berdasarkan pengamatan di atas, maka eksistensi BIMP-EAGA akan diarahkan pada pengembangan fasilitas dan kebutuhan kerjasama yang pada tahapan rencana kerja-nya bertumpu pada pengemba-ngan 3 sektor di atas yakni tran-sportasi, pariwisata dan agri-bisnis.
Pendekatan Sektoral Berbasis
Jika pengembangan kerjasa-ma ekonomi regional BIMP-EAGA untuk mendorong perce-patan pembangunan dan kese-jahteraan di kawasan, kebutu-han mendasar adalah pendeka-tan sektoral berbasis yang lebih melekat pada usaha untuk meningkatkan produksi perta-nian dan perkebunan serta di-hasilkan oleh penduduk di ka-wasan zona BIMP-EAGA terse-but. Peningkatan produksi bagi usaha pertanian memer-lukan ekstensifikasi dan intensifikasi, sehingga dapat memenuhi cakupan permin-taan pasar regional dan me-nambah pendapatan secara nasional.(bersambung)
|
|