|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Ekonomi dan Bisnis |
21 April 2008
|
|
Harga Kertas Naik,
Bisnis Media Cetak Terancam
|
Kenaikan harga kertas yang terjadi selama ini, membuat sejumlah pelaku bisnis media cetak terancam gulung tikar. “Keuntungan yang diperoleh bisnis tersebut sekarang sangat kecil dibanding tahun lalu, akibat harga kertas yang melonjak tinggi saat ini,” tukas Efraim Lengkong, salah satu pelaku bisnis media mingguan ternama di Sulut, Jumat (18/04).
Pimpinan penerbit tabloid Identitas ini mengatakan, ke-naikan harga kertas terjadi se-tiap dua bulan sekitar 5 persen, ini sudah berlangsung sejak awal Januari 2008 lalu. Hal ini bila berlanjut sejumlah usaha media cetak bakal tutup karena tak dapat mengimbangi ke-untungan yang diperolehnya, kecuali media harian yang sudah mapan seperti Komentar dan Manado Post, omzetnya sudah mampu menutupi harga kertas.
“Sekarang ini tabloid Indentitas hanya bisa mampu bertahan dengan omzet dari iklan, kalau harga jual koran tak mungkin diimbangi. Jalan terbaik yang bisa dilakukannya adalah me-naikan harga jual supaya dapat memperoleh laba,” tukasnya.
Menaggapi akan masuknya media harian baru di Sulut, di-angapnya wajar saja. Namun, harus dilihat jumlah investasi-nya, bila cukup silakan bersa-ing dengan media harian lain-nya. “Minimal selama setahun harus berani berkompetisi,” kata Lengkong.
Sementara Kepala Perum Per-cetakan Manado, Johanes Assa ketika dihubungi membenarkan hal tersebut, “Sekitar 30 sampai 40 persen pelaku bisnis media cetak yang bekerja sama dengan percetakan Manado tidak lagi melakukan aktivitasnya, mere-ka itu diangap ‘kolaps’, katanya.
Namun, bagi media yang manajemennya mapam tidak perlu takut, pasti bisa berta-han lama, jelas Assa.(wel)
|
|