|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
17 April 2008
|
|
Imajinasi Manado Kota Pariwisata Dunia
Oleh: Drevy Malalantang SSi SE MPd
Cermin dan Topeng(5)
|
Untuk mengendalikan perkembangan yang amat pesat tersebut, pemerintah daerah Bali kemudian menetapkan 15 kawasan di Bali sebagai daerah akomodasi wisata berikut sarana penunjangnya seperti restoran dan pusat perbelanjaan. Hingga kini, Bali telah memiliki lebih dari 37.000 kamar hotel terdiri dari kelas Pondok Wisata, Melati Hotel hingga berbintang lima. Sarana hotel-hotel tersebut tampil dalam berbagai variasi bentuk mulai dari model rumah, standar hotel, villa, bungalow dan boutique hotel dengan harga yang bervariasi. Keanekaragam ini memberi nilai tersendiri bagi Bali karena menawarkan begitu banyak pilihan kepada para wisatawan. Bali pun ‘booming’ wisatawan.
Perkembangan kunjungan wisatawan membuat sarana wisata penunjang pariwisata tumbuh dengan pesat seperti restoran, art shop, pasar seni, sarana hiburan dan rekreasi. Meski sempat dua kali di gun-cang Bom, saat ini minat wi-satawan untuk mengun-jungi Bali sangatlah tinggi, Keka-guman akan tanah Bali ke-mudian menggugah minat orang asing memberi gelar kepada Bali sebagai The Island of Gods, The Island of Paradise, The Island of Thou-sand Temples, The Magic of The World, dan berbagai na-ma pujian lainnya yang ber-gema menyanjung Bali di dunia pari-wisata Interna-sional.
Masih ingat dengan North Sulawesi Tourism Develop-ment Corporation? Sebuah rencana proyek raksasa, ren-cana yang luar biasa bagusnya yang sudah dimulai dengan kerajaan Manado Beach Hotel, namun sayang tidak dijalan-kan secara konsisten, akhir-nya tinggal kenangan, hancur lulu lantah, berantakan?
Mungkinkah Manado Tourism Development Corpo-ration dikembangkan untuk mengembangkan kawasan Manado bagian utara Molas-Tongkeina dijadikan kawas-an pariwisata selayaknya kawasan Nusa Dua, Bali yang dikembangkan oleh BTDC yang menjadi cikal bakal booming-nya pariwi-sata Bali?
Ataukan kawasan Manado International City dan seki-tarnya di bilangan Kayuwatu, siapa tau bercermin konsep itu Manadopun bisa menjel-ma sepertihalnya Bali yang sudah lebih dahulu menjadi daerah tujuan pariwisata dunia.
Regulasi dan Kebijakan Pemerintah
Bercermin Bali, Bali kini me-ngoleksi 1.437 jumlah akomo-dasi terdiri dari 148 hotel ber-bintang, 849 hotel melati dan 440 pondok wisata, dengan to-tal room sebanyak 37.371, ke-mudian koleksi biro perjalalan wisata, cabang biro perjalanan wisata dan agen perjalanan wisata dengan total sebanyak 439, selanjutnya koleksi 382 bar dan 16.010 restoran, dari sejumlah bar dan restoran di atas 231 bar dan 9.431 res-toran dikontribusi oleh Kabu-paten Badung.
Belum lagi usaha jasa MICE seperti Bali Meetings, Tour East Utama, Sekar Bali Con-vention, Mahkota Convexpo Mulia, Santa MICE, Gajah Bali Convexindo dsb, yang terma-suk dalam usaha jasa besar dibidang MICE. (Dispar Pro-pinsi Bali: 2007)
Mungkinkah Manado meng-ikuti jejak Bali yang saat ini sudah menjadi kota pariwisata (Dunia)?
Jawabnya harus bisa! Ka-rena visi MKPD sudah dilem-par, jangan hanya dianggap sekadar jadi statement politis saja, dan memang harus op-timis dengan segala upaya. Bagaimana caranya?
Salah satunya ‘rangsang’ in-vestor untuk untuk berinves-tasi membangun sarana pe-nunjang pariwisata hotel, resort, travel dan usaha lain di bidang pariwisata, di mana-mana di seluruh pelosok Kota Manado, sebagaimana yang kita lihat di Bali.
Ada kalangan berkomentar bahwa nantinya hotel atau resort sebanyak itu nantinya siapa yang menggunakan atau menginap?
Jawabnya, ya kita ndak bisa tinggal diam dan pemain pa-riwisata seperti itu masih berorientasi lokal padahal seharusnya menuju kota pa-riwisata dunia, kita harus me-rubah pola pikir local orien-tation menjadi global cosmo-polit, market yang dibangun haruslah market luar Sula-wesi bahkan luar negeri.
Logikanya ketika investor sudah berani mananamkan modalnya di Manado, adalah hal yang tidak mungkin apa-bila ‘dia’ cuman tinggal diam dan tidak berusaha memasar-kan apa yang diinvestasikan, supaya laku. Betul?
Kalau ‘dia’ cuman diam saja maka investor seperti ini cepat atau lambat akan gulung tikar atau pasti mati berdiri.
Atmosfir atau iklim sangat memegang peranan penting untuk mendatangkan wisata-wan melancong ke kota Ma-nado. Sebagai contoh atmosfir di Bali menjadi faktor yang sa-ngat berperan, saking banyak-nya akomodasi di seluruh pe-losok, di tepi pantai, gunung, bukit, di hutan, tebing, di sa-wah, sungai dan di mana saja, bahkan di tengah-tengah pe-mukiman penduduk pun di-bangun villa ataupun hotel berbintang yang luar biasa bagusnya dan pengusaha ini berlomb-lomba (berkompetisi) memasarkan usaha yang di-milikinya tentu dengan daya tarik dan keunikannya ma-sing-masing, wisatawan pun tertarik dan berbondong-bon-dong datang.
Akhirnya apa saja yang di-bangun atau dibuat di Bali pasti laku terjual di pasar du-nia. Dari patung kayu, patung batu, lukisan, kaos, celana pendek, tas, sandal, topi, lam-pu, sampai bar, cafe, resort, hotel, villa dan apa saja.
Lantas bagaimana supaya investor benar-benar termoti-vasi untuk berinvestasi di Ma-nado? Jawabnya dengan ima-jinasi seandainya pemerintah membuka kran regulasi dan kebijakan sebesar-besarnya agar investor diberikan ba-nyak kemudahan bahkan fa-silitas khusus.
Misalnya, investor yang mem-bangun usaha di bidang pari-wisata seperti hotel, resort, di-ving centre, travel, dll sebelum tahun 2010 dibebaskan dari biaya seperti pengurusan IMB, Pajak Jual Beli Tanah, SITU, SIUP dll, yang sampai saat ini masih menjadi momok peng-usaha yang bermaksud ber-investasi dan berusaha, ka-rena banyak pungutan tidak resmi dan birokrasi yang ‘menjengkelkan’.
Sistem pelayanan satu atap ataupun satu pintu masih di-rasa belum pas karena hanya berada di satu atap saja atau satu pintu tapi tetap harus melalui banyak loket dan me-lewati banyak meja yang pasti akan digerogoti dengan buda-ya amplop sebagai pelicin su-paya urusan cepat kelar. ‘Se-andainya’ bisa disederhana-kan menjadi cuma jadi satu lo-ket untuk semua urusan, ma-ka amplop pelicin pun cuma jadi satu saja (kalau masih perlu amplop).
Atau mungkin perlu dikem-bangkan e-government, segala urusan pedaftaran, pengisian formulir dilakukan lewat inter-net dan dapat dipantau lewat internet lampiran berkasnya tinggal dimasukkan dan urusannya bisa cepat beres.
Mungkin ide regulasi yang tidak populer karena di tengah usaha pemerintah menggenjot sektor pendapatan pajak, lan-tas pemerintah harus mem-bebaskan pajak?
Mungkin bagi pemerintah ini tidak menarik, tetapi bagi in-vestor akan menarik seme-narik Kota Manado masa de-pan.
Tapi untuk menggenjot sesuatu MKPD yang luas biasa itu, kita perlu melakukan hal-hal yang luar biasa juga. Arti-nya MKPD ini susah terwujud kalau kita cuma melakukan dengan biasa-biasa saja! Menggapai sesuatu pasti ada yang harus yang dikorbankan dulu, atau harus ada pengor-banan, Nothing good come easy.
Peranan pemerintah kota di sini dituntut harus benar-benar merubah jiwa bureau-cratic-monopolistic government menjadi 100 persen berjiwa Enterpeneurial competitive government artinya peme-rintah yang jeli dan selalu ber-pikir keras untuk melihat dan memanfaatkan peluang yang muncul untuk memakmurkan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya, serta mendorong adanya kompetisi antara penyedia layanan pu-blik dalam upaya mereka memberikan excellent service kepada pelanggannya.
Apakah itu investor, wisata-wan atau masyarakat luas?
Lanjut, pemerintah terus berupaya membangun rasa percaya antara pemerintah daerah dengan pelanggannya. Bagaimana kepercayaan dan kredibilitas dibangun?
Jawabnya kemampuan kita memenuhi janji kepada pe-langgan. Semakin kita mam-pu memenuhi janji, maka se-makin tinggi pula tingkat ke-percayaan dan kredibilitas di mata pelanggan dan akhirnya semakin kokoh dibenak pe-langgan. Sembari menegak-kan supremasi hukum, agar tidak dianggap plin-plan ka-rena ada kepentingan di sana sini.
Mungkinkah itu dilakukan pemerintah kota?
Tanyakan pada rumput yang bergoyang! Namun kalau pe-merintah kota memiliki good will untuk itu, marilah kita rame-rame jawab, “Ayo kamu bisa!!”.(bersambung)
|
|