|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
01 Februari 2008
|
|
Pertanian maju, leadership pemerintah berwibawa
Petani dan Pejabat Sulut Memuji Zaman Soeharto
|
MANTAN Presiden Soeharto telah berpulang. Ada dua sisi image yang melekat terhadap penguasa Orde Baru tersebut. Sehingga Soeharto kerap di-puji sekaligus dicerca. Na-mun bagi kalangan petani dan mantan pejabat di Sulut, zaman Soeharto pantas dibe-rikan kredit poin tersendiri. Apalagi jika bicara soal sektor pertanian.
Sebab terlepas dari kelema-han Soeharto, namun konsep pertaniannya dulu di Indone-sia, sangat baik programnya. “Malah konsep di bidang per-tanian di era kepemimpinan mantan Presiden RI, Soeharto adalah yang terbaik,” ungkap Ventje Waworuntu, petani asal Kabupaten Minahasa, Rabu (30/01).
Pembangunan pertanian dan peternakan cukup maju. Ba-nyak bantuan yang diberikan ke petani karena sistem ter-organisir dengan baik. Ban-tuan tersebut diikuti intensitas Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang benar-benar turun ke lapangan guna memberikan petunjuk kepada petani su-paya melaksanakan budidaya yang benar.
Perhatian bukan hanya saat petani mulai menanam, tetapi saat petani memetik hasil pun diukur bagaimana tingkat produksi pertanian, apakah sudah memenuhi standar, yang ditetapkan waktu itu. “Sarana produksi pertanian (saprodi) termasuk pupuk tersedia secara mudah dan murah, maka tak heran bila petani mendapatkan untung. Terbukti banyak yang dapat menyekolahkan anak mereka hanya dari hasil bertani,” ujarnya .
Sementara Wem Paat, petani di Minahasa lainnya, menga-takan, program intensifikasi pertanian yang dirasakan di era Presiden Soeharto sangat membantu petani sehingga termotivasi menggeluti usaha pertanian. “Berbagai jenis bibit unggul padi dan jagung serta tanaman pertanian lain-nya yang diluncurkan saat itu terus memotivasi petani se-hingga berupaya meningkat-kan hasil pertanian,” kata Wem.
Motivasi yang tinggi menjadi petani didukung oleh ke-mudahan memperoleh kredit pertanian. Saat itu bank masih percaya kepada petani, sehingga bila kesulitan modal dapat memperoleh dengan mudah, sepanjang usahanya benar-benar layak. Kini para petani minta kepada peme-rintah supaya konsep perta-nian yang sudah bagus terse-but digali kembali, sambil melakukan perbaikan menye-suaikan dengan kondisi saat ini. Dengan demikian Indone-sia mampu mencukupi kebu-tuhan masyarakat dari hasil produksi petani dalam negeri.
Pada bagian lain, Mantan Gubernur Sulut, letjen(purn), EE Mangindaan menilai, In-donesia memang butuh pe-mimpin seperti Soeharto. Me-nurutnya, beliau tidak hanya tegas, konsisten dan konse-kuen, namun juga selalu mem-beri kepercayaan sepenuhnya kepada orang yang dipercaya menjadi pembantunya. “Be-liau layak menjadi contoh dan teladan termasuk buat para pemimpin Indonesia masa mendatang,” katanya di Ja-karta, kemarin(31/01)
Kelebihan lainnya dari man-tan Presiden Soeharto adalah tidak mau menyalahkan para pembantunya tentang apa yang dia tugaskan, tambah-nya. “Beliau juga tidak ber-tindak arogan kepada bawa-hannya. Sehingga kalau ter-jadi kesalahan, beliau lang-sung mengambil tanggung ja-wab tanpa menyalahkan pem-bantunya. Sulit mencari pemim-pin seperti beliau,” tukasnya.
Menurut Ketua Komisi II DPR RI ini, Pak Harto juga ti-dak menepuk dada, kalau apa yang direncanakan atau di-kerjakannya membuahkan hasil. Malah Pak Harto selalu mengatakan keberhasilan yang diraih itu adalah hasil kerja bersama. Lape sapaan akrab mantan Gubernur Su-lut ini mengungkapkan, keti-ka dirinya dipercaya menjadi gubernur, almarhum sering mengemukakan ide-ide cemer-langnya dalam memajukan daerah.
“Yang saya tidak lupa ada-lah begitu kuatnya ingatan Pak Harto di tengah-tengah kesibukan dia mengurus ne-gara. Pernah suatu kali beliau menanyakan suatu persoalan yang sudah lama dan malah saya sudah lupa,’’ katanya se-raya mengatakan, dia melihat Soeharto lebih sebagai se-orang babak daripada seorang presiden.
Lape mengaku, dirinya se-ring berhubungan dengan penguasa Orde Baru itu, khu-susnya dalam masalah peker-jaan sebagai Gubernur Sulut lalu. “Bahkan pembangunan yang dilaksanakan di Sulut dikala saya memerintah, se-muanya mendapat dukungan dari presiden,” paparnya.
Mengenai belum adanya figur pengganti Pak Harto yang tepat sampai saat ini, Lape mengulas merupakan pelajaran berharga dan tidak perlu terjadi pada masa men-datang.
“Mulai saat ini sudah harus dipikirkan dan disiapkan calon-calon pengganti masa depan sehingga begitu ada pemimpin lengser, kader tersebut sudah siap mengam-bilalih tampuk pimpinan se-hingga tidak terjadi jurang pemisah yang begitu jauh,” ka-tanya.(zal/*)
|
|