HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

16 April 2008

Soal Pilcarek, Jangan Dahului Keputusan Pusat


Berbagai tanggapan menarik terus bermunculan menyikapi perkembangan pascapemili-han calon rektor (Pilcarek) ‘part II’ Unsrat. Kali ini, sejum-lah akademisi Unsrat berulang kali memintakan agar semua pihak tidak mendahului kepu-tusan pusat.
“Saat ini tiga nama calon rektor sementara berproses, jadi sebaiknya jangan menda-hului keputusan pusat. Hal ini perlu disampaikan, agar nanti-nya juga tidak menimbulkan kebingungan dalam masyara-kat,” tukas akademisi Unsrat Drs Jhon Montolalu kepada ko-ran ini, kemarin (15/04). 
Dosen FISIP ini mengimbau, sebagai akademisi yang me-ngerti aturan, sudah seharus-nya civitas akademika Unsrat mengacu pada aturan berlaku, yakni Kepmen 284 Tahun 1999. 
“Yang intinya bahwa kewe-nangan senat hanya sampai pada penjaringan calon saja. Mengenai siapa yang akan di-definitifkan, itu sepenuhnya ke-wenangan pusat,” tandasnya.
Pada bagian lain, dirinya menegaskan bahwa siapa pun yang nantinya ditetapkan, harus diterima oleh semua pihak. “Pemerintah pusat juga pasti tidak akan seenaknya mengambil keputusan. Pasti ada kajian dan kriteria yang menjadi dasar keputusan mereka,” imbuhnya.
Pendapat senada disampai-kan Prof Dr D Sembel. Dekan fakultas pertanian ini berpen-dapat, adanya ucapan selamat sebagai rektor terhadap calon tertentu, sudah mendahului. 
“Tunggu dululah. Kecuali sudah ada penetapan dari pu-sat, baru memberikan ucapan selamat,” tukasnya menang-gapi adanya ucapan selamat kepada Prof Dr Donald Ru-mokoy sebagai Rektor Unsrat yang dimuat di media.
Pihaknya bukan bermaksud tidak mendukung, akan tetapi supaya tidak terjadi salah kaprah. “Kalau sudah pasti tidak apa-apa. Takutnya ka-lau pemerintah pusat pilih yang lain, siapa yang malu?” ujar Prof Sembel sembari mengharapkan semua pihak untuk mengikuti proses mekanisme yang telah diten-tukan karena hasil pemilihan ini belum final.
Sementara itu, Dekan Fa-kultas Sastra Unsrat, Ray-mond Mawikere MHum ketika dimintai tanggapan hanya menjelaskan soal tahapan penjaringan. 
Katanya, sejak proses pen-daftaran, penjaringan hingga tahap pemilihan, sudah se-suai dengan aturan. Di mana ada tiga calon yang terjaring. Tahap selanjutnya, kata dia, tiga calon dibawa ke pusat untuk selanjutnya ditetapkan siapa yang menjadi Rektor Unsrat. 
RUMOKOY
Pada bagian lain, calon rek-tor dengan suara terbanyak, Prof Dr Donald Rumokoy ke-pada wartawan koran ini di Fakultas Hukum kemarin (15/04) mengatakan, jika dirinya sudah menjadi Rektor Unsrat, dia tidak akan mem-perkenankan koran ini me-wawancarainya. Pasalnya, berita tentang pilcarek koran ini, tidak mengenakkan di telinganya karena tidak ob-jektif. 
Rumokoy juga sempat me-nunjukkan ketidaksukaan-nya terhadap berita tentang statemen Dr Arnold Laoh. Pa-dahal statemen Laoh sendiri sangat baik untuk kemajuan Unsrat. Seperti diketahui, Laoh dalam wawancara tele-pon dengan Komentar menga-takan, seorang pimpinan uni-versitas, harus bisa memiliki aksesibilitas yang luas ke dunia internasional. ‘’Dia ha-rus menciptakan dan mem-bangun networking interna-sional guna menaikkan gengsi dan kualitas universitas. Hal ini tentunya akan sangat ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi,’’ tandas Laoh. 
Ada pun kemampuan untuk berkomunikasi, sangat diten-tukan oleh kemampuan ber-bahasa asing, selain kualitas intelektual dan integritas pribadi yang bersih. ‘’Jadi se-orang rektor itu harus benar-benar menguasai bahasa asing. Apalagi menjelang WOC mendatang,’’ katanya. Rumokoy juga menuding, per-nyataan Laoh sudah beberapa kali dimuat. Namun menurut catatan koran ini, itu meru-pakan statemen pertama Laoh soal pilcarek. 
Sayangnya Rumokoy ketika coba dihubungi lewat hand-phone-nya (08114300**) tadi malam, tidak dalam keadaan aktif. 
Sementara itu, Pembantu Dekan III, Tonny Rompis ke-tika ditelepon tadi malam mengatakan, ketika bertemu wartawan koran ini yang se-dang berada di fakultas hu-kum, dia berinisiatif memper-kenalkan kepada Rumokoy selaku dekan. 
Wartawan koran ini sendiri sebenarnya tidak ada maksud menemui dekan, namun se-batas mengurus soal lain yang berhubungan legalisasi ijazah. Menurut Supit, saat Rumokoy bertemu wartawan koran ini, terjadi dialog. Supit membantah adanya nada emosi dari Rumokoy. ‘’Saat itu malah dialognya ketawa-keta-wa,’’ katanya. Kemudian Ru-mokoy memang menyatakan, dia tidak mau diwawancarai sehubungan pemberitaan yang dinilainya tidak adil. “Jika wartawan (Komentar) tetap begitu, sampai saya rektor tidak mau diwawancarai Ko-mentar,’’ kutip Supit soal per-nyataan Rumokoy yang dini-lainya itu biasa-biasa saja. 
Namun wartawan koran ini yang mendengar langsung beranggapan sebaliknya. Nada bicara Rumokoy terkesan emosional. Saat bicara di depan pintu, Rumokoy jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan-nya terhadap pemberitaan koran ini.(sel/vic/rik)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin