|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Ekonomi dan Bisnis |
13 Februari 2008
|
|
Sualang: Sulut Tolak Impor Cengkih
|
Rencana Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) untuk membantu para petani, dengan cara membuka keran impor cengkih, dipandang kurang menguntungkan oleh Pemerintah Propinsi Sulut. Bahkan dinilai hal itu akan merugikan petani cengkih di Sulut.
Hal tersebut terkuak dalam acara Rakor Disperindag di Gran Puri Hotel, Selasa (12/02) kemarin. Wagub Sulut, Freddy H Sualang ketika dicegat se-jumlah wartawan menjelaskan, permintaan impor cengkih oleh Gappari tidak akan disetujui Pemerintah Sulut.
“Kami tetap memegang ko-mitmen untuk tidak mengim-por cengkih, pasalnya mutu komoditi cengkih Sulut lebih dikenal dibanding negara lain. Masa kita harus impor cengkih segala,” tukasnya, seraya me-nambahkan, kalau impor ceng-kih dilakukan maka harga cengkih juga dipastikan turun.
Kalangan petani di Minahasa, justru berharap cengkih bisa diekspor dengan harga jual yang menjanjikan. Apalagi bila musim panen, stok cengkih di Sulut cukup banyak, dan har-ganya sering dipermainkan oleh pabrik rokok. “Kalau har-ga ekspor cengkih cukup tinggi dibandingkan di dalam negeri, pemerintah sebaiknya mem-bantu petani mencarikan im-portir dari luar negeri. Dengan harapan harga cengkih bisa membantu petani cengkih di Minahasa,” ujar Drs Jan Rein Tumilaar MSi, warga Sonder.
Seperti diketahui sebelum-nya, Gappri getol dengan ren-cana mereka untuk melakukan impor cengkih dari negara luar. Bahkan menurut ketua umum Gappri Ismanu Soemiran saat ini pihaknya telah memiliki izin impor tinggal menunggu reko-mendasi dari impor dari per-dagangan. Namun belakangan rencana tersebut tak disetujui oleh para petani cengkih yang ada di Sulut, sehingga Peme-rintah Propinsi menolak renca-na tersebut.(wel)
|
|