|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
26 April 2008
|
|
Densus 88
Lacak Jaringan Noordin M Top
|
Pascapenangkapan ter-sangka terorisme Abu Yasir bin Ban (27), alias Faiz alias Parmin di Purworejo, upaya penyidikan terus dilakukan aparat Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri. Saat ini polisi antiteror masih berada di Jawa Tengah
untuk melacak sejumlah re-kan Faiz. Tujuannya, guna mencari keberadaan gembong teroris yang paling dicari, Noordin M Top.
Informasi yang diperoleh, tim Densus 88 Mabes Polri kini tengah berada di Wono-sobo untuk mengecek penga-kuan Faiz tentang persembu-nyian anak buah Noordin yang lain. Sebagian lagi ber-gerak menuju kawasan lereng Gunung Ungaran, kawasan Kecamatan Sumowono, per-batasan Kabupaten Semarang.
Kapolda Jateng, Irjen Pol FX Sunarno ketika dikonfirmasi masalah itu membenarkan adanya pencarian rekan Faiz yang diduga terlibat jaringan Noordin M Top. Hanya saja, Sunarno enggan membeber-kan ada berapa orang yang menjadi target operasi Densus 88, termasuk tempat persem-bunyiannya.
“Ya, ada lah. Nanti lihat pe-ngembangan, akan ketahuan. Sekarang kita tunggu saja. Kalau kita ungkapkan di sini, nanti malah kabur semua,” katanya dilansir melalui oke-zone.com, Jumat (25/04) ke-marin.
Mengenai peran Faiz sebagai tangan kanan Noordin M Top di bidang komputer, Kapolda Sunarno tidak membenarkan ataupun membantah. “Nah Densus bilangnya apa. Tanya Densus dong. Yang pasti dia terlibat di aksi teroris yang pernah terjadi di Indonesia. Dan kalau tidak cukup bukti tentunya dia tidak akan di-tangkap,” ujarnya
Menurutnya, hingga seka-rang Polda Jateng belum men-dapat konfirmasi dari Mabes Polri terkait hasil pemerik-saan yang dilakukan Densus 88. Kondisi demikian bukan berarti tak ada koordinasi de-ngan pihak Mabes Polri, me-lainkan demi kepentingan penyidikan.
“Yang jelas, dia tidak dita-han atau diperiksa di Polda Jateng. Masalah penahanan, tergantung penyidik, mana yang gampang dan memu-dahkan pencarian tersangka lain,” jelasnya.
Dalam kesempatan kema-rin, kapolda membantah jika penangkapan terhadap Faiz oleh Densus 88 Mabes Polri tersebut merupakan bukti kecolongan dari aparat Polda Jateng. Pasalnya, selama ini penanganan kasus terorisme lebih banyak dilakukan Ma-bes Polri.
Sehingga wajar jika dalam pengembangannya juga lebih didominasi Densus 88 Mabes Polri. Aparat daerah biasanya juga dilibatkan namum si-fatnya hanya melakukan back up. “Tidak kecolongan. Kalau kecolongan, tentunya tidak tertangkap, tidak ketahuan di mana dia bersembunyi,” te-gasnya.
Mengenai sinyalemen wila-yah Jateng menjadi tempat yang aman bersembunyi bagi para pelaku terorisme, kapol-da juga membantah hal ter-sebut. “Kalau orang sembunyi di mana saja bisa. Kemung-kinan mereka punya keluarga di sini, (sehingga) lebih gam-pang di sini. Tapi bukan ber-arti aman. Sebab kalau aman tentu tidak tertangkap,” papar dia.
Soal sulitnya pihak keluarga melakukan akses kunjungan terhadap Faiz, kapolda me-ngaku langkah tersebut bisa dilakukan setelah pemerik-saan yang bersangkutan ram-pung. “Mengenai tudingan penangkapan tidak prose-dural, boleh saja pihak pem-bela ngomong begitu. Yang pasti kami tidak melakukan penculikan. Kalau dia akan ditangkap tapi diberitahu dulu, tentu akan kabur. Ka-sus ini beda dengan kasus lain. Dia ketangkap basah,” im-buhnya.(okz)
|
|