CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Minut
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

09 Februari 2008

Stop Romantisme Lingkungan, Adopsi Gaya Hidup Cerdas
Oleh: Martina A. Langi

 IKUTI BERITA LAIN

Gubernur Bi, Blbi dan Kredibilitas Bi(2)
Oleh: Denny Mandey

SURAT PEMBACA

Kecewa dengan Majalah Tempo

 COMMENTAREN

Busuk Pucuk, ke Mana Pemerintah?

 
Isu-isu lingkungan hidup memang semakin merebak di mana-mana. Betapa tidak, ini adalah persoalan “rumah” kita (makhluk hidup yang menghuni planet ini). Rumah kita satu-satunya, diwariskan oleh generasi sebelumnya, dan akan kita wariskan pula kepada generasi yang akan datang. Alangkah berharganya, dan oleh karenanya layak untuk “ditangani” dengan sungguh-sungguh. 
Bahwa permasalahan ling-kungan hidup telah menjadi isu terhangat di dunia, dapat me-nandakan bahwa ada sesuatu yang keliru dengan penanganan kita terhadap rumah ini. Jika se-lama ini alam sekedar dipan-dang sebagai “pelengkap” kehi-dupan semata, kini manusia di-tuntut untuk bersikap lebih cer-das dan lebih arif. Menggunakan akal serta budi secara lebih baik lagi, sebab inilah bagian dari tang-gung jawab (sekaligus panggilan) kita sebagai makhluk hidup yang “mulia”, makhluk hidup yang mencerminkan citra Sang Pen-cipta. Sesungguhnya manusia telah diperlengkapi dengan sem-purna untuk menjalankan apa yang telah “dimandatkan” itu. Berbagai paham lingkungan yang berkembang memberi pe-nekanan yang berbeda-beda ter-hadap “mandat” tersebut. Mulai dari paham yang menempatkan manusia sebagai pusat dari se-gala sesuatu hingga ke paham yang secara ekstrim menyetara-kan hak hidup seekor serangga atau serumpun rumput dengan nyawa manusia. Pada alur yang terakhir itu, menginjak rumput pun dapat menjadi suatu “dosa”.
Dalam konteks yang berbeda, penyelesaian suatu kasus tentu tidak akan sama dengan kasus yang lain. Kita tidak dapat mela-kukan generalisasi secara buta. Polemik yang mentah pun tak akan menyelesaikan masalah. Hidup ini penuh dimensi dan si-kap terbuka terhadap kemung-kinan serta perubahan yang lebih baik sungguh amat dibutuhkan.
Siapa yang tidak sadar ung-kapan: lingkungan hidup? De-wasa ini, ungkapan itu seakan telah menjadi kata sakti yang se-ring digunakan. Bersama de-ngan ungkapan lain seperti pe-lestarian, konservasi, hingga ke global warming, climate change, dst. Keren dan lagi in untuk di-lontarkan; namun jangan-ja-ngan masih menjadi sebagai hias-an, aksesori, bahkan semacam lisensi untuk hal yang lain. Ah, semoga saja anggapan ini tidak benar. Tidak ada yang salah de-ngan memasukkan semua itu ke dalam agenda kita, paling tidak public awareness sudah mulai terbangun, bukan? Namun, hal itu saja masih belum cukup. Act-ion yang berdasar harus segera diadakan sebelum terlambat. Kebijakan harus berwibawa, rea-listik, dan bersih. Perencanaan harus utuh hingga ke jangka sa-ngat panjang, siapa pun yang te-ngah menjabat sebagai ekseku-tornya. Tak bisa lagi superfisial, formalitas, atau tambal sulam. Taruhannya (baca: risiko) terlalu besar. Ungkapan serta impresi lingkungan hidup jangan lagi se-kadar puisi atau prosa; ling-kungan adalah sesuatu yang konkret, senyata udara yang kita hirup, air yang kita minum, hasil bumi yang kita konsumsi sehari-hari, rumah yang kita huni. Ma-ka, marilah bersama kita ba-ngun dari “tidur” yang panjang. Adopsilah gaya hidup yang lebih cerdas dan bijak. Gaya hidup yang lahir dari pola pikir yang sadar. Pilihlah alternatif yang pa-ling tepat bagi lingkungan, da-lam segala hal. Pertimbangkan-lah semua itu, sejak bangun pagi hingga hendak tidur pada peng-ujung hari. Apakah yang akan dipakai, dimakan/minum, dila-kukan, telah berwawasan ling-kungan? Is it environmentally friendly? Ataukah detrimental, secara langsung atau tak lang-sung? Tepat bagi lingkungan ber-arti tepat bagi penghuninya. Se-jujurnya, manusia jauh lebih membutuhkan lingkungan alam ketimbang sebaliknya. Manusia mampu. Manusia harus.(habis)
Penulis adalah dosen Fakultas Pertanian Unsrat (P.S. Ilmu Kehutanan).

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin