|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
19 April 2008
|
|
Sulut bisa golput besar-besaran
Rohaniawan Kristen Tolak Pemilu 5 April
|
Kalangan rohaniawan kris-ten di Sulut, bereaksi terkait pelaksanaan Pemilu 5 April 2009 mendatang. Mereka menyatakan penolakan atas jadwal yang ditetapkan KPU tersebut, karena 5 April 2009 bertepatan dengan hari Minggu, di mana umat kris-ten menjalankan ibadah mingguan di gereja.
Ketua Pucuk Pimpinan Ke-rapatan Gereja Protestan Mina-hasa (KGPM), Gbl Teddy Ba-tasina mengatakan, seharus-nya hari pelaksanaan pemilu harus dipertimbangkan peme-rintah, bukan hanya dari sisi politis tapi juga dari aspek so-sio kultur dan religi.
“Artinya, pelaksanaan pesta demokrasi ini harus menjun-jung tinggi nilai-nilai spiritual, terutama menyangkut hari-hari besar dan kegiatan keaga-maan lintas agama,’’ tandas-nya.
Senada disampaikan tokoh agama Katolik, Pastor Fred Tawaluyan. Katanya, Indone-sia merupakan negara Panca-sila yang mengakui hak dan kebebasan warga negaranya untuk menjalankan agama termasuk kegiatan keagamaan masing-masing. Oleh sebab itu, dengan tidak menjad-walkan pemilu pada hari ke-agamaan, itu berarti peme-rintah menghargai umat ber-agama.
“Kalau tidak dilaksanakan pada hari keagamaan, berarti ada penghargaan terhadap umat beragama. Hal itu men-cerminkan sikap akomodatif sekaligus kesadaran peme-rintah dalam menghargai ke-bebasan beragama,” jelas Ta-waluyan.
Sementara itu, mantan Ketua Badan Pekerja Sinode (BPS) GMIM, Pdt DR AF Parengkuan, mengharapkan kearifan peme-rintah untuk bisa meninjau kembali penetapan pelaksa-naan pemilu tersebut. “Sepan-jang hari (Minggu) itu, umat kristiani dihadapkan dengan berbagai ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya. Memang juga harus dicari tahu apa dasar sehingga KPU menetap-kan pemilu pada hari Minggu. Namun alangkah baiknya me-mang kalau dilaksanakan pada hari lain,” tukasnya singkat.
Sedangkan Wakil Ketua DPRD Sulut, Arthur Kotam-bunan menyayangkan jadwal KPU yang menetapkan pemilu 5 April 2009 pada hari Minggu. ‘’Ini bisa saja terjadi golput be-sar-besaran di Sulut saat pe-milu,’’ khawatirnya. Sebab se-tahu dia, jika pelaksanaan pe-milu berlangsung pukul 09.00 Wita sampai 13.00 Wita, itu ber-tabrakan dengan jam ibadah pagi-siang. ‘’Pemerintah seha-rusnya arif dalam menetapkan jadwal pemilu. Kami dari PDS sendiri akan menanyakan ke KPU soal tersebut, sekaligus meminta jadwalnya ditinjau,’’ tandas Ketua DPW PDS Sulut ini.
Sebelumnya, protes terhadap pemilu ‘’Hari Minggu’’ sudah dilontarkan Wakil Ketua Umum DPP PDS, Denny Tewu. Tewu mengatakan, akan me-nanyakan alasan KPU terkait jadwal yang bertabrakan de-ngan hari ibadah mingguan umat Kristen.
Sedangkan Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Andi Nurpati mengatakan, pelaksa-naan pemilu tetap diseleng-garakan seperti jadwal pemilu sebelumnya, yakni pada 5 April. Katanya, sebelum jadwal ini ditetapkan, KPU telah me-lakukan koordinasi dengan lembaga pemerintahan Depar-temen Dalam Negeri serta men-sosialisasikan jadwal itu mela-lui media massa.(gra/shc)
|
|