|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
30 April 2008
|
|
OPEC: Minyak dunia bisa 200 USD per barel
Kadin Desak Pemerintah Naikkan BBM 10-30 Persen
|
Sikap pemerintah yang ingin mempertahankan harga BBM di dalam negeri dengan mengorbankan APBN, meng-khawatirkan berbagai kalangan. Termasuk para pengusaha yang tergabung dalam Kadin (Kamar Dagang dan Industri). Mereka pun meminta pemerintah segera menaikkan BBM sebagai salah satu opsi untuk menanggulangi terjadinya defisit APBN.
Hal ini disampaikan Ketua Kadin MS Hidayat usai pa-parkan proposal Kadin untuk peningkatan produksi pangan dan energi-mineral di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (29/04) kemarin. “Kami usul kalau kenaikan minyak global terus tak terkendali, opsi kami ke pemerintah menaikkan BBM 10-30 persen. Kenaikannya cukup sekali saja, tidak perlu bertahap,” ungkap dia.
Atas usulan tersebut, Pre-siden SBY yang sampai saat ini mempertahankan harga BBM dengan tetap menaikkan subsidi, mulai goyah.
Presiden menyatakannya, usulan itu akan diterima pe-merintah sebagai pilihan paling akhir. Pihak Kadin di-ajak untuk juga mempertim-bangkan dampak luas yang akan timbul berikut cara-cara untuk menanggulanginya. “Saya tahu menaikkan BBM adalah putusan politis. Saya tentu tidak bisa ikut campur,” sambung Hidayat.
Ia menjelaskan, usulan yang diakui tidak populis ini justru merupakan antisipasi kondisi lebih buruk lain yang mungkin timbul. Yaitu spekulasi atau pelarian modal ke luar negeri bila kalangan pasar melihat pemerintah belum juga ambil langkah tegas mengatasi defisit APBN akibat subsidi listrik dan BBM yang bisa mencapai Rp 260 triliun.
“Saya melihat keadaan pasar atas defisit besar APBN. Me-reka melihat belum ada tin-dakan pemerintah buat me-ngatasinya. Lama-lama akan jadi spekulasi dan capital flight. Kenaikan BBM ini justru me-recover spekulasi, dan mu-dah-mudahan recovery-nya cepat,” jelas Hidayat.
Sementara itu, Presiden Or-ganisasi Negara-negara Peng-ekspor Minyak (OPEC), Chakib Khelil mengingatkan, harga minyak dunia bisa mencapai US$ 200 per barel. Dalam kon-disi itu, OPEC tak akan mam-pu berbuat banyak untuk me-ngendalikan harga tersebut.
Peringatan itu disampai-kannya di Aljazair, Senin (28/04) lalu, menanggapi untuk pertama kalinya harga minyak menyentuh level psikologis US$ 120 per barel mengawali per-dagangan awal pekan ini. Namun, di akhir perdagangan harga bertengger di posisi US$ 118 per barel. Pernyataan Khe-lil, yang juga Menteri Pertam-bangan Aljazair itu sekaligus memperlihatkan keinginan ne-garanya supaya OPEC tetap menentang keinginan Amerika Serikat (AS) dan para pemimpin Eropa, yang menghendaki or-ganisasi itu meningkatkan pro-duksi untuk menekan laju ke-naikan harga. Dia justru balik menyerang dengan mengata-kan bahwa tingginya harga mi-nyak disebabkan melemahnya nilai dolar AS dan ketidakama-nan politik global. Dia menam-bahkan, tingginya harga mi-nyak karena resesi yang diala-mi AS. Kondisi ini berdampak pada beberapa negara dan ju-ga mempengaruhi nilai dolar AS. Setiap nilai tukar dolar AS anjlok 1 persen, harga minyak naik US$ 4 per barel, demikian pula sebaliknya.(okz/spc*)
|
|