|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
09 Februari 2008
|
|
Krisis Landa AS,
ADB Warning Asia
|
Bank Pembangunan Asia (ADB) memperingatkan bahwa negara-negara Asia tidak kebal terhadap perlambatan ekono-mi yang terjadi di AS, meski-pun ada bantalan yang bisa mengurangi perlambatan eko-nomi tersebut. “Ekonomi Asia tidak sepenuhnya kebal ter-hadap goncangan pasar global dan perkembangan yang ne-gatif,” kata Presiden ADB, Ha-ruhiko Kuroda dalam sebuah simposium di Tokyo menga-wali pertemuan akhir mingguan menteri keuangan negara-negara G7, seperti dikutip AFP, Jumat (08/02).
“Resesi AS yang dalam dan berkepanjangan, bisa saja di-ikuti perlambatan pertumbu-han Asia. Perlambatan eko-nomi AS yang signifikan ter-utama akan berdampak pada laju perdagangan, investasi dan perputaran uang,” lanjutnya. Kuroda juga menekankan dampak dari pasar finansial di 3 negara terbesar di dunia, yaitu AS, Eropa dan Jepang bisa berpengaruh sangat besar dan membuat para pembuat kebijakan negara Asia untuk mengambil langkah tertentu demi membuat pasar uang di negaranya lebih percaya diri.
Krisis kredit perumahan be-risiko tinggi atau subprime mortgage yang muncul tahun lalu telah menunjukkan pada dunia betapa banyaknya warga Amerika yang gagal membayar sisa kredit perumahan mereka. Meskipun bank-bank Asia su-dah lebih sedikit menyingkap kerugian akibat subprime di-banding bank-bank di AS dan Eropa, namun ekuitas negara-nya tetap saja terlihat berge-jolak.
Menurut Kuroda, pemerintah harus terus menekan godaan-godaan manajemen makro-ekonomi, mengetatkan penga-wasan institusi keuangan de-ngan bijaksana dan mening-katkan bantalan struktural me-lalui usaha perbaikan yang lebih komprehensif. Ia juga me-nyatakan negara Asia Tenggara dan Timur termasuk Jepang dan Cina bisa saja menerap-kan kebijakan fiskal sebagai stimulus jika pertumbuhan glo-bal melambat, tapi menurutnya saat ini bukan saat yang tepat.
“Kalau memungkinkan, men-dorong ekonomi di Asia dengan meningkatkan fiskal dapat menjadi stimulus. Tapi tahun lalu banyak ekonomi negara Asia termasuk Cina yang me-manas dengan percepatan in-flasi. Bagi mereka tantangan yang terpenting tetap bagaima-na membuat tekanan inflasi ketimbang menerapkan sti-mulus fiskal,” ujarnya. “Pada tahap ini, ekonomi Asia telah menaikkan tekanan inflasi lebih baik dibanding prospek resesi,” imbuhnya.(dtc/*)
|
|