|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Mimbar dan Keagamaan |
09 Februari 2008
|
|
Soal gambar mirip perjamuan akhir
Tokoh Agama Kristen Sulut Prihatin
|
Tokoh agama di Sulut merasa prihatin dengan pemuatan gambar mirip perjamuan akhir Yesus Kristus dengan murid-muridNya. Namun mereka menerima permintaan maaf dari kalangan Redaksi Majalah Tempo, karena menerima maaf dan memaafkan orang lain sudah menjadi keharusan dan diamini umat Kristiani.
Seperti yang dikatakan to-koh agama Katolik, Pst Fred Tawalujan dan Pdt Lamberty Mandagi MTheol, Jumat (08/02) pemuatan gambar ter-sebut memang sudah gega-bah. Namun pernyataan maaf tersebut harus diterima ka-langan umat Kristiani.
Menurut Tawalujan, secara pribadi dirinya prihatin dengan pemuatan gambar yang mirip kisah perjamuan akhir, alasan-nya mengapa Redaktur Majalah Tempo begitu gegabah dengan hal-hal yang sangat peka ter-hadap emosi religiusitas? “Se-bagai sebuah gambar hal itu bi-asa-biasa saja. Tetapi gambar perjamuan akhir bagi orang Kristen merupakan ungkapan pewarisan nilai rohani (perja-muan/ekaristi) oleh Yesus ter-hadap muridNya,” katanya.
Kalau disamakan dengan Soeharto yang mewariskan sua-tu nilai hidup terhadap anak-anakNYA, Tawalujan menam-bahkan, hal ini menjadi perta-nyaan besar, nilai apa yang di-wariskan? Persoalan yang mun-cul antara lain karena Seoharto dinilai sangat kontroversial. Senandainya Soeharto dinilai baik masyarakat umum mung-kin persoalan menjadi lain.
Di sisi lain, bagi Tawa-luyan pribadi, setelah mendengar pernyataan maaf dari pimpinan Redaksi Majalah Tem-po yang tak bermaksud melecehkan iman ma-syarakat Kristiani, ma-ka sebaiknya ini dima-afkan. “Iman Kristiani biasanya menjadi lebih mantap justru karena pelbagai percobaan dan tantangan. Hal ini sudah terujicoba. Iman Kris-tiani perlu digodok dalam tanur api yang panas, tetapi hati orang Kristen tak boleh panas dan me-manaskan situasi masyarakat umum,” katanya.
Dia berharap pemerintah hendaknya mempunyai sikap yang adil dan bijaksana demi bonum cummune, demi kebaik-an umum masyarakat, demi keamanan publik. “Kalau pe-merintah ingin meluruskan secara hukum, sebaiknya di-serahkan saja para proses hu-kum. Mudah-mudahan tak akan terjadi lagi hal-hal yang mengandung nuansa-nuansa pelecehan nilai-nilai keaga-maan, termasuk pencegahan umat beribadah serta kebe-basan beragama sungguh-sungguh diterapkan,” ujarnya.
Sementar Pdt Lamberty Mandagi MTheol menam-bahnya, gambar sebenarnya tidak dipemasalahkan tetapi kalau disangkut pautkan dengan perjamuan Yesus ini masalah. “Namun hal ini tidak perlu ditanggapi, apalagi pihak Majalah Tempo sudah meminta maaf,” tambah-nya.(lex)
|
|