CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Minut
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

28 April 2008

Saatnya Ujian Nasional Transparan!
Oleh: Barce Wariki SP MSi(1) 
dan Arnold Corneles Turang(2)

 IKUTI BERITA LAIN

Hukum Harus Ditegakkan

Surat Pembaca


“Resah dan gelisah, menunggu di sini, di sudut sekolah menatapku curiga seakan penuh tanya sedang apa di sini, menanti pengumuman UN jawabku, sungguh aneh tapi nyata, takkan terlupa kisah kasih di sekolah, masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah.” Cuplikan-cuplikan syair lagu Obbie Messakh, mengingatkan kita di kala sekolah dahulu dengan sarana yang sangat terbatas serta kualitas yang dapat diandalkan. 
Memang syair ini relatif kurang familiar lagi bagi anak-anak sekarang dengan segala fasilitas yang mereka miliki. Masa terindah waktu duduk di bangku sekolah banyak ke-nangan-kenangan indah yang dialami di sana, dan kenangan yang memang mungkin sulit dilupakan bila tidak lulus se-hingga harus mengulang, bah-kan sampai putus sekolah. 
Pada hari kemarin, hari ini, seluruh siswa kelas 3 tingkat SMA/SMK telah mengikuti Ujian Nasional dan ke depan, akan diikuti di tingkat SMP & SD. Bagi yang telah mengikuti, dan yang akan mengikuti, relatif mengalami ketegangan dan kegelisahan menunggu hasil dan menunggu ujian. Un-tuk menghadapi ujian nasional ini, memang sebelumnya sis-wa-siswa telah mengikuti uji coba atau try out Ujian Na-sional. Try out di Sulut yang telah dilaksanakan mulai ta-hun lalu boleh dikata yang per-tama di lakukan di Indonesia. Sehingga seluruh media massa di Sulut memuat berita Pra-UN di Sulut pada waktu itu. Di mana Pra-UN dianggap ber-dampak positif pada ujian nasional. 
Pada tahun ini berbeda, Pra-UN tahun ini, hanya diberita-kan jadwal pelaksanaan oleh media massa tanpa memberi-takan hasil yang dicapai oleh siswa-siswa yang mengikuti Pra-UN tersebut. Sehingga menjadi pertanyaan bagi ma-syarakat, serta pemerhati pen-didikan di daerah ini: Ada apa dengan hasil Pra-UN tahun ini? Karena tidak diumumkannya hasil Pra-UN. Sehingga, se-bagai representasi dari ma-syarakat, dengan tidak di-umumkannya hasil Pra-UN di-kritik oleh para wakil rakyat khususnya yang di Tomohon, padahal kalau disampaikan secara terbuka setiap daerah yang melakukan ujicoba, mungkin tidak menciptakan kesalahpahaman seperti yang terjadi di Tomohon. Memang sangat disesalkan fenomena ini, bukan menjadi bahan in-trospeksi bagi semua kalang-an, untuk duduk bersama mengevaluasinya dan mem-buat strategi baru menghada-pinya, tapi justru berkembang pada isu-isu unjuk rasa para oemar bakri ke dewan di Tomo-hon. Ini bukan cara yang san-tun yang akan diwariskan pada generasi kita tapi lebih pada pelajaran yang kurang santun. Dan itu sangat mencoreng pre-dikat Kota Tomohon, yang awalnya disebut sebagai “Kota Siswa, Kota Religius, Pariwisa-ta dan Kota Pertanian yang awalnya dikonsepkan oleh walikota sekarang (betulkah pak wali?), kini berganti nama Kota Bunga yang dia juga konsepkan”. Jadi “ bunga” se-karang apakah sebagai benda pertanian atau bunga sebagai istilah keberhasilan dari per-tanian, religius dan pendi-dikan? (Perlu diketahui, sejak dulu Pendidikan di Kota Tomo-hon yang digolongkan dalam ‘sektor jasa’ adalah ‘sektor ba-sis’ yang memberikan ‘multi-plier effect’ terbesar terhadap perekonomian di Kota Tomo-hon, seperti angkutan, tempat kost, rumah makan, perda-gangan dan lainnya). 
Sebagai warga Kota Tomohon kami berharap pada instansi yang berkompeten (Diknas Propinsi Sulut), untuk menja-di mediator penyejuk kete-gangan yang terjadi di Kota To-mohon, serta brani meng-umumkan hasil Pra-UN tiap kota dan kabupaten. Di Sulut, selanjutnya ditindaklanjuti diknas kabupaten/kota untuk mengumumkan hasil capaian tiap sekolah. Supaya masing-masing mengevaluasi baik siswa yang mengikuti, orang tua dan guru yang mengajar serta sekolahnya juga dan para wakil rakyat kita. Dengan demikian tanggung jawab bersama tercipta sebab ada data yang dapat dievaluasi. Dan diketahui kemampuan capaian prestasi tiap daerah dan tiap sekolah, selanjutnya dapat membandingkan kema-juan yang dicapai siswa-siswa dalam UN. Walaupun soal di Pra-UN nantinya beda dengan UN karena Pra-UN diseleng-garakan pemerintah daerah dan UN oleh pemerintah pusat. Sehingga boleh membuat stra-tegi untuk ke depan, karena pada dasarnya materi sama. 
Pada waktu lalu, Diknas te-lah mengumumkan bantuan-bantuan dana di sekolah-sekolah seperti dana BOS dan lainnya, hal ini merupakan te-ladan yang baik di era refor-masi karena dunia pendidikan memelopori keterbukaan dan transparansi (semoga saja). Kalau boleh, diknas juga ha-rus lebih ‘brani’ mengumum-kan hasil UN, bahkan harus berani mengembalikan hasil kerja siswa ke setiap sekolah, untuk menjadi bahan evaluasi bersama, dalam meningkat-kan prestasi anak-anak dan juga bagi guru-guru dan seko-lah di Sulawesi Utara. Sebab menurut kami pendidikan bukan hanya tanggung jawab Depdiknas tapi seluruh ma-syarakat, sehingga harus trans-paran juga pada masyarakat. Kita jangan merasa takut un-tuk dievaluasi oleh siapa saja, bahkan generasi kita harus di-ajar brani menghadapi tan-tangan sesuai skill yang di-miliki.
Memang masyarakat merasa puas dengan langkah-langkah yang dilakukan Diknas dalam menghadapi UN seperti ada-nya Pra-UN, kerahasiaan per-siapan soal seperti penjagaan dalam penggandaan soal dan distribusinya. Namun seperti telah dikemukakan di atas, ki-ranya Lembaran Soal dan LJK (Lembar Jawaban Komputer) dapat dikembalikan pada sis-wa-siswa serta kunci jawaban dapat diumumkan. Jadi soal dapat ditinggalkan di sekolah dan LJK dapat dikembalikan ke sekolah setelah diperiksa, untuk diterimakan pada mu-rid-murid peserta ujian, agar tidak ada kecurigaan dan akan menjadi kepuasan tersendiri serta akan menjadi motivasi bagi para peserta jika dapat memeriksanya, sekaligus be-lajar kembali dari hasil peker-jaan agar bila ada ‘susulan’ yaitu pembedaan ‘Lulus & Tamat ‘ para siswa sudah ada bekal untuk belajar kembali ataupun mengubah kesalah-an-kesalahan yang telah dilakukan.
Menurut kami, untuk dapat berkompetisi di era globalisasi, bukan zamannya lagi menjadi-kan soal ujian dan LJK sebagai rahasia negara, tapi yang pen-ting memang perlu mengarsip-kan untuk bukti, tapi harus ju-ga diberikan pada para peserta karena merupakan hak peser-ta untuk dimiliki. Kalau di Per-guruan Tinggi semua mahasis-wa dapat meminta lembar ja-waban ujian dari dosen karena tujuan pendidikan yaitu mem-peroleh ilmu setinggi-tingginya, bukan memperoleh nilai kare-na nilai hanyalah ukuran un-tuk mengukur ilmu yang telah diperoleh. 
Akhirnya, kami yakin selu-ruh siswa-siswa telah mengi-kuti dengan baik, dan telah mempersembahkan kemam-puannya untuk dievaluasi se-bagai buah karyaku untuk bangsaku Indonesia. Bagi yang telah mengikuti, selamat me-nunggu… dan bagi yang se-dang bersiap selanjutnya, be-lajar dengan baik buktikan bahwa yang kamu kejar bukan nilai, tapi ilmu untuk melan-jutkan tongkat estafet bangsa, bangsa Indonesia. Ingat sebe-lum mulai, jangan tengok ke kiri atau kekanan karena di sanalah godaan, tapi tengoklah ke atas di sanalah sumber berkat dan rahmat.
Karena “Takut akan Tuhan adalah permulaan Pengetahu-an” dan “Bekal ilmu lebih ber-harga daripada bekal harta” semoga demikian.(habis)

Penulis adalah: 1. Dosen pada Fakultas Pertanian Unsrat Manado, Deklarator MPS (Masyarakat Pendidikan Sulut) Warga Kota Tomohon.
2 Litkayasa Litbang Pertanian (BPTP Sulut), Detaser Primatani Kota Tomohon, Asal Tataaran II tinggal di Tomohon.

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin