|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Ekonomi dan Bisnis |
29 April 2008
|
|
Harga Terigu Naik, Minat Beli Masyarakat Melemah
|
Sangat ironis memang, melonjaknya harga tepung terigu tidak dibarengi oleh kebutuhan masyarakat saat ini. Minat beli masyarakat menjadi berkurang, sehingga banyak pedagang mengeluh pendapatan mereka berkurang saat ini.
Anto, salah satu pemilik toko di Karombasan mengeluh keuntungan diperolehnya saat ini berkurang hingga 40 persen dari biasanya. “Sekarang ini penjualan tepung lagi sepi, masyarakat belum membutuhkannya” tukasnya.
Penjualan tepung terigu belakangan ini memang lagi merosot. Penjualan di sejumlah pasar tradisional mengalami penurunan cukup signifikan, saat harga kebutuhan pokok tersebut naik. “Tepung terigu merek Kompas penjualannya turun menjadi 1200 ton per bulan dari 2000 ton per bulan,” ujar Dirut PT Dwikarya, Piet Tumewu, Jumat (25/04) lalu. Distributor tepung tersebut mengeluh omset penjualan tepung menurun tidak seperti biasanya. Penurunan yang sama juga terjadi pada merek Semar yang sekarang penjualannya hanya 250 ton per bulan, padahal sebelumnya tidak pernah kurang dari 300 ton, tukas Direktur PT Semarak, Lucky Makaampoh.
Keduanya mengungkapkan penurunan penjualan tepung saat ini cukup tajam, akibat melemahnya nilai beli produk tersebut.
Sementara itu pantauan, Sabtu (26/04) kemarin harga tepung merek Kompas di pasar Pinasungkulan Karombasan naik menjadi Rp 180.000 per 25 kilo dari sebelumnya Rp 82 ribu (ukuran yang sama), atau mengalami kenaikan sekitar 119 persen lebih. Sedangkan merek Semar naik dari Rp 75 ribu per sak (25 Kg) menjadi Rp 175 ribu. Sedangkan harga eceran di pasaran Manado di jual pedagang berfariasi dari Rp 7500 hingga Rp 7800 per kilo. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Gemmy Kawatu SE Msi mengatakan kendati terjadi penurunan omset, namun kedua distributor tersebut tetap menyiapkan stok dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan masyarakat.” Untuk tepung terigu Kompas yang mengusai 90 persen pangsa pasar dilakukan shipment, satu bulan dua kali dengan kuantum 500 ton hingga 1000 ton. “Makanya masyarakat tak perlu khawatir bila terjadi kelangkaan tepung,” ukapnya.(wel)
|
|