|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
14 Februari 2008
|
|
Pers Hati Nurani(1)
Oleh: Novel Ali
|
Pengaruh globalisasi dan kapitalisme memacu euphoria publik di berbagai pelosok bumi kita. Salah satu dampaknya yang paling nyata adalah perubahan kinerja media massa, dalam berbagai kelebihan dan kekurangan yang bersifat khas.
Sebagai produk manusia, sajian pers tentu tidak sem-purna. Sayangnya, terpaan globalisasi dan kapitalisme berhasil mewujudkan kesen-jangan komunikasi antara pengelola lembaga media dengan berbagai pemangku kepentingannya (stakehold-ers).
Kondisi kejiwaan labil yang dimunculkan oleh kesenja-ngan komunikasi tersebut, apalagi di tengah persaingan media massa yang sedemikian ketat, mengakibatkan nikmat kemerdekaan pers (freedom of the press) mustahil dapat di-rasakan bersama dan dalam mindset yang sama, antara pemilik modal lembaga media dan pengelola pers di satu sisi, serta publik media (konsumen pers) di sisi lain.
Di sinilah mutlak pentingnya sajian pers yang dilandasi se-mangat untuk membangun human dignity (kemuliaan ma-nusia). Sebab, mustahil se-buah lembaga media massa dapat tetap eksis di tengah ko-munitasnya yang kecil, se-dang, atau besar jika produk pengelolaannya tidak benar-benar dapat diterima masya-rakat.
Model akseptasi publik se-bagai prasyarat awal akun-tabilitas media massa itu perlu senantiasa diprioritaskan se-luruh pemilik modal dan pe-ngelola lembaga pers, jika di-ingat pers bukanlah produk mesin teknologi tanpa landa-san nilai-nilai kemanusiaan.
Untuk itu, pers tidak boleh selalu tampil seragam, dalam arti ordinary (tidak ada ke-lainan) atas model-model ke-biasaan di lingkungannya. An-tara lain budaya, tradisi, si-kap, dan lain-lain sejenis, khususnya yang berlaku di berbagai segmen publik yang dilayaninya.
Sebaliknya, pers memang se-lalu perlu tampil dalam penye-suaiannya dengan pasang su-rut perubahan sosial di ling-kungannya. Ini disebabkan so-cial change itu sendiri haki-katnya adalah produk ma-nusia.
Oleh karena itu, pers harus tampil di atas landasan hati nurani. Pengelolaan pers yang mengesampingkan peran hati nurani dapat dengan gam-pangnya menyingkirkan fung-si pemenuhan rasa ingin tahu manusia.
Padahal, pemenuhan tun-tutan manusia yang satu itu, terutama di abad modern, hampir bisa dipastikan sangat bergantung kepada ‘penguasa informasi publik’.
Pihak yang disebut terakhir (umumnya) berada di kutub kebudayaan lain, jauh dari inti ajaran serta nilai-nilai ke-baikan, yang diwariskan lelu-hur budaya kita, di Indonesia.
Segenap pengelola lembaga media massa di negeri ini tidak seharusnya menepis perlunya landasan hati nurani dalam setiap produk pers.
Tuntutan itu wajar, bahkan mutlak perlu dipenuhi, karena kinerja pers terbangun di atas landasan pragmatis, bukan sekadar landasan teori.
Konsekuensinya, sajian pers tidak boleh berandai-andai. Sajian pers harus bersifat kon-kret, kendati nilai-nilai prag-matisme konkretnya itu sen-diri bukan mustahil akan da-pat menimbulkan resiko so-sial, politik, ekonomi, kebuda-yaan, dan berbagai bentuk ke-resahan sosial.
Namun, pers tidak boleh ber-sikap acuh terhadap semua itu. Pers bukannya tidak ber-tanggung jawab atas insta-bilitas sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, keamanan, ke-tertiban umum, dan lain-lain di lingkungannya, tetapi tang-gung jawab sosial pers itu sendiri menjadi haram hu-kumnya, jika kepedulian me-dia dimaksud dapat meng-akibatkan instabilitas profesi jurnalistik.
Ini berarti, tanggung jawab sosial (social responsibility of the press ), yang mutlak ha-rus ditegakkan oleh setiap pe-ngelola lembaga media di In-donesia khususnya, tidak se-yogyanya menutup akses di-namika profesi dan fungsi pers. Apa dan bagaimanapun intensitas dan ekstensitas tuntutan pertanggungjawab-an pers di satu sisi dan ma-raknya tuntutan kemerdeka-an pers di sisi lain, keduanya sama-sama tidak boleh me-niadakan kinerja pers berhati nurani, yaitu pers yang di-bangun di atas landasan pe-ngabdian kemanusiaan da-lam setiap bentuk sajian me-dia massa.(bersambung)
|
|