|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
29 April 2008
|
|
Seandainya..…“Kelurahan/Desa”(1)
|
Pada pertengahan bulan Februari lalu bertepatan dengan sebagian masyarakat merayakan hari kasih sayang “valentine day”, penulis membaca di salah satu harian yang terbit di Sulawesi Utara bahwa “Pemkot Tomohon Anggarkan Rp 500 juta untuk pengadaan Marigold”.
Oleh: Timmy Tatara SE MM
Pemkot Tomohon melalui se-orang kadisnya yang berkom-peten dalam hal per “bunga”an, mengatakan bahwa telah di-anggarkan dana sebanyak itu, untuk pengadaan Marigold yang akan ditanam di sepanjang trotoar di Kota Tomohon. Ma-rigold tersebut adalah untuk pengganti jenis bunga bougen-ville yang terdapat disepanjang trotoar di kota sejuk ini.
Lebih lanjut dikatakan bahwa alokasi dana sebesar itu untuk mengadakan sekitar 16 ribu bunga Marigold melalui petani bunga dan akan memenuhi ku-rang lebih 800 buah pot bunga yang tersebar di sepanjang tro-toar yang ada di Kota Bunga To-mohon. Menurut kadis terse-but, pengadaan jenis bunga ini dilakukan menyambut pelaksa-naan Tournament of Flowers (ToF).
Untuk itu, melalui Rubrik Opi-ni pada Harian Komentar hari ini, penulis ingin memberikan opini, komentar, serta usulan bagi pihak yang berkompeten dengan hal tersebut. Tidak ada maksud apa-apa di balik tulisan ini, melainkan hanya sekadar komentar serta memberikan bahan masukan atau sebagai sumbang saran/bahan pemiki-ran, supaya event tahunan yang akan digelar yaitu ToF, dapat terlaksana dengan baik dan sukses.
Menurut penulis, statement se-perti itu adalah lumrah dilaku-kan oleh seorang pejabat peme-rintahan dalam rangka membe-rikan informasi kepada masya-rakat tentang hal-hal apa saja yang telah dan yang akan dila-kukan oleh dinasnya. Tetapi, kadang-kadang yang bersang-kutan kurang menyadari bahwa statement tersebut akan mem-berikan pemahaman yang ke-liru atau akan menimbulkan mulai dari berbagai macam per-tanyaan di benak pembaca, bi-sik-bisik yang tidak karuan sampai kepada gosip-gosip yang tidak mengenakan dan bahkan menyesatkan.
Penulis pun tidak luput dari hal itu, yaitu timbulnya berba-gai macam pertanyaan seputar statement tersebut, seperti: apa-kah sudah tepat dipilihnya Ma-rigold untuk menghiasi trotoar sepanjang jalan utama Kota To-mohon? Dilakukan pengkajian nggak, tentang berapa lama daya tahan bunga tersebut dan siapa yang merawatnya seperti me-nyiram dan memangkas ranting yang kering atau tumbuh yang tidak karuan..dsb?
Apakah harga Rp 500 juta untuk 16 ribu bunga Marigold, tidak kemahalan? Apakah uang sebesar itu sudah termasuk dengan penyediaan 800 buah pot yang sudah lama menghiasi trotoar dengan bunga jenis lain? Dan bahkan ada yang karena sudah cukup lama dalam kea-daan kosong, sehingga karena begitu ringannya sampai berter-bangan dan terbalik sampai di tengah jalan? Apakah Marigold dengan anggaran sebesar itu yang baru mulai menghiasi pot-pot di sepanjang trotoar sejak awal bulan April ini, memang ha-nya diperuntukan sampai ToF saja? Dan bagaimana kelanju-tannya setelah ToF? Apakah uang sejumlah itu sudah ter-masuk dengan berbagai bunga lain yang telah menghiasi ping-giran trotoar? Begitulah kira-kira pertanyaan yang timbul di benak penulis dan hal ini bisa saja mewakili benak dari se-bagian “kecil” masyarakat To-mohon dan mungkin siapa saja yang setiap harinya melewati jalan yang begitu ramai dan padat nyaris macet.
Selain question tersebut di atas ada satu hal yang meng-ganjal benak penulis yaitu: ba-gaimana dang dengan nasib dari bunga yang bertebaran di atas tanah kavling kecil yang terbuat dari bambu, seperti terlihat di pinggir jalan di daerah Tinoor dan Kinilow yang tertulis ma-sing-masing perancang dan pe-nanggungjawabnya yaitu dinas atau badan tertentu? Berbagai pertanyaan tersebut di atas, penulis yakin salah satu di an-taranya pasti terlintas dibenak ang-gota masyarakat yang melewati jalan mulai dari Desa Tinoor sampai ke Lahendong.(bersambung)
|
|