CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Minut
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

24 April 2008

Emansipasi Wanita(1)
Oleh: Ir Herny EJ Simbala MSi

 IKUTI BERITA LAIN

Kartini dan Agama(2) 
Oleh: Augustien Kapahang-Kaunang*
Antisipasi Krisis Pangan dan Energi
Ijazah Ilegal Perlu Diseriusi Pemerintah


Hari Kartini yang kita peringati setiap tahun merupakan tonggak sejarah yang penting dalam membangkitkan kesadaran perempuan Indonesia. Prinsip Kartini di masa lampau bukanlah menyamakan kedudukan dengan laki-laki akan tetapi baginya perempuan harus memiliki kemampuan (pendidikan dan ketrampilan) sehingga mampu mensejahterakan dirinya dan orang lain. Inilah Dasar yg dibangun Kartini sehingga dapat melahirkan perempuan Indonesia masa kini yang tidak saja mampu melakukan pekerjaan rumah tangga akan tetapi mampu berprestasi di segala bidang.

Bagi saya pribadi, emansi-pasi adalah bagaimana pem-berdayaan seorang perem-puan agar memiliki kemandi-rian guna mencapai prestasi tertinggi sehingga mempunyai peluang yang sama dengan kaum laki-laki dalam pemba-ngunan di segala bidang. Emansipasi yang sebenarnya adalah saat di mana perem-puan menjadi mitra kerja yang sepadan dengan laki-laki. 
Perempuan itu bukan hanya penghias rumah tangga, bu-kan pula simbol status bagi seorang laki-laki. Perempuan masa kini bukan lagi sosok yang lemah, karena pada da-sarnya perempuan memiliki kemampuan yang sama de-ngan laki-laki apabila didu-kung dengan pendidikan dan ketrampilan.
Bagi saya pendidikan itu sa-ngat penting sebab dalam Aga-ma yang saya yakini sebagai-mana dikatakan dalam Amsal 4:13, ‘Berpeganglah pada di-dikan, janganlah melepaskan-nya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.
Saya percaya dengan pendi-dikan dan ketrampilan Perem-puan memiliki kekuatan un-tuk menghadapi dinamika hi-dup yang sangat beragam dan penuh tantangan.
Namun, emansipasi tidak ser-ta merta membuat seorang perempuan melupakan kodrat-nya. Justru dengan emansi-pasi saya berharap kualitas hi-dup berkeluarga akan lebih baik. Karna di balik suksesnya sebuah keluarga ada seorang wanita yang kuat, sabar dan tegar memikul beban tanggung jawab sebagai seorang ibu bagi anak-anak dan istri pendam-ping suami.
Oleh sebab itu dapatlah di-katakan kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas perempuannya yang menjadi pilar pembangunan. Jika pilarnya kokoh maka bangunan di atasnya tidak akan mudah runtuh dari gon-cangan.
Tapi satu hal yang perlu di-perhatikan tapi juga sangat perlu mengkritik struktur ma-syarakat yang mengkotakkan profesi perempuan.
Lihat profesi yang diperuntuk-kan untuk wanita, kebanyak-an diberi penghargaan rendah baik dari segi prestige maupun gaji. Contohnya, sekretaris, asisten, perawat, bidan, guru sekolah, serta buruh. Banding-kan dengan direktur atau ke-pala, manajer, dokter atau do-sen. Jadi apakah selalu salah perempuan untuk berkutat dengan profesi yang tidak me-muaskan tersebut? Mungkin, tapi mungkin juga karena ma-syarakat tidak memberikan kesempatan perempuan untuk memenuhi potensi diri mereka.
Benar kalau Indonesia su-dah rela memberikan posisi presiden kepada seorang pe-rempuan, tapi apalah artinya satu orang dibandingkan ra-tusan juta perempuan lainnya.
Sudah adilkah kesempatan belajar bagi para perempuan? 
Sudah hilangkah kepercaya-an bahwa perempuan tidak patut untuk menuntut ilmu terlalu tinggi karena akhirnya pulangnya ke dapur juga?
Sudah maksimalkah duku-ngan masyarakat dan struk-tur ekonomi membantu se-orang ibu untuk bisa terus merintis karir?
Atau masihkah seorang pe-rempuan harus memilih an-tara karir dan keluarga?
Dua hal yang harus wanita sadari, melahirkan anak dan mendidiknya menjadi manu-sia yang berguna itu adalah pekerjaan paling mulia.
Makna emansipasi wanita sebenarnya bukan demi mem-peroleh persamaan hak de-ngan kaum pria. Apabila hak kaum wanita disamakan de-ngan pria, malah akan me-rugikan pihak wanita! 
Sebaliknya, hak kaum pria, secara kodrati, juga mustahil disamakan dengan wanita, akibat realita kewajiban ma-sing-masing jenis kelamin de-ngan latar belakang biologis kodrati yang tidak sama. 
Secara kodrati, meski dipak-sakan dengan cara apa pun, kaum pria tidak mungkin me-lakukan perilaku kodrati wa-nita, seperti menstruasi, preg-nasi, laktasi (datang bulan, mengandung (plus melahir-kan), menyusui).
Allah memang menciptakan sifat-sifat biologis kodrati pria beda dengan wanita. Bentuk alat kelamin pria juga dicipta-kan Allah, berbeda dari wani-ta, justru demi fungsi repro-duksional agar makhluk ma-nusia tidak punah.(bersambung) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin