CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Minut
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

Berita Minahasa Selatan 

24 April 2008

Pabrik minuman mulai ‘gulung tikar’ 
Ribuan Petani Cap Tikus Minsel Mengaku Resah

 

 IKUTI BERITA LAIN

Diduga mulai disalahgunakan
Mobnas Bamag Minsel Didesak Segera Ditarik 
Soal UN berbeda jauh dengan soal pra ujian
Peserta UN SMA/SMK Minsel Mengaku Kelabakan
Pengoperasian TPA Kawangkoan Bawah diprotes
Warga Curhat ke Dewan Soal Ganti Rugi Lahan

Ribuan petani minuman tradisional cap tikus asal Ka-bupaten Minsel, mengaku ak-hir-akhir ini mereka mulai su-lit untuk menjual hasil cap ti-kus ke sejumlah pabrik mi-numan di Kota Manado dan sekitarnya. Ini diakibatkan para pabrikan minuman keras ini mulai menutup bisnis usa-ha mereka akibat mulai keha-bisan modal. 

Menyikapi situasi ini, para petani cap tikus Minsel mulai menjerit dan meminta perha-tian Pemkab Minsel terlebih khusus para wakil rakyat yang duduk di gedung DPRD Minsel agar ikut memperhatikan na-sib mereka. 
Seperti diutarakan petani cap tikus asal Kecamatan Motoling, Hendrik F Tiwa, bila pabrikan minuman keras tidak menerima lagi hasil produk cap tikus, ma-sa depan keluarga mereka da-lam keadaan terancam.
“Bayangkan saja, petani cap tikus di Minsel ada sekitar 10 ribu jiwa. Kalau hasil cap tikus kami tak diterima lagi otomatis ke depan kami siap mengang-gur dan nasib anak istri nda tahu mau kasih makan apa. Kami cuma berharap legislatif Minsel dan Pemkab Minsel mau membantu memberikan solu-sinya,” kata Tiwa. 
Hal senada diungkapkan pe-tani cap tikus asal Kecamatan Kumelembuai, Marthen Lom-bok. Menurutnya, para petani kini dalam posisi terancam dan terpojok karena sebentar lagi bakal kehilangan mata pencari-an yang sejak dahulu banyak melahirkan sarjana-sarjana andal dari Minsel. “Produk cap tikus saat ini melimpah. Kalau sudah dibatasi, kerugian petani juga akan dirasakan pemerin-tah,” beber Lombok.(pen)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin