|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
13 Februari 2008
|
|
Tewasnya Alfredo Bikin Timor Leste Lebih Aman
|
Tewasnya pemimpin kelom-pok gerilyawan, Alfredo Reina-do, dalam serangan ke rumah Presiden Timor Leste Jose Ra-mos Horta di Dili, Senin dini hari (11/02) lalu, memberikan ha-rapan baik bagi terbangunnya stabilitas keamanan di sana dalam jangka panjang.
“Tewasnya Alfredo Rainado akan menghilangkan ganggu-an keamanan bagi Timor Leste
dan diharapkan akan ada kemajuan yang lebih baik dalam jangka panjang. Kita menyambut baik tewasnya Alfredo,” kata dosen senior Universitas Nasional Australia (ANU), Dr George Quinn, Selasa (12/02).
“Namun dalam jangka pen-dek, bisa saja instabilitas se-perti keonaran di jalan-jalan masih bisa terjadi menyusul tewasnya Alfredo,” katanya. Ketua Pusat Asia Tenggara Fakultas Studi-Studi Asia ANU itu mengatakan, selama ini Alfredo didukung oleh kelom-pok warga Timor Leste yang menganggur dan tidak menda-patkan perhatian dari pemerin-tahan yang lama mau pun pe-merintahan yang kini berkuasa.
“Dengan tewasnya Alfredo, posisi golongan ketiga ini menjadi lebih lemah,” kata akademisi yang sudah tiga kali mengunjungi Timor Leste sepanjang 2006 dan 2007 itu. Ia mengatakan, masalah yang tidak kalah peliknya adalah hubungan antara dua kekua-tan politik utama di Timor Leste, yakni Partai Fretilin yang kini menjadi oposisi di parle-men dan aliansi partai politik-partai politik pimpinan Perdana Menteri Xanana Gusmao yang mendapat dukungan luas rakyat dan cendekiawan.
Kedua kekuatan politik uta-ma Timor Leste ini sedikit ba-nyak memiliki basis pendu-kung di ujung barat dan timur wilayah negara kecil.
Selain itu, puluhan ribu orang masih tinggal di barak-barak pengungsian setelah pecah pertikaian berdarah tahun 2006 yang memaksa 155 ribu orang meninggalkan rumah-rumah mereka.
“Saya tiga kali ke Dili se-panjang tahun 2006 dan 2007. Saya keluar masuk barak-barak pengungsian yang banyak dijumpai di Kota Dili, termasuk di depan Bandar Udara Internasional Dili,” ka-tanya.
Masalah pengungsi ini meru-pakan persoalan yang harus segera dapat diselesaikan Pemerintah Timor Leste, kata George Quinn yang juga dike-nal luas kalangan akademisi studi-studi Asia sebagai In-donesianis produktif ini.
Pada bagian lain, Pemerin-tah Timor Leste memberla-kukan keadaan darurat di negeri itu, menyusul penem-bakan terhadap Presiden Jose Ramos Horta. Keadaan daru-rat itu diumumkan oleh Pjs Presiden Vicente Gutterres dalam pidatonya yang di-siarkan televisi nasional seperti dilansir harian The Age, Selasa (12/02).
Keadaan darurat akan ber-laku selama dua hari. “Negara kita saat ini dalam situasi yang luar biasa, status keadaan darurat akan membawa kita kembali ke keadaan normal,” kata Gutterres dalam pidato-nya. “Saya minta bantuan ka-lian semua,” imbuhnya. De-ngan keadaan darurat ini, otoritas bisa melarang demon-strasi dan memberikan ke-kuasaan lebih bagi kepolisian untuk menangkap atau pun melakukan penggeledahan.
Sedangka Presiden Timor Leste Ramos Horta dikabarkan dalam kondisi yang stabil sete-lah menjalani operasi peng-angkatan peluru. Meski demi-kian luka akibat percobaan pembunuhan itu tergolong serius. Kepada AFP, GM RS Royal Darwin Len Notaras me-nyatakan Ramos Horta menja-lani operasi selama 2,5 jam dan saat ini dalam kondisi yang baik untuk menghadapi ope-rasi yang kedua dalam 24 jam.
“Tiga operasi telah dilaku-kan terhadap luka tembak aki-bat insiden tersebut. Operasi berjalan baik dan Presiden Ramos Horta dalam kondisi stabil,” tutur Notaras.(klc/*)
|
|