HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

21 April 2008

Minyak mentah dunia sentuh US$ 117 per barel
Harga BBM Naik atau APBN Jebol


Pemerintah dilanda dile-matis. Kenaikan harga mi-nyak mentah dunia yang sempat menyentuh USD 117 per barel akhir pekan lalu, membuat subsidi mem-bengkak. Mau tak mau, pe-merintah harus menaikkan BBM jika tidak ingin APBN jebol. Tapi menaikkan BBM bisa menjadi bumerang bagi pemerintah, karena akan menimbulkan protes dari masyarakat. 

Oleh sebab itu, Akademisi UGM Edy Suandi dan Kepala Ekonomi LIPI, Wijaya Adi me-ngatakan, pada situasi seka-rang ini, pemerintah harus berhati-hati karena siapa pun yang memegang kekuasaan akan berada pada posisi yang dilematis. “Kenaikan harga BBM sulit dihindarkan meng-ingat perkembangan harga minyak dunia terus naik,” kata Edy. 
Jika pemerintah tidak meng-ambil kebijakan ekonomi yang tepat dan menunggu sampai usai Pemilu 2009, APBN bisa jebol. “Pemerintah harus mau mengoreksi pernyataannya yang tidak ingin menaikkan harga BBM sampai 2009,” katanya. Ia menyatakan jika terpaksa menaikkan harga BBM, pemerintah harus me-nyusun mekanisme yang te-tap dan tidak seperti seka-rang. Subsidi seperti sekarang ini memang banyak jatuh kepada orang-orang yang tidak berhak menerimanya. “Ini memang pekerjaan yang sangat sulit tetapi harus di-lakukan,” katanya.
Mekanisme subsidi harus berfilosofi for the people bu-kan for the community. Jika mekanisme subsidi masih dipertahankan, 81 persen penggunaan BBM bersubsidi akan jatuh pada orang yang tidak berhak. 
Selain itu, pemerintah bisa memangkas pengeluaran yang tidak perlu seperti pem-bangunan fisik seperti ge-dung, kantor dan sebagainya. Pemangkasan ini juga akan mempengaruhi departemen dan nondepartemen yang se-belumnya telah mengalami pemotongan anggaran.
Ia mengingatkan agar pihak-pihak yang di luar kekuasaan untuk tidak menggunakan isu ini untuk menyerang peme-rintah. “Siapa pun akan meng-alami dilema karena hal ini juga terjadi di negara-negara lain,” katanya seperti dilansir www.sinarharapan.co.id.
Wijaya Adi berpendapat apa-bila pemerintah menaikkan harga BBM itu berarti bagai menjilat ludah sendiri. Tetapi jika kondisi terus memburuk, memang hal tersebut tidak bisa dihindarkan. Secara ekonomi-politik, pemerintah memang sulit untuk meng-ambil keputusan.
Jika menaikkan harga BBM akan menjadi sasaran protes masyarakat dan lawan-lawan politik, namun jika tidak, APBN akan terancam. 
Di sisi lain, jika pemerintah tidak menaikkan harga BBM, proyek-proyek infrastruktur yang digunakan untuk men-dukung pertumbuhan ekono-mi akan terganggu. Demikian pula program-program pem-berdayaan dan pengentasan kemiskinan juga akan ter-ganggu.
Sedangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mene-gaskan pemerintah tidak akan buru-buru menaikkan harga minyak domestik, mes-kipun harga minyak dunia sudah menyentuh US$ 116 sampai 117 per barel “Tapi kita tidak bisa begitu saja menaikkan BBM, baik itu harga minyak tanah, pre-mium dan solar. Kita cari akal yang lain untuk tidak buru-buru menaikkan,” ujar presi-den dalam sambutannya saat makan siang dengan para tokoh dan aktivis perempuan di Istana Merdeka, Jakarta, akhir pekan (18/04) lalu. 
Secara terpisah, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Imam Sugema dan ekonom dari Lembaga Penye-lidikan Ekonomi dan Masya-rakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Ninasapti, membe-rikan sedikit solusi. Pemerin-tah seharusnya meningkat-kan produksi minyak dalam negeri sebelum menaikkan harga BBM. Hal ini untuk meminimalkan dampak bu-ruk kenaikan minyak mentah dunia. Selain itu, pemerintah juga diminta konsisten me-wujudkan rencana diversifi-kasi energi. Dengan demikian, kebergantungan terhadap BBM bisa dikurangi.
Menurut Imam, mengatasi kenaikan harga minyak dunia dengan menaikkan harga BBM, dirasa kurang signifikan un-tuk menyelesaikan masalah. “Untuk mengatasi dampak kenaikan harga minyak du-nia, sebetulnya bukan hanya dengan menaikkan harga BBM, tetapi juga dengan me-naikkan produksi minyak da-lam negeri,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, se-lama ini target pemerintah se-lalu meleset dan tidak tepat, sehingga minyak yang diha-silkan tidak banyak. Jika pe-merintah dapat meningkat-kan produksi minyak dalam negeri sampai 1 juta barel per hari, ia yakin dampak kenaik-an harga minyak mentah da-pat diredam, sehingga tidak memberatkan rakyat. Oleh se-bab itu, Imam meminta pe-merintah menghapus mafia BBM terlebih dahulu, serta melakukan efisiensi di tubuh Pertamina.
Sementara itu, Ninasapti melihat, persoalan yang mun-cul sekarang adalah produksi minyak dalam negeri tidak bisa menutupi konsumsi mi-nyak. Oleh sebab itu, ia me-nyarankan Indonesia segera mendiversifikasi energi. Ia memberikan pilihan, berbagai macam sumber energi peng-ganti seperti batu bara, gas bumi, air, bahkan nuklir pun, bisa digunakan. 
Sebelumnya, Menteri Ke-uangan Sri Mulyani Indrawati mengakui, pemerintah tidak menutup kemungkinan un-tuk menaikkan harga BBM, terkait dengan melonjaknya harga minyak dunia. “Kalau dimungkinkan dan dirasa perlu, kita tidak menutup kemungkinan menaikkan harga BBM. Pokoknya, kita akan melaporkan dulu ke DPR sampai Juni,” kata dia. 
Sementara harga minyak mentah melejit ke angka US$ 117 karena dibayangi ketakut-an serangan terhadap sejum-lah jalur pipa penting di Nige-ria. Ketakutan berkurangnya suplai dan melemahnya dolar AS menyebabkan tercapainya angka setinggi ini. 
Harga tersebut merupakan harga untuk minyak light sweet untuk pengiriman Mei di pasar perdagangan elektro-nik. Sebelumnya angka terse-but telah mencapai US$ 116,69—naik US$1,83 dari harga Kamis. 
Lonjakan ini terjadi setelah Gerakan Emansipasi Delta Niger—kelompok utama di selatan Nigeria—mengatakan bahwa mereka telah menya-botase jalur pipa minyak uta-ma yang dioperasikan oleh perusahaan kerjasama de-ngan Royal Dutch Shell PLC. Kelompok tersebut menjanji-kan serangan lebih lanjut ke industri minyak di negara pro-duser minyak mentah terbe-sar di Afrika itu. Seorang Juru Bicara Shell mengkonfirmasi-kan bahwa pipa mereka bo-cor, dan mengatakan bahwa kerusakan tersebut disebab-kan oleh ledakan.
Akibat harga minyak dunia melejit terus, kini harga-harga komoditas terus naik. Itu bu-kan hanya minyak. Sebab logam, komoditas perke-bunan dan beras kembali mengukir harga melangit.(shc/zal/spb)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin