|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Bolmong,
Kotamobagu, Bolmut |
12 Februari 2008
|
|
HGU-gate kembali di-hearing
Tjia dan Mokodompit Bersitegang, Warga Lalow Kuasai Dewan
|
Wakil Ketua Dekab Bolmong, Jacobus Jemy Tjia dan Di-rut PD Gadasera, Firasat Mokodompit sempat bersitegang dan sesekali mengeluarkan suara keras, dalam hearing antar instansi terkait yang dimulai Senin pagi (11/02), guna mencari solusi mengenai persoalan kepemilikan maupun hak penggarapan atas lahan HGU Lalow di Kecamatan Lolak.
Parahnya, ketika pembahas-an di tingkat elit belum juga ada titik temunya, ratusan war-ga Lalow yang baru tiba sekitar pukul 12.00 WITA, langsung menguasai Gedung Kinalang.
Hearing itu sendiri dimulai sekitar pukul 09.00 WITA, dipimpin Tjia dan dihadiri sejumlah personel Komisi A, serta instansi terkait di anta-ranya BPN Bolmong, Dishut-bun, Distanak, Badan Keta-hanan Pangan, Bagian Hu-kum, Camat Lolak dan Dirut Gadasera, Drs Firasat Moko-dompit bersama jajarannya.
Di awal hearing, Tjia dengan tegas memprotes kebijakan PD Gadasera yang dinilainya menyengsarakan rakyat, de-ngan main comot begitu saja lahan HGU yang sedang diga-rap warga Lalow. Padahal war-ga melakukan itu dengan da-sar kuat, yakni adanya perse-tujuan dari Dekab Bolmong dan Mendagri tahun 1998 silam, yang intinya menye-butkan bahwa HGU Lalow bisa digarap masyarakat sekitar tanpa ada biaya.
Tjia pun mulai menyemprot berbagai kebijakan PD Ga-dasera, seperti membuat surat penarikan lahan tersebut tanpa ada koordinasi dengan dewan, juga menarik biaya atas lahan yang sedang diga-rap warga. Tak hanya itu, Tjia bahkan mengancam akan mem-beber kepada publik, soal sejumlah pohon kelapa yang ditebang oleh Gadasera. “Saya tahu persis berapa jumlah po-hon kelapa yang ditebang itu, juga dijual ke mana. Tapi ke-mudian uangnya tidak masuk ke kas daerah,” ancamnya.
Karena telah terpancing emosi, Firasat Mokodompit ketika didaulat untuk bicara, langsung menyerang balik Tjia dengan mengkritisi surat yang telah dibuat Tjia sebagai waket dewan. Di mana surat tersebtu terkesan tidak sesuai aturan, karena di dalamnya berisi de-sakan agar PD Gadasera menghentikan pengelolaaan HGU Lalow sekaligus menjadi-kan lahan itu status quo.
Geram dengan ‘serangan’ tersebut, Tjia memotong tiba-tiba pembicaraan Mokodom-pit. Kemudian kembali meng-ulas berbagai hal yang menu-rutnya penyimpangan oleh PD Gadasera. Untungnya, tak lama setelah itu, Tjia mencoba cooling down, hingga ketegang-an yang sempat muncul berangsur normal. Sayangnya, meskipun semua instansi terkait menyampaikan penda-pat dalam hearing itu, namun sampai tengah hari, belum ada solusi yang diambil.
Persoalan seakan hanya terus berputar, lalu ketegang-an kembali terjadi manakala ratusan warga Lalow tiba di ruang hearing sekitar pukul 12.00 WITA. Massa yang me-namakan diri MPRL (Massa Perjuangan Rakyat Lalow) se-sekali berteriak dalam ruang-an hearing, kemudian bebe-rapa juru bicara mereka mulai membeber sejumlah intimidasi yang dialami warga penggarap lahan selama menggarap HGU yang disoal. Terkesan massa telah menguasai ruang hear-ing, sehingga membuat situasi jadi panas lagi.
Alhasil, Tjia menutup hearing itu, padahal belum ada solusi yang disimpulkan. Kecuali satu hal, bahwa tim akan se-gera turun untuk melihat lang-sung situasi Lalow. “Belum ada kesimpulan. Esok (hari ini, red) kami akan turun menin-jau langsung HGU yang diper-soalkan,” kata Tjia ditemui usai menutup hearing.
Pada saat yang bersamaan, ketika para pejabat baru saja meninggalkan ruang hearing, ratusan warga Lalow masih bertahan. Mereka bahkan naik di atas meja, sembari mela-yangkan kalimat-kalimat pro-tes kepada dewan dan peme-rintah yang terkesan meng-abaikan aspirasi mereka. Na-mun dengan kegesitan perso-nel kepolisian yang berjaga sejak pagi, massa kemudian bisa dibubarkan dan kemu-dian kembali ke Lolak.(tus)
|
|