|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Kota Manado dan Sekitarnya |
14 Februari 2008
|
|
Fogging Terkesan Asal Bapak Senang
|
Fogging atau pengasapan untuk membunuh nyamuk aedes aegepty penular penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sering dilakukan Dinas Kesehatan, baik propinsi maupun Kota Manado dianggap hanya untuk prinsip Asal Bapak Senang.
“Kita melihat fogging tidak efektif sebab hanya untuk me-nyenangkan walikota atau war-ga, sementara tidak bisa me-nyelesaikan persoalan yang ada untuk menurunkan kasus DBD di Manado,” tukas dr Frans Wa-langitan, anggota Komisi D De-wan Kota (Dekot) Manado.
Dijelaskannya, agar fogging bisa memutus mata rantai pe-nularan DBD, maka harus di-lakukan dua kali dalam jangka waktu tujuh hari sesudah fog-ging pertama dilaksanakan. “Sebab masa nyamuk berkem-bang biak sangat cepat, hanya tujuh hari sehingga memang perlu ada fogging susulan. Ka-lau cuma satu kali tidak ada gunanya, malahan akan me-nyebabkan nyamuk lebih re-sisten dengan insektisida yang digunakan,” tandasnya.
Di sisi lain, Walangitan meni-lai pemberantasan nyamuk ini tidak bisa sepenuhnya terlak-sana jika hanya dengan fog-ging, tapi harus dengan Pem-berantasan Sarang Nyamuk (PSN) Menguras, Menutup, Me-nimbun (3M).
Malah menurutnya, fogging bisa membawa efek negatif bagi lingkungan maupun kesehatan warga itu sendiri dengan polusi udara maupun racun yang terkandung di dalamnya yang bisa masuk ke makanan.
Gerakan PSN dan 3M itu sen-diri menurut penilaiannya, bi-sa berhasil jika didukung oleh semua pihak dan bukan hanya Dinkes selaku instansi teknis. “Di sinilah peran masyarakat itu harus diberikan karena ini juga untuk kepentingan kese-hatan bersama,” tukasnya sembari mengungkap bahwa tidak ada anggaran yang di-alokasikan untuk sosialisasi PSN tersebut.(gra)
|
|