|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Mimbar dan Keagamaan |
28 April 2008
|
|
BBM-listrik terbatas dan mahal
Umat Diimbau Terapkan Pola Hidup Hemat
|
Prediksi serta kalkulasi perhitungan ekonomis kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik sudah lama dilakukan pelbagai ahli terutama ekonom yang independen maupun kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat. Hampir semua menyimpulkan BBM dan listrik sudah pasti naik harganya.
Demikian tanggapan Pastor Fred Tawaluyan kepada Komen-tar akhir pekan lalu terkait ada-nya prediksi kenaikan BBM da-lam waktu dekat ini. Namun sa-yang menurutnya, pemerintah dengan pelbagai cara dan daya menyangkal semua itu. Padahal sangat jelas kondisi utang luar negeri yang kian melambung sudah pasti tak akan sanggup menyubsidi ekonomi atau ke-sejahteraan rakyat apalagi pola dan cara hidup masyarakat In-donesia sangat konsumtif se-perti ini. Untuk menghindari ini, pola dan cara hidup umat, mu-lai dari pejabat tinggi pemerin-tah sudah harus mulai dikoreksi.
Dikatakannya, negara kita terlalu banyak digerogoti oleh sikap korupsi dalam arti yang sangat luas dan mendalam.
“Kita harus mulai lebih menya-dari diri. Dulu Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor mi-nyak bumi, aneh dan lucunya semakin banyak galian sumur minyak bumi tapi semakin lang-ka minyak bumi beredar di ma-syarakat. Dulu Indonesia di-kenal sebagai negara pengeks-por kelapa, aneh dan lucunya lagi, kini minyak kelapa sema-kin mahal dan jarang. Kalau ada, setingkat minyak kelapa sawit,” jelasnya mencoba meng-gambarkan kondisi yang ada.
Belajar dari kondisi tersebut maka masyarakat terutama yang awam jadi bertanya-ta-nya siapa yang lebih mampu mengelola perekonomian ne-gara, pemerintah zaman dulu atau yang sekarang sudah ma-ju dan modern.
Dalam konteks ini, kata Ta-waluyan lagi tentu kita harus melihat secara holistis peran dan tanggung jawab peme-rintah sebagai pelaksana amanat rakyat, peran dan tanggung jawab legislatif se-bagai wakil rakyat, mengelola kebijakan dan aturan serta peran dan tanggung jawab pelbagai pengambil keputus-an lainnya.(gra)
|
|