|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
16 April 2008
|
|
Dr Agus Berupaya Jalin
Kontak Radikal Suriah
|
Dokter Agus Purwantoro dan Abu Husnah ditangkap Kepo-lisian Raja Malaysia pada akhir Januari 2008. Kedua-nya kini mendekam di Rutan Brimob Kelapa Dua, Depok. Pemeriksaan sementara me-ngatakan, kedua tersangka te-rorisme ini akan pergi ke Ti-mur Tengah.
“Mereka akan berangkat ke Suriah untuk menjalin kontak dengan radikal asing,” kata Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Polisi Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (15/04). Namun Anton belum dapat menyebutkan nama organisasi yang akan ditemui Agus dan Abu. “JI atau apa kita sampaikan nanti sete-lah perkembangan selanjut-nya,” ujar Anton. Anton menga-takan dua tersangka dibawa ke Indonesia setelah dideportasi dari Kuala Lumpur pada 28 Maret 2008. “Kita langsung me-nahan mereka dan sekarang kita periksa keterlibatan mereka dalam terorisme,” kata Anton.
NAMA SAMARAN
Dedi Ahmad Mahdan. Itulah nama dr Agus Purwantoro yang tertera dalam paspor yang disita polisi Malaysia. “Nama sama-rannya banyak, Agus Purwan-toro alias Tri Susanto alias Idrus alias Abas,” kata Anton Bachrul Alam seperti dikutip detik.com.
dr Agus disebut-sebut pernah mengobati Noordin M Top. Dia pun dikabarkan memegang posisi sebagai Ketua JI Poso. “Dia berubah-ubah namanya,” ujar Anton.
dr Agus menurut Anton kini berusia 39 tahun dan beralamat di Petemon, Surabaya. “dr Agus dicari polisi terkait kasus te-rorisme di Poso,” imbuhnya. Sedang tersangka lainnya Abu Husna yang disebut-sebut Ke-pala Markaziyah Tarbiyah atau Kepala Pendidikan Jamaah Islamiyah. “Di paspor dia ter-catat sebagai Oktariadi Anis alias Abdurohim bin Toyib, alias Hasan, alias Abu Umar. Yang bersangkutan diduga terkait ra-pat-rapat di Jawa Tengah terkait bom Poso,” jelas Anton.
Ada pun catatan aksi dr Agus di Poso yakni perampokan toko emas di Jalan Wolter Mongin-sidi, Palu, pada Februari 2006. Dalam merampok 3 kilogram emas itu, dr Agus menewaskan pemilik toko. Lalu dia terlibat mutilasi siswi SMA Poso pada 29 November 2005 dan Bom Tentena 28 Mei 2005. “Mereka mengaku terlibat jaringan teroris, tapi sejauh mana sedang kita selidiki,” tandas Anton. Tapi kabar terakhir menyebutkan, mereka tidak terkait JI, me-lainkan hanya dalang keru-suhan Poso.(dtc/zal)
|
|