HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

15 Februari 2008

WNI dijadikan paramiliter di Malaysia
Kostrad Siap Dikerahkan ke Perbatasan 


DIPEROLEH kabar sejumlah WNI yang mendiami daerah perbatasan telah direkrut Las-kar Wataniyah. Para WNI itu di-jadikan paramiliter di Malaysia. Mendengar informasi ini, Pa-sukan Komando Strategi Ang-katan Darat (Kostrad), siap me-ngerahakan pasukan untuk me-ngamankan wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia dari anca-man gerakan Laskar Wataniyah. Namun semua itu tergantung ke-putusan politik pemerintah.
“Kostrad memiliki salah satu divisi yang siap dikerahkan apa-bila diperlukan untuk menam-bah kekuatan di sepanjang perbatasan RI-Malaysia,” ujar Pangkostrad, Letjen TNI Geor-ge Toisutta, saat menjawab pertanyaan wartawan seputar peningkatan kekuatan yang 
terjadi di perbatasan, Kamis (14/02).
Kendati demikian, George mengaku tidak bisa seenaknya mengerahkan pasukan tanpa perintah dari pusat, yang ten-tunya harus berdasarkan lang-kah-langkah yang matang. Se-babnya, kostrad akan melaksa-nakan perintah tersebut setelah ada keputusan politik dari ke-dua belah pihak. “Intinya kita selalu siap, semua tergantung pada keputusan politik peme-rintah, kapan kostrad akan memperkuat wilayah perbata-san Indonesia dengan Malay-sia,” jelasnya.
REKRUT
Rekrutmen WNI sebagai Las-kar Wataniyah jika hanya untuk satpam, sebetulnya oke-oke saja. Tapi itu tetap harus seizin pemerintah RI. Nah, yang dikhawatirkan jika tujuannya untuk melawan negara sendiri. “Tujuannya harus ditanyakan, apa untuk melakukan penga-manan bersama di perbatasan, jadi satpam atau untuk tujuan yang konteksnya tidak bersa-habat sehingga mengganggu hu-bungan kedua negara,” tegas Gu-ru Besar Hukum Internasional UI, Prof Dr Hikmahanto Juwana. 
Jika tujuan rekrutmen WNI oleh Malaysia supaya laskar itu melawan negaranya sendiri, secara hukum internasional, jelas tidak diperbolehkan. “Tapi jika untuk sama-sama jaga perbatasan boleh saja,” ka-tanya. Namun yang menjadi persoalan, rekrutmen itu di-lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan pemerin-tah Indonesia.
Sementara Menteri Pertaha-nan Juwono Sudarsono menga-takan, pemerintah akan mena-ngani secara serius masalah WNI yang jadi paramiliter di Ma-laysia. Diduga, mereka adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di perbatasan yang sedang meng-anggur. “Pemerintah akan me-nangani dengan serius masalah ini. Dalam waktu dekat akan di-lakukan rapat gabungan antara Kementerian Polhukham dan Kementerian Perekonomian untuk membahas masalah ini,” kata Juwono.
Menurut Juwono, kemungki-nan adanya paramiliter atau warga negara Indonesia yang menjadi tentara Malaysia di daerah perbatasan adalah te-naga kerja Indonesia yang tinggal di perbatasan. Mereka (TKI) tidak punya pekerjaan dan ada tawaran dari Malaysia untuk menjadi tentara. “Akhirnya tawa-ran itu diterima. Jadi penyebab-nya adalah karena tidak ada kesempatan kerja di Malaysia. Jadi sifatnya TKI berseragam tentara,” jelasnya. Ketika ditanya berapa jumlah persis TKI yang dijadikan paramiliter oleh Ma-laysia tersebut. Juwono menga-ku tidak tahu jumlahnya. 
Sedangkan sumber pejabat TNI di Tanjungpura, Mayjen Tono Suratman membantah adanya WNI yang direkrut Laksar Wa-taniyah. ‘’Kami telah melakukan recheck bersama dengan pihak terkait yakni kantor imigrasi dan pejabat Malaysia. Dan kami tidak mendapatkan ada-nya WNI yang direkrut men-jadi anggota Laskar Watani-yah,’’ katanya.(mdc/dtc/art) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin