CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Minut
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

26 April 2008

Emansipasi Wanita(3)
Oleh: Ir Herny EJ Simbala MSi

 IKUTI BERITA LAIN

Kartini dan Agama(4)
Media Ikut  Tentukan Pilkada Lancar
PT Air Harus Perhatikan Kualitas Air


Hari Kartini yang kita peringati setiap tahun merupakan tonggak sejarah yang penting dalam membangkitkan kesadaran perempuan Indonesia. Prinsip Kartini di masa lampau bukanlah menyamakan kedudukan dengan laki-laki akan tetapi baginya perempuan harus memiliki kemampuan (pendidikan dan keterampilan) sehingga mampu menyejahterakan dirinya dan orang lain. Inilah dasar yang dibangun Kartini sehingga dapat melahirkan perempuan Indonesia masa kini yang tidak saja mampu melakukan pekerjaan rumah tangga akan tetapi mampu berprestasi di segala bidang.
Bagaimana dalam hal otoritas, atau hak dalam keputusan un-tuk dirinya sendiri? Contoh ka-sus: Si istri telah mencapai pun-cak karir di dalam tempat be-kerjanya. Si suami resah karena rumah tangganya (termasuk anak-anaknya) mulai terbeng-kalai dengan mereka berdua be-kerja full-time. Lalu, si suami memutuskan untuk si istri ber-henti bekerja dan mulai meng-urus urusan rumah tangga. Si istri keberatan, dan menolak sa-ran dari suaminya. Si istri me-nekankan akan haknya yang seharusnya setara dalam meng-ambil keputusan di dalam ke-luarga. Si istri bersikeras untuk melanjutkan karirnya dan ber-harap si suami akan mengerti.
Apakah tindakan si istri ini salah? Lagipula, di dalam se-mangat emansipasi wanita, si istri memang seharusnya mempunyai hak yang sama, bukan begitu? Mari kita lihat Efesus 5:22-23 
“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tu-han, karena suami adalah ke-pala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat…”
Menurut Firman Tuhan, hi-tam di atas putih, memang se-patutnya istri tunduk kepada suami (bukan sebaliknya se-perti di kebanyakan rumah tang-ga!). Juga seperti yang ditekan-kan dari Amsal 31, istri yang bi-jaksana akanlah mementing-kan kebutuhan rumah tangga-nya terlebih dahulu, lebih dari keinginan atau ambisi dirinya sendiri. Wah, berarti Firman Tu-han menentang emansipasi wa-nita, begitu? Tergantung apa de-finisi emansipasi tentunya. Ka-lau kita mendefinisikan emansi-pasi sebagai menuntut hak un-tuk pendidikan (atau lainnya), dengan tujuan kepentingan bersama, saya pikir Firman Tu-han justru memuji tindakan ini:
“Janganlah melakukan sesu-atu karena didorong kepenting-an diri sendiri, atau untuk me-nyombongkan diri. Sebaliknya hendaklah kalian masing-ma-sing dengan rendah hati meng-anggap orang lain lebih baik dari diri sendiri” Filipi 2:3
Pembagian itu tetap perlu se-perti dalam Efesus 5:22-23. Ke-pemimpinan dalam keluarga ju-ga harus jelas. Akan tetapi ya, kalau emansipasi berarti pen-didikan, keadilan di tempat ker-ja, penghargaan atas hak-hak sebagai “teman pewaris keraja-an Allah. Karena sebagian besar perempuan berkarir atau be-kerja full-time bukan melulu ka-rena egoisme pribadi, namun ada nilai karya, nilai kasih dan nilai perjuangan di dalamnya.
Soal rumah tangga dan anak-anak yang sangat memungkin-kan terbengkalai ketika si istri bekerja, menurut saya itu bagi-an dari konsekuensi pilihan ke-luarga tersebut. Lelaki memang adalah kepala keluarga tapi be-lum tentu kepala rumah tangga. Beban ekonomi tetap ada pada yang bekerja.
Saya yakin siapapun; terma-suk TUHAN dan nabi-nabi kita. Tidak akan melarang seorang perempuan yang bekerja jika semua itu ia lakukan untuk ke-baikan keluarga. Dasar apa yang membuat suami memu-tuskan si istri untuk berhenti bekerja? Jika ternyata income istri lebih besar; mengapa tidak suami yang berhenti bekerja?
Saya rasa semua perlu dipu-tuskan dengan bijaksana dan menggunakan Alkitab sebagai dasar dan pondasi iman sekali-gus kehidupan kita demi keba-ikan bersama. Dan bukan men-jadikan Bible sebagai alat untuk menunjukkan subordinasi an-tara perempuan dan lelaki. Pas-ti perkawinan yang didasarkan saling menghargai dan saling menyayangi jauh lebih indah daripada didasarkan pada hirarkitas suami terhadap istri.
-terima kasih-
Dasar apa yang membuat su-ami memutuskan si istri untuk berhenti bekerja? Jika ternyata income istri lebih besar; menga-pa tidak suami yang berhenti bekerja?
Tidak ada salahnya kalau si istri yang bekerja dan si suami yang berhenti bekerja untuk mengurus rumah tangga. Fir-man Tuhan sendiri tidak me-nyinggung dalam hal siapa yang bekerja dan yang tidak bekerja dalam sebuah keluarga.
Sudah kewajiban dari istri un-tuk tunduk kepada suaminya. Sayangnya, di dunia yang pe-nuh dengan dosa, banyak su-ami yang sudah menyalahguna-kan hak ini. Marilah kita meng-ambil asumsi, bahwa si suami merasa terpukul harga dirinya kalau istrinya yang menjadi pe-nopang keluarga.
- Ya, saya kecewa kalau si su-ami mengataskan kepentingah dirinya dibanding kepentingan keluarganya. Padahal si suami seharusnya mengasihi istrinya bagaikan Kristus mengasihi gerejaNya (tidak ada keegoisan sama sekali). Emansipasi ber-arti pendidikan, keadilan di tem-pat kerja, penghargaan atas hak-hak sebagai “teman pewa-ris kerajaan Allah”.
emansiasi /émansipasi/
1.Pembebasan dari perbudakan
2.Persamaan hak dalam ber-bagai aspek kehidupan ma-syarakat [Kamus Besar Bahasa Indonesia].(habis)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin