HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

21 April 2008

Turun Gunung, Manuver Harmoko Disayangkan


Harmoko akhirnya ‘turun gunung’ lagi untuk berpolitik praktis setelah lama berdiam diri, bahkan ‘menghilang’. Menariknya, saat comeback, Mantan Ketua MPR dan pentolan Golkar itu, memilih mendeklarasikan partai baru. Namanya Partai Kerakyatan Nasional (PKN). Lalu apa reaksi politisi dan para peng-amat politik? 
Mereka menyayangkan ma-nuver Harmoko tersebut. Kenapa? “Meski mendirikan partai adalah hak warga ne-gara, namun bagi seorang Harmoko tidak perlu ikut-ikutan bikin parpol. Bukan-kah beliau pernah memimpin Golkar, dan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara tetap bisa dilakukan melalui partai Golkar yang dulu per-nah dipimpinnya,” ujar fung-sionaris Partai Golkar Ferry Mursyidan Baldan di Jakarta, Minggu (20/04). 
Menurut Ketua Pansus RUU Pilpres ini, biarlah ruang men-dirikan parpol baru menjadi ruang bagi masyarakat yang be-lum pernah berpartai. “Sehingga pertumbuhan partai baru benar-benar membawa angin segar bagi bangsa, bukan sekadar daur ulang dengan ‘baju baru’,” ujar Ferry. Dia khawatir, jika tokoh lama mendirikan partai baru, pertumbuhan partai baru akan berjalan di tempat. 
Sedangkan pengamat komu-nikasi politik, Effendy Gazali menilai mantan Menteri Pene-rangan di era orde baru yang mendirikan Partai Kerakyatan Nasional (PKN) hanya mencari penyakit. “Harmoko lebih baik diam dan menyadari kesalah-annya di masa lalu,” katanya seperti dikutip tempointeraktif.
Menurut Effendy, dengan kemunculan Harmoko kem-bali ke pentas politik, justru dapat memancing orang un-tuk melihat kembali kesalah-annya di masa lalu. “Kalau ada yang mau menggugat dia (Har-moko), maka akan lebih mudah karena sudah banyak bukti kesalahannya,” sambungnya.
Menanggapi klaim PKN sebagai partai kaum muda itu, Effendy berpendapat bahwa hal itu tidak akan menarik simpati masyara-kat. “Kaum muda tidak perlu di-usung kaum tua, apalagi Har-moko,” Lanjutnya. Effendy juga menganggap upaya PKN yang menggaet Djamal Mirdad dan Ayu Azhari tidak akan berpe-ngaruh. “Kedua artis itu bukan figur yang selama ini aktif di politik,” ungkapnya.
Sebelumnya, dalam wawan-cara Komentar dengan Har-moko sewaktu berkunjung ke Ratahan lalu, dia mengatakan tidak akan terjun lagi di politik. “Saya sudah tua,’’ akunya waktu itu. Namun pernyata-annya tersebut terbantahkan, setelah Harmoko membidani lahirnya partai baru bernama PKN.(zal/tmp/*)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin